03, 2026
Internasional

66 Miliar Pohon Jadi Tembok Hijau China, Ada Fakta Mengejutkan

Selama lima dekade terakhir, China menanam 66 miliar pohon untuk membentuk dinding raksasa yang membentang di sepanjang gurun Gobi dan Taklamakan.]]>

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

66 Miliar Pohon Jadi Tembok Hijau China, Ada Fakta Mengejutkan

66 Miliar Pohon dan Tembok Hijau Raksasa China: Klaim Ambisius yang Menyimpan Kontroversi

China mengklaim telah menanam lebih dari 66 miliar pohon dalam empat dekade terakhir sebagai bagian dari program penghijauan terbesar dalam sejarah manusia. Angka itu menjadi tulang punggung narasi keberhasilan negara tersebut membangun apa yang sering disebut sebagai "Tembok Hijau Besar" atau Great Green Wall, sebuah proyek ambisius untuk membendung perluasan Gurun Gobi ke wilayah utara. Namun di balik angka yang mengesankan, sejumlah fakta mengejutkan mengungkap bahwa hasil sesungguhnya jauh lebih rumit daripada yang dipromosikan.

Sejarah Program Penghijauan Terbesar di Dunia

Program yang secara resmi dikenal sebagai Three-North Shelterbelt Program ini dimulai pada 1978 dan direncanakan berlangsung hingga 2050. Tujuannya adalah menanam pohon di sepanjang sabuk seluas sekitar 4.500 kilometer yang membentang melintasi 13 provinsi, dari Xinjiang di barat hingga Heilongjiang di timur laut. Pemerintah China menyatakan program ini telah menambah luas tutupan hutan nasional dari sekitar 12 persen pada awal 1980-an menjadi lebih dari 23 persen saat ini.

Angka 66 miliar pohon yang beredar luas berasal dari akumulasi laporan resmi selama beberapa dekade. Jika angka itu benar, artinya rata-rata lebih dari empat juta pohon ditanam setiap hari selama 40 tahun berturut-turut. Volume tersebut menjadikan program ini sebagai upaya penghijauan terbesar yang pernah dilakukan satu negara.

Fakta Mengejutkan di Balik Angka Penanaman

Sejumlah penelitian independen mengungkap bahwa tidak semua pohon yang ditanam benar-benar bertahan hidup. Tingkat kematian bibit di beberapa wilayah dilaporkan sangat tinggi, terutama di daerah kering dan semi-kering. Spesies pohon yang dipilih sering kali bukan tanaman asli setempat, sehingga sulit beradaptasi dengan kondisi tanah dan curah hujan yang minim.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional menunjukkan bahwa penanaman monokultur dalam skala besar justru dapat memperburuk kondisi ekologis. Pohon-pohon yang menyerap air dalam jumlah besar mengurangi ketersediaan air tanah, yang pada gilirannya merugikan vegetasi asli dan masyarakat setempat. Di beberapa area, praktik ini dikaitkan dengan penurunan muka air tanah dan penggurunan yang lebih parah, bukan sebaliknya.

Kritik lain menyoroti persoalan transparansi data. Angka keberhasilan sering kali dihitung berdasarkan jumlah bibit yang ditanam, bukan jumlah pohon yang tumbuh dewasa. Hal ini membuat klaim keberhasilan sulit diverifikasi secara independen.

Dampak Sosial dan Ekologis di Wilayah Sasaran

Program ini juga berdampak pada masyarakat lokal, khususnya komunitas penggembala dan petani di wilayah utara. Kebijakan larangan penggembalaan dan larangan menebang pohon memaksa sebagian warga mengubah mata pencaharian. Meski bertujuan mencegah degradasi lahan, kebijakan tersebut dalam beberapa kasus memicu konflik dengan penduduk yang bergantung pada lahan untuk bertahan hidup.

Selain itu, sejumlah laporan menyebut adanya praktik manipulasi data di tingkat daerah. Pemerintah lokal diduga melaporkan capaian penanaman yang lebih tinggi demi memenuhi target dan memperoleh insentif. Kasus semacam ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak selalu sejalan dengan angka resmi yang dipublikasikan.

Pelajaran bagi Upaya Restorasi Lingkungan Global

Terlepas dari kontroversinya, program Tembok Hijau China memberikan pelajaran penting bagi dunia. Pendekatan yang mengutamakan kuantitas tanpa memperhatikan kesesuaian ekologis terbukti tidak selalu efektif. Para ahli lingkungan menyarankan pendekatan berbasis ekosistem, dengan memilih spesies asli, melibatkan masyarakat lokal, serta memantau kelangsungan hidup pohon dalam jangka panjang.

Sejumlah negara di Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan telah mengadopsi model serupa untuk memerangi penggurunan. Pengalaman China menjadi rujukan sekaligus peringatan bahwa penghijauan skala besar bukan sekadar soal menanam sebanyak mungkin pohon, melainkan memastikan ekosistem yang ditanam mampu bertahan dan memberi manfaat berkelanjutan.

Hingga kini, program Tembok Hijau Besar masih berjalan. Pemerintah China menargetkan perluasan tutupan hutan hingga 2050. Namun pertanyaan mendasar tetap terbuka: seberapa besar keberhasilan sesungguhnya, dan berapa banyak dari 66 miliar pohon itu yang masih berdiri hari ini?

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter