15, 2026
Nasional

Ada Gas Hidrogen Sianida di Balik Asap Karhutla Gambut, Apa Dampaknya?

Asap kebakaran hutan dan lahan bukan hanya terdiri dari partikel halus yang mencemari udara, tetaip juga dapat melepaskan gas beracun hidrogen sianida (HCN).]]>

Dian Simanjuntak
Dian Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ada Gas Hidrogen Sianida di Balik Asap Karhutla Gambut, Apa Dampaknya?

Gas Hidrogen Sianida Terdeteksi di Asap Karhutla Gambut, Ancaman Kesehatan Meningkat

Peneliti dari Universitas Negeri Banjarmasin (UNBAN) menemukan adanya gas hidrogen sianida (HCN) dalam asap karhutla gambut yang melanda beberapa provinsi di Kalimantan. Temuan ini menambah daftar bahaya kimia yang dihasilkan dari kebakaran lahan dan hutan (karhutla), terutama di lahan gambut yang kaya akan karbon.

Dr. Ahmad Fauzi, kepala tim peneliti dari UNBAN, menjelaskan bahwa hidrogen sianida merupakan senyawa kimia beracun yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. "Gas ini terbentuk dari pembakaran tidak sempurna bahan organik, terutama di lahan gambut yang memiliki kandungan air tanah tinggi," ujar Fauzi dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan kemarin.

Mekanisme Pembentukan Hidrogen Sianida di Lahan Gambut

Kebakaran lahan gambut memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari kebakaran hutan pada umumnya. Gambut, yang terdiri dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi selatusan tahun, memiliki kandungan karbon sangat tinggi dan struktur yang padat. Ketika terjadi kebakaran, suhu di dalam gambat dapat mencapai 1.000 derajat Celsius di lapisan terdalam.

Suhu ekstrem ini menyebabkan proses pirolisis terjadi, di mana bahan organik terdekomposisi tanpa oksigen dan menghasilkan berbagai senyawa kimia berbahaya. Salah satu produk samping dari proses ini adalah hidrogen sianida. "Kondisi gambat yang basah juga memainkan peran penting. Air dalam gambat bercampur dengan senyawa nitrogen dari tumbuhan yang terbakar, membentuk hidrogen sianida," tambah Fauzi.

Dampak Kesehatan Hidrogen Sianida bagi Manusia

Hidrogen sianida adalah gas tak berwarna dengan aroma seperti almond pahit, meskipun tidak semua orang dapat mengenalinya. Gas ini bekerja dengan menghambat enzim sitokrom c oksidase dalam sel, yang berperan penting dalam proses respirasi seluler. Efeknya serupa dengan keracunan sianida klasik.

Ekspos jangka pendek terhadap konsentrasi tinggi hidrogen sianida dapat menyebabkan gejaj seperti sakit kepala, pusing, mual, sesak napas, dan kebingungan. Pajangka panjang, paparan berulang dapat mengakibatkan masalah neurologis kronis, kerusakan organ vital, dan meningkatkan risiko kanker.

"Anak-anak, lansia, dan mereka yang sudah menderita penyakit paru-paru seperti asma dan bronkitis merupakan kelompok rentan terhadap dampak hidrogen sianida. Paparan ringan saja bisa memperburuk kondisi mereka," jelas dr. Ratna Sari, spesisi paru-paru dari RSUD Ulin Banjarmasin.

Dampak Lingkungan dan Ekosistem

Selain dampak langsung terhadap kesehatan manusia, keberadaan hidrogen sianida dalam asap karhutla juga berpengaruh terhadap ekosistem. Gas ini bersifat korosif dan dapat merusak struktur tanaman, terutama daun yang merupakan organ utama untuk fotosintesis.

Penelitian lapangan menunjukkan bahwa area yang terkena dampak karhutla dengan tingkat hidrogen sianida tinggi mengalami regenerasi vegetasi yang lebih lambat. "Hidrogen sianida tidak hanya membunuh vegetasi secara langsung, tetapi juga mengganggu proses fotosintesis dan fotosintesis pada tumbuhan yang selamat," kata Dr. Budi Santoso, ahli botani dari LIPI.

Upaya Pencegahan dan Mitigasi

Pemerintah daerah dan pusat telah berupaya berbagai cara untuk mengatasi masalah karhutla, termasuk penyiraman, pembukaan kanal, dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Namun, temuan adanya hidrogen sianida membutuhkan pendekatan tambahan dalam mitigasi dampak kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, dr. H. Mulyadi, mengatakan pihaknya akan memperketas pengawasan kualitas udara, terutama selama musim kemarau. "Kami akan menambah jumlah stasiun pemantau kualitas udara dan meningkatkan peringatan dini jika tingkat polutan termasuk hidrogen sianida mencapai ambang batas," jelasnya.

Untuk masyarakat, pihak kesehatan menyarankan untuk menggunakan masker N95 atau KN95 saat aktivitas di luar ruangan selama kondisi asap tebal. Selain itu, disarankan juga untuk mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C dan E untuk membantu memperkuat sistem imun menghadapi dampak polutan.

Temuan adanya hidrogen sianida dalam asap karhutla menyoroti kompleksitas masalah kebakaran lahan di Indonesia, terutama di lahan gambut. Upaya pemulihan ekosistem gambat yang komprehensif menjadi kunci jangka panjang untuk mencegah terulangnya bencana karhutla dan dampak kesehatannya di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Simanjuntak

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter