22, 2026
Ekonomi

Anindya Soroti Investasi Raksasa Data Center-Hilirisasi Vs Loker Minim

Anindya Bakrie menyoroti investasi di Indonesia yang padat modal, kurang menyerap tenaga kerja. Fokus pada sektor padat karya diperlukan untuk daya saing.]]>

Rizki Setiawan
Rizki Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Anindya Soroti Investasi Raksasa Data Center-Hilirisasi Vs Loker Minim

Investasi berskala besar di sektor data center dan hilirisasi menjadi sorotan Anindya. Anindya menilai gelontoran modal pada dua sektor tersebut belum sebanding dengan penciptaan lapangan kerja. Menurut Anindya, data center dan hilirisasi penting bagi transformasi ekonomi, tetapi tidak bisa secara otomatis dijadikan jawaban atas persoalan pengangguran dan minimnya kesempatan kerja.

Anindya menyoroti bahwa investasi raksasa sering kali terlihat mengesankan dari sisi nilai nominal. Namun, publik perlu melihat dampak nyata dari investasi itu, terutama berapa banyak pekerja yang terserap, seberapa besar keterlibatan tenaga kerja lokal, dan seberapa kuat efek berantainya terhadap perekonomian sekitar. Anindya menilai ukuran keberhasilan investasi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya angka yang masuk, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

Investasi Padat Modal dan Serapan Kerja

Data center merupakan infrastruktur yang bersifat padat modal. Pembangunannya membutuhkan investasi besar untuk lahan, bangunan, perangkat server, sistem pendingin, jaringan, dan pasokan energi. Namun, setelah beroperasi, data center cenderung menggunakan otomatisasi dan teknologi tinggi. Kebutuhan tenaga kerjanya lebih terbatas dibandingkan industri padat karya. Pekerja yang dibutuhkan pun umumnya memiliki keterampilan khusus di bidang teknologi informasi, listrik, pendinginan, dan keamanan siber.

Kondisi itu membuat data center tidak serta-merta menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Anindya menilai pemerintah dan pelaku industri perlu jujur menyampaikan karakter sektor ini. Data center tetap penting untuk mendukung ekonomi digital, penyimpanan data, dan kedaulatan digital. Akan tetapi, klaim tentang penciptaan lapangan kerja harus diukur secara realistis, bukan hanya berdasarkan nilai investasi.

Hal serupa berlaku pada hilirisasi. Kebijakan hilirisasi bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri, misalnya melalui pengolahan mineral menjadi produk setengah jadi atau produk jadi. Proyek-proyek hilirisasi memang dapat menyerap tenaga kerja pada tahap konstruksi dan operasi. Namun, industri pengolahan mineral umumnya juga padat modal dan membutuhkan keterampilan teknis. Jumlah pekerja yang terserap tidak selalu sebanding dengan besarnya investasi.

Efek Berantai Belum Optimal

Anindya menyoroti pentingnya efek berantai. Investasi besar seharusnya mendorong pertumbuhan usaha lokal, mulai dari penyediaan barang dan jasa, katering, transportasi, perumahan pekerja, hingga usaha mikro dan kecil di sekitar proyek. Jika rantai pasok masih didominasi perusahaan dari luar daerah atau impor, manfaat ekonomi lokal menjadi terbatas. Anindya menilai keterlibatan usaha lokal dan tenaga kerja lokal perlu menjadi syarat yang lebih tegas dalam setiap proyek investasi.

Selain itu, Anindya menyoroti persoalan kesenjangan keterampilan. Industri data center dan hilirisasi membutuhkan lulusan teknik, operator mesin, teknisi listrik, dan tenaga ahli digital. Sementara itu, banyak pencari kerja memiliki keterampilan yang belum sesuai dengan kebutuhan industri. Tanpa pelatihan vokasi yang terarah, investasi besar berisiko menciptakan lapangan kerja yang tidak dapat diisi oleh angkatan kerja domestik. Akibatnya, peluang kerja bisa saja terbuka, tetapi tidak terserap oleh masyarakat sekitar.

Anindya menilai pemerintah perlu memperkuat hubungan antara dunia pendidikan, pelatihan kerja, dan kebutuhan industri. Program vokasi harus dirancang berdasarkan proyeksi kebutuhan tenaga kerja di daerah yang menjadi lokasi investasi. Perusahaan juga perlu didorong membuka program magang, pelatihan ulang, dan peningkatan keterampilan bagi pekerja lokal. Dengan begitu, investasi tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Keseimbangan dengan Sektor Padat Karya

Dalam pandangan Anindya, dorongan terhadap investasi data center dan hilirisasi perlu diimbangi dengan penguatan sektor padat karya. Industri pengolahan, pertanian, perikanan, pariwisata, dan usaha mikro kecil menengah memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja lebih luas. Sektor-sektor itu juga lebih cepat merespons kebutuhan lapangan kerja dalam jangka pendek. Karena itu, kebijakan investasi sebaiknya tidak hanya mengejar proyek besar, tetapi juga memberi ruang bagi pertumbuhan usaha yang menyerap banyak pekerja.

Anindya menyoroti pula soal transparansi. Publik berhak mengetahui berapa lapangan kerja yang benar-benar tercipta dari setiap investasi besar, termasuk komposisi pekerja lokal dan pekerja asing. Laporan berkala mengenai serapan tenaga kerja, nilai tambah lokal, dan kontribusi fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Dengan data yang jelas, evaluasi kebijakan dapat dilakukan secara objektif. Anindya menilai transparansi juga penting agar insentif yang diberikan pemerintah benar-benar sepadan dengan manfaat yang diterima masyarakat.

Meski demikian, Anindya tidak menolak investasi data center dan hilirisasi. Kedua sektor itu dinilai tetap strategis untuk memperkuat daya saing ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Persoalannya bukan ada atau tidaknya investasi, melainkan bagaimana investasi itu dirancang agar memberi dampak lebih luas. Anindya menekankan perlunya kebijakan yang menghubungkan investasi besar dengan penciptaan lapangan kerja, pengembangan keterampilan, dan pemberdayaan usaha lokal.

Dengan begitu, kritik Anindya terhadap investasi raksasa data center dan hilirisasi yang berhadapan dengan lapangan kerja minim tidak perlu dibaca sebagai penolakan terhadap pembangunan. Sorotan itu lebih merupakan pengingat agar pemerintah dan pelaku usaha tidak hanya mengejar nilai investasi, tetapi juga memastikan manfaatnya sampai ke masyarakat. Bagi Anindya, keberhasilan investasi harus diukur dari seberapa besar ia mampu menciptakan pekerjaan layak, memperkuat industri dalam negeri, dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizki Setiawan

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter