30, 2026
Olahraga

Abu Anak Krakatau Sampai ke Bundaran HI, Warga Olahraga Pakai Masker

Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mencapai Bundaran HI, Jakarta. Warga mengenakan masker saat beraktivitas di CFD. Udara terasa tidak segar.]]>

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Abu Anak Krakatau Sampai ke Bundaran HI, Warga Olahraga Pakai Masker

Abu Anak Krakatau Sampai ke Bundaran HI, Warga Olahraga Pakai Masker

Abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau terdeteksi hingga wilayah Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Partikel debu yang menyelimuti udara membuat sejumlah warga terpaksa menggunakan masker saat melakukan aktivitas di luar ruangan, termasuk olahraga pagi.

Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), partikel debu vulkanik dari Anak Krakatau telah menyebar hingga wilayah Jakarta pada Selasa (19/11) pagi. Konsentrasi debu di udara terukur mencapai 423 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang batas standar yaitu 150 mikrogram per meter kubik.

Dampab Abu Vulkanik di Jakarta

Dampak dari penyebaran abu vulkanik ini terasa nyata di beberapa wilayah Jakarta. Warga yang biasa berolahraga di luar ruangan seperti di Bundaran HI, Lapangan Menteng, dan Monas terlihat menggunakan masker medis atau kain penutup wajah. Beberapa pengendara sepeda motor juga terpaksi memakai masker untuk menghindari napas terkena partikel debu.

"Tadi pagi bersepeda di sekitar Bundaran HI, udaranya agak pekat dan terasa ada debu yang menempel di wajah. Makanya saya pakai masker," ujar Budi, seorang pegawai swasta yang rutin bersepeda pagi.

Sementara itu, di kawasan Menteng, sejumlah warga yang biasa jogging di Taman Menteng terlihat mengurangi aktivitas di luar ruangan. "Biasnya saya jogging di sini setiap pagi, tapi hari ini karena udaranya agak keruh, saya putuskan untuk olahraga di rumah saja," kata Rina, warga setempat.

Tanggapan Pemerintah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengimbau warga untuk mengantisipasi dampak dari penyebaran abu vulkanik. Gubernur Anies Baswedan melalui Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, meminta warga untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang mengalami gangguan pernafasan.

"Kami imbau warga yang memiliki riwayat penyakit asma, alergi, atau gangguan pernafasan lainnya untuk menghindari aktivitas di luar ruangan. Bagi yang harus keluar, disarankan untuk menggunakan masker kain atau masker medis," jelas Widyastuti.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta juga telah melakukan pemantauan kualitas udara di beberapa titik. Hasilnya menunjukkan bahwa partikel PM10 (partikel berukuran 10 mikrometer atau lebih kecil) mengalami peningkatan signifikan di beberapa wilayah.

"Kami telah menyiapkan 20 unit stasiun pemantauan kualitas udara yang tersebar di Jakarta. Saat ini, kami sedang melakukan pemantauan intensif untuk melacak perkembangan kondisi udara," ujar Kepala DLH DKI Jakarta, Aries Sandyanto.

Penyebab dan Perkembangan Letusan

Abu vulkanik yang menyebar hingga Jakarta berasal dari serangkaian letusan Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak beberapa hari terakhir. Menurut PVMBG, letusan terbesar terjadi pada Senin (18/11) malam dengan ketinggian kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak gunung.

"Anak Krakatau masih dalam kondisi aktif dan berpotensi mengalami letusan kembali. Kami terus memantau aktivitas gunung tersebut," kata juru bicara PVMBG, Abdul Muhari.

Letusan Anak Krakatau juga telah memicu peringatan dini potensi tsunami untuk wilayah pesisir Banten dan Lampung. Warga di wilayah tersebut diminta tetap waspada dan mematuhi instruksi dari pemerintah setempat.

Upaya Mitigasi

Untuk mengatasi dampak abu vulkanik, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan 10.000 masker medis yang akan disalurkan kepada warga di wilayah terdampak. Selain itu, pemerintah juga telah mempersiapkan rumah sakit darurat di beberapa kawasan untuk menangani pasien yang mengalami gangguan kesehatan akibat debu vulkanik.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, menambahkan bahwa tim kesehatan siap untuk melakukan pemantauan kesehatan masyarakat terkait dampab abu vulkanik. "Tim kesehatan akan melakukan pemantauan di puskesmas dan posko kesehatan untuk mendeteksi dini adanya peningkatan kasus gangguan pernafasan," jelasnya.

Sementara itu, BMKG memprediksi bahwa penyebaran abu vulkanik akan terus berlanjut dalam beberapa hari kecuali terjadi perubahan arah angin. Warga diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari BMKG dan pemerintah setempat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter