30, 2026
Teknologi

ABG Ditemukan di Jakarta Timur Usai Hilang 5 Hari, Pengakuannya Bikin Pilu

Nadia Kusuma
Nadia Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Seorang anak baru gede (ABG) berinisial MAP (15) ditemukan dalam kondisi selamat setelah dilaporkan hilang selama lima hari. Remaja tersebut ditemukan di kawasan Jakarta Timur pada Rabu (23/10/2024) dini hari, mengakhiri pencarian yang melibatkan keluarga, warga, dan aparat kepolisian. Penemuan itu sendiri sempat menimbulkan tanda tanya karena MAP ditemukan bukan di lokasi yang semula diduga menjadi tempat persembunyiannya.

Menurut keterangan yang dihimpun dari pihak keluarga dan kepolisian, MAP terakhir terlihat meninggalkan rumahnya di kawasan Cakung, Jakarta Timur, pada Jumat (18/10/2024) sore. Ia pamit pergi sebentar ke warung dekat rumah. Namun hingga malam, remaja itu tak kunjung pulang. Pihak keluarga sempat mencari ke rumah teman-temannya, tetapi tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Laporan kehilangan resmi diajukan ke Polsek Cakung pada Sabtu (19/10/2024) setelah upaya pencarian mandiri selama lebih dari 24 jam tidak membuahkan hasil.

Selama lima hari hilang, sejumlah akun media sosial di lingkungan sekitar menyebarkan informasi mengenai ciri-ciri MAP. Warga turut membantu dengan menyisir sejumlah titik, mulai dari terminal, pasar, hingga kawasan permukiman padat. Polisi juga memeriksa sejumlah rekaman kamera pengawas di sekitar rumah korban untuk melacak jejak keberangkatannya.

Penemuan di Kawasan Jakarta Timur

MAP akhirnya ditemukan pada Rabu dini hari di sebuah halte bus di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Kondisinya lemas, pucat, dan tampak kelelahan. Ia langsung dibawa ke puskesmas terdekat untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum diserahkan kembali kepada keluarganya. Petugas medis menyatakan MAP mengalami dehidrasi ringan dan kekurangan asupan makanan, tetapi tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik.

Kapolsek Cakung, AKP Rudi Hartono, membenarkan penemuan tersebut. Menurutnya, MAP ditemukan oleh seorang petugas kebersihan yang curiga melihat remaja itu duduk sendirian di halte sejak pukul 02.00 WIB. Petugas tersebut kemudian menghubungi petugas keamanan setempat yang selanjutnya berkoordinasi dengan polisi.

“Benar, yang bersangkutan ditemukan dalam keadaan selamat. Saat ini kami masih mendalami keterangannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi selama lima hari itu,” ujar Rudi saat dihubungi, Rabu (23/10/2024).

Pengakuan yang Membuat Pilu

Dari hasil pemeriksaan awal, MAP mengaku pergi dari rumah bukan karena diculik atau menjadi korban kejahatan. Ia mengaku tidak kuat menahan tekanan batin setelah terlibat pertengkaran dengan orang tuanya. Remaja itu mengaku merasa tidak dianggap, sering dimarahi, dan merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita.

“Dia bilang cuma ingin pergi sebentar, tapi bingung mau ke mana. Akhirnya dia jalan kaki, naik angkot, dan tidur di musala serta halte. Selama itu dia cuma makan seadanya dari uang yang dibawa,” kata Rudi menirukan keterangan MAP.

Pengakuan itu membuat keluarga MAP terpukul. Bibi korban, Siti Rohmah, mengatakan pihak keluarga tidak menyangka MAP nekat pergi hanya karena masalah komunikasi di rumah. Menurut Siti, selama ini MAP dikenal sebagai anak pendiam yang jarang mengeluh.

“Kami sekeluarga minta maaf kalau selama ini dia merasa tidak nyaman di rumah. Yang penting sekarang dia sudah ketemu dan sehat,” katanya sambil menahan tangis.

Dorongan untuk Pendampingan Psikologis

Kasus MAP menambah daftar panjang anak-anak yang memilih meninggalkan rumah akibat persoalan keluarga. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak remaja. Masa remaja dikenal sebagai fase pencarian identitas, sehingga konflik kecil dapat berkembang menjadi tekanan psikologis yang berat jika tidak ditangani dengan baik.

Psikolog anak dari Universitas Indonesia, dr. Ratna Kusuma, M.Psi., menilai apa yang dialami MAP merupakan sinyal bahwa anak merasa tidak aman secara emosional di rumah. Menurutnya, remaja yang merasa tidak didengar cenderung menarik diri atau mengambil keputusan impulsif, termasuk pergi dari rumah.

“Anak yang pergi dari rumah biasanya bukan karena tidak sayang kepada keluarga, tetapi karena merasa tidak punya ruang untuk didengarkan. Ini yang perlu menjadi perhatian orang tua,” ujar Ratna saat dihubungi terpisah.

Ia menyarankan agar keluarga MAP menjalani pendampingan psikologis bersama. Pemerintah daerah melalui puskesmas dan Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) juga dapat dilibatkan untuk memberikan konseling keluarga.

Pelajaran bagi Keluarga dan Lingkungan

Hingga berita ini diturunkan, MAP masih menjalani pemulihan di rumahnya. Polisi menyatakan tidak menemukan unsur pidana dalam peristiwa ini dan menyerahkan penanganan lebih lanjut kepada keluarga serta dinas terkait. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kehilangan anak selama beberapa hari bukan sekadar persoalan hilang dan ditemukan, melainkan persoalan relasi di dalam keluarga yang perlu dibenahi.

Peran lingkungan juga dinilai penting. Tetangga, guru, dan teman sebaya dapat menjadi jaring pengaman pertama ketika seorang anak menunjukkan tanda-tanda tekanan emosional. Kepekaan terhadap perubahan perilaku anak, seperti menarik diri, murung, atau sering menghilang tanpa kabar, dapat mencegah kejadian serupa terulang.

Keluarga MAP berharap publik tidak memperbesar kasus ini dan memberi ruang bagi anak mereka untuk pulih. Mereka juga berterima kasih kepada warga dan aparat yang telah membantu pencarian selama lima hari. Bagi banyak pihak, kisah MAP menjadi cermin bahwa persoalan remaja sering kali berakar pada hal-hal kecil di rumah yang tidak pernah dibicarakan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Kusuma

Fokus pada kesehatan anak, imunisasi, dan tumbuh kembang.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter