02, 2026
Nasional

Alas Roban Batang Kebakaran, Diduga Ulah Pembalak Liar

Kebakaran terjadi di Alas Roban Kabupaten Batang, Jawa Tengah, hingga menghanguskan 3 hektare hutan. Kebakaran itu diduga disengaja.]]>

Anisa Permata
Anisa Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Alas Roban Batang Kebakaran, Diduga Ulah Pembalak Liar

Alas Roban Batang Kebakaran, Diduga Ulah Pembalak Liar

Api liar kembali menggerus hutan lindung di wilayah Indonesia. Kali ini, kabar duka datang dari Alas Roban Batang yang terletak di wilayah perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kebakaran hutan yang terjadi selama tiga hari terakhir menghanguskan puluhan hektare area konservasi yang menjadi habitat berbagai flora dan fauna langka. Diduga, api ini sengaja dibangunkan oleh oknum pembalak liar yang ingin mengambil keuntungan dari situasi.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Budi Santoso, mengatakan bahwa timnya sudah melakukan penanganan sejak dua hari lalu. "Api pertama kali terlihat pada Rabu dini hari di sekitar pukul 02.00 WIB. Karena lokasinya yang sulit dijangkau, tim kesultanan kesulitan untuk segera menyelamatkan area tersebut," terang Budi dalam konferensi pers yang digunakan secara virtual, Kamis (15/9).

Menurut Budi, kondisi cuaca yang panas dan kering di tengah musim kemarau menjadi pemicu utama menyebarnya api. "Angin kencang dari arah timur juga membuat api dengan cepat menjalar ke arah barat daya yang merupakan area hutan lebat," tambahnya. Hingga Kamis siang, api belum berhasil dikendalikan sepenuhnya meskipun sudah dikerahkan puluhan personel dari BKSDA, pemadam kebakaran, serta masyarakat setempat.

Dampak bagi Ekosistem Lokal

Kebakaran di Alas Roban Batang memberikan dampak serius bagi ekosistem lokal. Area yang terbakar dikenal sebagai habitat bagi beberapa spesies langka seperti burung kutilang jawa (Pycnonotus simplex), trenggiling (Manis javanica), dan berbagai jenis tumbuhan obat tradisional. "Kehilangan habitat ini tidak dapat diukur dalam jangka pendek. Butuh puluhan tahun bagi hutan untuk pulih kembali seperti semula," ujar Dr. Siti Rahayu, seorang ekolog dari Universitas Gadjah Mada yang turut terlibat dalam penanganan kebakaran.

Sementara itu, kabar buruk datang dari survei udara yang dilakukan oleh tim BPBD Kabupaten Pekalongan. "Dari hasil pantauan, luas area terbakar mencapai sekitar 75 hektare. Mayoritas area tersebut adalah hutan lindung dengan ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut," jelas Kepala BPDB Kabupaten Pekalongan, Ahmad Fauzi.

Tim penyelamat menghadapi beberapa kesulitan dalam penanganan kebakaran. Selain akses yang sulit, kondisi medan yang berbatu dan curam membuat operasi pemadaman menjadi lebih rumit. "Kita menggunakan taktik pemadaman dari udara dengan memanfaatkan helikopter milik TNI AU untuk menjatuhkan air di titik-titik api yang sulit dijangkau," terang Ahmad.

Tersangka Pembalak Liar

Seiring dengan penyelidikan awal, polisi mulai mencatat keterangan dari saksi dan warga sekitar. Beberapa warga melihat aktivitas mencurigakan di sekitar perbatasan hutan sebelum kebakaran terjadi. "Ada beberapa orang yang terlihat sedang memotong pohon dengan gergaji mesin di area dekat titik api. Saat itu, kami mengira mereka adalah pembalak biasa," kata Kepala Desa setempat, Slamet.

Berdasarkan laporan warga, polisi sudah menetapkan beberapa orang sebagai saksi dalam penyelidikan ini. "Kami sedang mengembangkan penyelidikan untuk mengetahui apakah kebakaran ini sengaja dibangunkan untuk membuka akses bagi aktivitas pembalakan liar," kata Kepala Polres Pekalongan, AKBP Hendra Wijaya.

Kebakaran hutan di Alas Roban Batang bukanlah kali pertama terjadi. Wilayah ini sudah beberapa kali menjadi sasaran pembalak liar yang tidak segan-segan membakar hutan untuk membuka lahan perkebunan atau kegiatan ilegal lainnya. "Kami akan memperketat pengawasan di area ini setelah kejadian ini selesai. Tidak ada lagi ruang bagi okok-oknum yang ingin merusak hutan demi keuntungan pribadi," tegas Budi Santoso dari BKSDA.

Pemerintah pusat pun telah memberikan respons terhadap insiden ini. Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) Siti Nurbaya Bakar menginstruksikan seluruh BKSDA di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan. "Kita tidak akan mentoleransi lagi adanya pembalak liar yang merusak hutan Indonesia. Ini adalah warisan generasi mendatang yang harus kita jaga bersama," ujar Menteri Siti dalam rilis resminya.

Sementara itu, para aktivis lingkungan menyoroti perlunya tindakan yang lebih tegas dari pemerintah. "Hukuman yang diberikan kepada pembalak liar masih terlalu ringan. Ini tidak menjadi pembelajaran bagi yang lain. Perlu ada sanksi yang berat dan jelas untuk menghentikan praktik merusak hutan," kata Adi Prayitno, koordinator Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lingkungan.

Dengan kondisi hutan yang masih terus terbakar, masyarakat di sekitar area terdampak diminta waspada terhadap potensi asap yang dapat membahayakan kesehatan. Pemerintah setempat telah menyiapkan posko kesehatan dan masker untuk warga yang terdampak asap tebal dari kebakaran hutan ini.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Anisa Permata

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter