30, 2026
Olahraga

5 Klub Liga Inggris yang Pernah Habis-habisan di Bursa Transfer, tapi Tak Sesuai Ekspektasi

Andi Prasetyo
Andi Prasetyo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bursa transfer sering menjadi ajang bagi klub-klub Liga Inggris untuk menunjukkan ambisi besar. Belanja besar di jendela transfer dianggap sebagai jalan pintas menuju kesuksesan, entah itu gelar juara, finis di empat besar, atau sekadar bertahan di Premier League. Namun, sejarah mencatat sejumlah klub yang menggelontorkan dana fantastis justru gagal memenuhi ekspektasi. Alih-alih berprestasi, mereka terjebak dalam masalah finansial, performa buruk, hingga degradasi.

Fenomena ini bukan hal baru. Liga Inggris dikenal sebagai liga dengan belanja pemain tertinggi di dunia, tetapi tidak semua investasi berbuah manis. Berikut lima klub yang pernah habis-habisan di bursa transfer namun hasilnya jauh dari harapan.

Chelsea 2023/2024: Belanja Miliaran Poundsterling, Performa Tak Menentu

Chelsea menjadi contoh paling mencolok dalam beberapa musim terakhir. Setelah diambil alih konsorsium Todd Boehly pada 2022, klub London barat itu mengeluarkan dana lebih dari 1 miliar poundsterling untuk mendatangkan pemain-pemain mahal. Nama-nama seperti Enzo Fernandez, Moises Caicedo, Mykhailo Mudryk, hingga Romeo Lavia dibeli dengan harga selangit.

Namun, alih-alih bersaing di papan atas, Chelsea justru tampil inkonsisten. Pada musim 2022/2023, mereka finis di peringkat 12, posisi terburuk sejak era Premier League. Musim berikutnya juga tidak jauh lebih baik meski sempat menembus Eropa. Banyak pemain mahal yang gagal beradaptasi dengan kerasnya kompetisi Inggris, sementara pelatih silih berganti. Belanja besar tidak serta-merta membangun chemistry dan identitas tim.

Manchester United 2014/2015: Proyek Van Gaal yang Mahal

Setelah ditinggal Sir Alex Ferguson dan gagal bersama David Moyes, Manchester United menunjuk Louis van Gaal pada 2014. Sang manajer asal Belanda itu diberi dana besar untuk membangun ulang skuad. Angel Di Maria dibeli dengan harga sekitar 59,7 juta poundsterling, saat itu memecahkan rekor transfer Inggris. Ada pula Radamel Falcao yang datang dengan status pinjaman mahal, Luke Shaw, Ander Herrera, dan Daley Blind.

Hasilnya jauh dari kata memuaskan. Di Maria tampil angin-anginan dan pergi setelah satu musim. Falcao hanya mencetak empat gol di Premier League. United finis di peringkat empat pada musim pertamanya, lalu gagal lolos ke Liga Champions pada musim berikutnya. Van Gaal dipecat pada 2016 meski sempat menjuarai Piala FA. Total belanja ratusan juta poundsterling itu tidak mengembalikan dominasi United di Inggris.

Liverpool 2012/2013: Era Brendan Rodgers yang Boros

Liverpool di bawah Brendan Rodgers pernah mengeluarkan dana besar untuk mendatangkan sejumlah pemain pada musim 2012/2013. Nama-nama seperti Joe Allen, Fabio Borini, dan Oussama Assaidi didatangkan dengan total belanja puluhan juta poundsterling. Sayangnya, sebagian besar dari mereka gagal bersinar di Anfield.

Musim itu Liverpool hanya finis di peringkat tujuh Premier League. Borini dan Assaidi lebih banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan atau dipinjamkan ke klub lain. Meski Rodgers kemudian membawa Liverpool nyaris juara pada 2013/2014, investasi pada musim sebelumnya tetap dianggap sebagai pemborosan yang tidak sepadan.

Tottenham Hotspur 2019/2020: Belanja Besar Pasca Final Liga Champions

Setelah mencapai final Liga Champions 2019, Tottenham Hotspur di bawah Mauricio Pochettino mencoba memperkuat skuad dengan belanja besar. Tanguy Ndombele dibeli dengan harga rekor klub, sekitar 54 juta poundsterling. Ada pula Giovani Lo Celso dan Ryan Sessegnon yang didatangkan dengan biaya tidak sedikit.

Namun, integrasi pemain-pemain baru berjalan lambat. Ndombele kerap dikritik karena masalah kebugaran dan konsistensi. Pochettino dipecat pada November 2019 setelah awal musim yang buruk. Jose Mourinho yang menggantikannya juga kesulitan mengangkat performa tim. Tottenham akhirnya finis di peringkat enam dan gagal mengulang kejutan musim sebelumnya. Belanja besar itu tidak menghasilkan trofi yang diharapkan.

Everton 2017/2018: Ambisi Besar yang Berujung Kekecewaan

Everton menjadi salah satu klub yang paling agresif di bursa transfer 2017/2018. Setelah menjual Romelu Lukaku ke Manchester United, mereka membelanjakan dana besar untuk mendatangkan Gylfi Sigurdsson, Davy Klaassen, Jordan Pickford, Michael Keane, dan Sandro Ramirez. Total belanja mencapai lebih dari 140 juta poundsterling.

Sayangnya, proyek besar itu tidak berjalan mulus. Klaassen dan Sandro Ramirez gagal beradaptasi dan pergi setelah satu musim. Everton tampil inkonsisten, bahkan sempat berada di zona degradasi pada awal musim. Manajer Ronald Koeman dipecat pada Oktober 2017. Meski akhirnya finis di peringkat delapan, ekspektasi untuk menembus Eropa tidak tercapai. Belanja besar itu justru meninggalkan masalah finansial yang berkepanjangan bagi klub Merseyside tersebut.

Pelajaran dari Belanja Besar

Dari lima kasus di atas, terlihat bahwa belanja besar di bursa transfer tidak menjamin kesuksesan. Faktor seperti chemistry antarpemain, stabilitas kepelatihan, sistem permainan, dan adaptasi dengan kerasnya Premier League jauh lebih menentukan. Klub-klub yang gagal biasanya terlalu fokus pada nama besar tanpa mempertimbangkan kebutuhan taktis dan karakter pemain.

Selain itu, tekanan finansial jangka panjang juga sering menjadi bumerang. Everton, misalnya, harus menghadapi masalah aturan keuangan (Financial Fair Play) akibat belanja berlebihan. Chelsea harus menjual banyak pemain untuk menyeimbangkan neraca. Manchester United masih mencari identitas permainan hingga kini.

Pada akhirnya, bursa transfer hanyalah alat, bukan tujuan. Klub yang sukses biasanya adalah mereka yang belanjanya terencana, sesuai kebutuhan, dan didukung manajemen yang stabil. Tanpa itu, dana miliaran poundsterling hanya akan menjadi catatan mahal dalam sejarah kelam sebuah klub.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Andi Prasetyo

Kontributor bidang kebugaran dan olahraga. Menulis tips workout dan gaya hidup aktif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter