Asap Karhutla Ganggu Penerbangan, Kemenhub Ambil Langkah Tegas
Asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Indonesia kembali mengganggu operasional penerbangan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan akan mengambil langkah tegas untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap terjaga sekaligus meminimalisir gangguan akibat kabut asap.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Publik Kemenhub, Adita Irawati, mengatakan pihaknya telah memantau situasi secara intensif. "Kami terus memantau perkembangan asap karhutla yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan," ujarnya dalam keterangannya, Rabu (15/11).
Pengalihan Penerbangan dan Penundaan
Menurut Adita, beberapa bandara di wilayah Sumatera dan Kalimantan sudah mengalami pengaruh asap tebal. Sebagai antisipasi, pihaknya telah meminta maskapai untuk melakukan pengalihan penerbangan (diversion) atau penundaan (delay) jika kondisi cuaca tidak memungkinkan. "Keputusan pengalihan atau penundaan dilakukan demi keselamatan penumpang dan awak pesawat," jelasnya.
Sebagai contoh, Bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi dan Bandara Silangit Sumatera Utara beberapa waktu lalu sempat mengalami penundaan penerbangan karena visibilitas menurun drastis akibat asap. Demikian pula dengan beberapa bandara di Kalimantan seperti Balikpapan, Pontianak, dan Palangkaraya yang seringkali terdampak kabut asak dari kebakaran hutan.
Koordinasi dengan Instansi Terkait
Kemenhub mengaku telah melakukan koordinasi intensif dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Koordinasi ini bertujuan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kualitas udara dan prakiraan cuaca yang akurat.
"Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait untuk segera menangani sumber asap. Jika perlu, akan dilakukan upaya pemadaman kebakaran hutan secara maksimal," tambah Adita.
Peningkatan Sistem Pemantauan
Untuk mengantisipasi gangguan yang lebih lanjut, Kemenhub berencana meningkatkan sistem pemantauan kualitas udara di sekitar bandara. "Kami akan memasang alat pemantau kualitas udara (Air Quality Monitoring) di beberapa bandara rawan kabut asap," ungkap Adita.
Sistem pemantauan ini akan memberikan data real-time mengenai tingkat partikulat halus (PM2.5) dan parameter kualitas udara lainnya. Data tersebut akan menjadi acuan bagi petugas bandara dalam mengambil keputusan mengenai operasional penerbangan.
Upaya Pencegahan dan Edukasi
Selain antisipasi, Kemenhub juga melakukan upaya pencegahan dan edukasi. Pihaknya mendorong agar pihak terkait, terutama perusahaan-perusahaan yang memiliki areal perkebunan, untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara illegal.
"Kami juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya karhutla dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan," tambah Adita. Pihaknya berharap dengan kesadaran bersama, permasalahan karhutla dapat diminimalisir.
Dampak terhadap Penerbangan
Gangguan akibat asap karhutla tidak hanya berdampak pada penundaan atau pengalihan penerbangan. Dalam beberapa kasus, asap tebal juga dapat mengakibatkan pembatalan penerbangan, terutama jika visibilitas di bawah standar yang ditetapkan.
Menurut standar internasional, visibilitas minimal untuk operasional penerbangan komersial adalah 1.500 meter untuk pesawat berbadan lebar dan 1.000 meter untuk pesawat berbadan sedang. Namun, dalam kondisi asap tebal, visibilitas dapat turun drastis hingga di bawah 500 meter bahkan hingga 100 meter.
Tanggapan Maskapai
Sejumlah maskapai telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif. AirAsia Indonesia, misalnya, mengatakan telah memfasilitasi tiket bagi penumpang yang terdampak penundaan atau pembatalan penerbangan akibat asap karhutla.
"Kami akan memberikan opsi pengembalian dana atau penggantian tiket tanpa biaya tambahan bagi penumpang yang terdampak," kata Corporate Communications AirAsia Indonesia, Benyamin Ivor.
Sementara itu, Garuda Indonesia menyatakan akan terus memantau situasi dan memberikan informasi terkini kepada penumpang melalui berbagai kanal komunikasi.
Peran Teknologi
Untuk mengatasi masalah ini, Kemenhub juga mempertimbangkan penggunaan teknologi dalam mengantisipasi gangguan penerbangan akibat asap. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan data satelit untuk memantau titik-titik panas yang menjadi potensi sumber kebakaran hutan.
"Dengan teknologi yang lebih canggih, kami berharap dapat mendeteksi potensi kebakaran lebih dini sehingga bisa segera ditangani sebelum membesar dan menghasilkan asap yang mengganggu," pungkas Adita.
Komentar (0)