18, 2026
Nasional

48 Bandara Terdampak Kabut Asap Karhutla, 2.458 Penerbangan Terganggu hingga Oktober 2026

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/17/6ad2eed60651e-ilustrasi-penggunaan-dry-ice-untuk-urai-asap-karhutla_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Lestari Purnama
Lestari Purnama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

48 Bandara Terdampak Kabut Asap Karhutla, 2.458 Penerbangan Terganggu hingga Oktober 2026

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi tantangan besar bagi industri penerbangan di Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa hingga Oktober 2026, sebanyak 48 bandara di seluruh Indonesia terdampak oleh kondisi cuaca buruk ini, dengan 2.458 penerbangan mengalami gangguan. Angka ini menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap transportasi udara bukanlah masalah sesaat, melainkan masalah struktural yang memerlukan solusi jangka panjang.

Dampak Luas pada Operasional Penerbangan

Dampak kabut asap terhadap operasional penerbangan telah terjadi secara bertahap sejak beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mempengaruhi efisiensi dan keamanan penerbangan, sehingga pihak berwenang seringkali harus menunda atau membatalkan penerbangan. Menurut data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, gangguan penerbangan akibat kabut asap mencapai puncaknya pada musim kemarau, ketika kebakaran hutan dan lahan meningkat drastis di wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Kabut asap yang tebal mengurangi jarak pandang (visibility) pesawat, kondisi yang sangat kritis untuk operasional penerbangan. Standar operasional normal membutuhkan jarak pandang minimal sekitar 1.500-2.000 meter untuk pendaratan dan lepas landang, tergantung pada jenis pesawat dan bandara. Namun, pada kondisi kabut asak parah, jarak pandang bisa turun drastis hingga di bawah 500 meter, bahkan seringkali di bawah 100 meter, yang membuat operasional penerbangan menjadi sangat berisiko.

Upaya Mitigasi yang Dilakukan

Respons terhadap masalah ini telah berbagai pihak lakukan. Pemerintah, bersama dengan perusahaan penerbangan dan otoritas bandara, telah mengimplementasikan berbagai strategi untuk mengurangi dampak. Salah satu upaya yang sedang dikembangkan adalah penggunaan dry ice (es kering) untuk mengurai kabut asak di sekitar bandara. Teknik ini telah diuji coba di beberapa bandara dengan hasil yang cukup signifikan dalam meningkatkan jarak pandang sementara.

Selain itu, penerapan sistem peringatan dini (early warning system) juga ditingkatkan. Sistem ini menggunakan data satelit dan sensor cuaca untuk memantau pola kabut asap dan memberikan peringatan kepada pihak bandara serta maskapai untuk mempersiapkan skenario pengalihan penerbangan atau penundaan jika diperlukan. Kolaborasi antar daerah juga diperluas, terutama antara provinsi yang rentan karhutla dengan daerah tujuan penerbangan.

Dampak Ekonomi dan Logistik

Gangguan penerbangan akibat kabut asak tidak hanya mempengaruhi para penumpang, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Menurut perkiraan, kerugian ekonomi akibat penundaan dan pembatalan penerbangan mencapai miliaran rupiah setiap tahun. Sektor pariwisata menjadi salah satu yang paling terdampak, mengingat banyak wisatawan yang terhambat untuk mencapai tujuan mereka, terutama di daerah dengan akses udara sebagai satu-satunya pilihan transportasi utama.

Dari sisi logistik, keterlambatan pengiriman barang juga meningkat, terutama untuk barang-barang yang membutuhkan waktu tepat seperti produk-produk segar, obat-obatan, dan komponen industri. Situasi ini mendorong sektor logistik untuk mengandalkan transportasi darat dan laut sebagai alternatif, meskipun seringkali dengan biaya yang lebih tinggi dan waktu yang lebih lama.

Strategi Jangka Panjang

Untuk mengatasi masalah ini secara menyeluruh, diperlukan strategi jangka panjang yang melibatkan berbagai pihak. Peningkatan koordinasi antarinstansi pemerintah, dari pusat hingga daerah, menjadi kunci utama dalam pencegahan dan penanganan karhutla. Upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan juga perlu ditingkatkan melalui edukasi dan kampanye yang terarah.

Di sisi lain, pengembangan infrastruktur bandara yang lebih tahan terhadap kondisi cuaca buruk juga dipertimbangkan. Beberapa bandara sedang direncanakan untuk dilengkapi dengan sistem navigasi canggih seperti Instrument Landing System (ILS) kategori III yang memungkinkan pesawat mendarat dengan jarak pandang minimal, bahkan dalam kondisi yang sangat buruk. Investasi dalam teknologi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada jarak pandang visual dan meningkatkan keandalan operasional penerbangan.

Industri penerbangan juga sedang mengembangkan rencana kontinjensi yang lebih komprehensif untuk menghadapi gangguan akibat karhutla. Rencana ini meliputi pengembangan rute alternatif, penjadwalan ulang penerbangan yang lebih fleksibel, serta peningkatan komunikasi dengan penumpang agar tetap terinformasi tentang perubahan jadwal. Dengan berbagai upaya ini, diharapkan dampak karhutla terhadap penerbangan dapat diminimalkan, meskipun solusi permanen masih memerlukan waktu dan komitmen yang lebih besar dari semua pihak terkait.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Purnama

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter