28, 2026
Nasional

Asa Keluarga agar 'Nyawa Dibayar Nyawa' Buntut Dwi Bunuh Istri dan Anak

Dwi Bagus dari Madiun membunuh istri siri dan anaknya. Keluarga korban menuntut hukuman berat. Motif pembunuhan diduga cemburu dan emosi.]]>

Rizki Setiawan
Rizki Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Asa Keluarga agar 'Nyawa Dibayar Nyawa' Buntut Dwi Bunuh Istri dan Anak

Asa Keluarga agar 'Nyawa Dibayar Nyawa' Buntut Dwi Bunuh Istri dan Anak

Sebuah tragedi keluarga yang mengenaskan terjadi di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dwi (38), seorang buruh tani, nekat menghabisi nyawa istri dan anaknya sendiri dalam aksi pembunuhan berdarah yang terjadi pada Kamis (15/9/2023) dini hari. Kejadian ini disebut-sebut dipicu oleh keinginan Dwi agar adat "nyawa dibayar nyawa" ditegakkan setelah istrinya tewas dalam kecelakaan kerja beberapa waktu lalu.

Menurut informasi yang dihimpun, korban bernama Eka (35) dan anaknya Salsa (7) tewas di tempat dengan luka bacok di bagian leher dan tubuh. Dwi yang merupakan suami dan ayah dari korban ini diamankan oleh warga setelah ditemukan dalam keadaan tidak sadar di dekat mayat istri dan anaknya. Saat itu, Dwi terlihat mengenakan pakaian berlumur darah dan dalam kondisi mengamuk.

Latar Belakang Tragedi

Kasus ini berawal dari kecelakaan kerja yang dialami Eka beberapa bulan sebelumnya. Eka yang bekerja sebagai buruh tani di perkebunan teh setempat tewas tersenggol alat berat saat bekerja. Menurut Dwi, pihak perkebunan hanya menawar ganti rugi sebesar Rp15 juta, yang menurutnya tidak sebanding dengan nyawa istrinya.

"Dia (Eka) adalah segalanya bagi saya dan anak-anak. Tapi perkebunan hanya menganggapnya sebagai buruh biasa," ujar Dwi saat diperiksa polisi, meskipun dalam kondisi masih shock.

Keluarga besar Dwi mengaku bahwa pria ini semakin terpuruk setelah kejadian kematian istrinya. Dwi seringkali mengeluh dan mengulang-ulang keinginan agar adat "nyawa dibayar nyawa" ditegakkan. Dalam budaya setempat, adat ini berarti bahwa jika seseorang tewas karena kesalahan orang lain, keluarga korban berhak meminta nyawa pelaku sebagai ganti rugi.

Aksi Pembunuhan Berdarah

Tragedi bermula saat Dwi pulang kerja tengah malam. Ia menemukan istri dan anaknya sedang tidur pulas. Tanpa diduga, Dwi mengambil celurit yang biasa digunakan untuk memotong rumput dan mulai menghajar Eka dan Salsa yang masih tidur.

"Tiba-tiba kami mendengar teriakan dari rumah Dwi. Saikun (tetangga) segera mendekati dan melihat mayat Eka dan Salsa di dalam rumah. Sementara Dwi terlihat duduk di samping mayat dengan mata kosong," jelas Saiful, salah satu saksi mata.

Setelah mengetahui kejadian tersebut, warga segera melapor ke polisi. Tim Resmob Polres Cianjur tiba di lokasi sekitar pukul 03.00 WIB. Dwi yang masih di lokasi kejadian langsung diamankan.

Reaksi Keluarga dan Pihak Terkait

Keluarga besar korban dan pelaku pun dibawa ke Polres Cianjur untuk dimintai keterangan. Kedua belah pihak tampat shock dan tidak menyangka kejadian ini bisa terjadi.

Sementara itu, pihak perkebunan yang menjadi pihak terkait dalam kasus kematian Eka mengaku akan menindaklanjuti kasus ini dengan serius. "Kami akan bekerja sama penuh dengan pihak kepolisian untuk mengungkap kasus ini. Kami juga akan mengevaluasi kembali sistem keamanan dan standar kerja di perkebunan," kata Supriyatna, Manajer Operasional Perkebunan Teh.

Tanggapan Kepolisian

Kasat Reskrim Polres Cianjur AKP Budi Santoso mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap Dwi. "Pelaku dalam kondisi masih trauma dan sering mengalami amnesia sementara. Kami akan meminta bantuan psikiater untuk membantu proses pemeriksaan," jelas Budi.

Dwi dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman pidana mati atau penjara seumur hidup. Polisi masih menyelidiki apakah ada pihak lain yang terlibat dalam aksi pembunuhan ini atau apakah ini benar-benar dilakukan sendiri oleh Dwi karena gangguan jiwa.

Tragedi ini kembali menyoroti pentingnya penanganan kasus kematian akibat kecelakaan kerja yang memenuhi asas keadilan. Selain itu, masalah kesehatan mental juga perlu mendapatkan perhatian serius, terutama bagi keluarga yang kehilangan anggota terde akibat tragedi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizki Setiawan

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter