Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah massa udara yang membawa partikel sisa pembakaran terpantau tersedot ke dalam sistem siklon tropis Champi yang berpusat di perairan Pasifik. Fenomena itu memunculkan pertanyaan lanjutan: apakah partikel asap yang terangkut ke dalam pusaran siklon dapat memperparah hujan di wilayah yang dilalui sistem tekanan rendah tersebut?
Pengamatan terhadap sebaran asap lintas batas negara menunjukkan bahwa polutan dari karhutla tidak selalu bertahan di sekitar sumbernya. Sebagian massa udara terangkat ke lapisan lebih tinggi, kemudian terbawa angin dan dapat menempuh jarak ribuan kilometer. Ketika di jalur pergerakannya terdapat sistem tekanan rendah berskala besar, aliran udara di sekitarnya dapat menarik massa udara tersebut masuk ke dalam sirkulasi siklon.
Mekanisme Asap Tersedot ke Pusaran Siklon
Siklon tropis pada dasarnya adalah sistem tekanan udara sangat rendah yang terbentuk di atas laut hangat. Perbedaan tekanan antara pusat siklon dan wilayah sekitarnya menciptakan aliran udara masuk yang berbelok akibat rotasi bumi, sehingga terbentuk pola spiral menuju pusat. Aliran masuk ini terjadi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer dan mampu menyapu massa udara dari kawasan yang cukup jauh, termasuk wilayah yang sedang dilanda kabut asap.
Peran angin monsun dan aliran lintas ekuator
Selain sirkulasi siklon itu sendiri, pola angin monsun dan aliran udara lintas ekuator turut menentukan arah pergerakan asap. Pada periode tertentu, angin di sekitar ekuator dapat mengangkut asap dari Sumatera dan Kalimantan ke arah utara, lalu bersambung dengan aliran massa udara di sekitar siklon. Kombinasi itulah yang membuat asap karhutla dapat terlihat menyatu dengan sistem awan siklon pada citra satelit.
Asap yang terangkat umumnya terdiri atas partikel halus, senyawa organik, karbon, serta gas seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Partikel-partikel inilah yang kemudian berperan dalam proses fisika awan ketika berada di atmosfer.
Efek Partikel Asap terhadap Pembentukan Awan
Dalam ilmu atmosfer, partikel padat atau cair yang sangat kecil dapat berfungsi sebagai inti kondensasi awan. Uap air yang naik dan mendingin akan menempel pada partikel tersebut untuk membentuk titik-titik air. Karena itu, keberadaan aerosol asap secara teoretis memengaruhi cara awan terbentuk, tumbuh, dan akhirnya menjatuhkan hujan.
Aerosol higroskopis dan ukuran butiran
Sebagian partikel asap bersifat higroskopis, artinya mudah menyerap uap air. Partikel jenis ini dapat mempercepat pembentukan butiran awan pada tingkat kelembapan yang relatif rendah. Namun, efeknya tidak selalu searah. Ketika jumlah inti kondensasi meningkat sangat banyak, uap air yang tersedia akan terbagi ke lebih banyak butiran berukuran kecil. Butiran kecil membutuhkan waktu lebih lama untuk tumbuh besar dan bergabung menjadi tetes hujan. Pada awan konvektif dangkal, kondisi ini dapat menunda atau bahkan menekan hujan.
Aerosol penyerap radiasi matahari
Sebagian partikel asap, terutama karbon, menyerap radiasi matahari. Penyerapan ini menghangatkan lapisan atmosfer tertentu dan dapat mengubah profil suhu vertikal. Jika lapisan di atas permukaan menjadi lebih hangat, stabilitas atmosfer meningkat dan gerakan udara ke atas bisa terhambat. Sebaliknya, pemanasan pada lapisan yang tepat dapat memperkuat arus naik dan membuat awan tumbuh lebih tinggi. Arah pengaruhnya sangat bergantung pada ketinggian sebaran asap dan kondisi kelembapan setempat.
Memperparah atau Meredam Hujan?
Pertanyaan apakah asap memperparah hujan tidak memiliki jawaban tunggal. Dalam sebuah sistem siklon tropis, energi utama berasal dari penguapan air laut yang hangat dan pelepasan panas laten saat uap air mengembun. Dinamika laut dan atmosfer berskala besar itu jauh lebih menentukan intensitas hujan dibandingkan tambahan aerosol dari daratan. Awan di dalam siklon juga sudah mengandung butiran garam laut dalam jumlah besar sehingga tambahan partikel asap relatif kecil porsinya.
Meski demikian, penambahan aerosol tidak sepenuhnya dapat diabaikan. Pada awan yang berada di pinggiran siklon, partikel asap dapat mengubah distribusi ukuran butiran dan efisiensi proses terbentuknya hujan. Ada kemungkinan hujan lokal menjadi lebih deras bila proses pembentukan butiran dipercepat, tetapi ada pula kemungkinan hujan tertunda bila butiran yang terbentuk terlalu kecil dan terlalu banyak.
Selain itu, hujan sendiri berfungsi sebagai pembersih atmosfer. Proses pengendapan basah atau washout membuat butiran hujan menangkap partikel asap dan membawanya kembali ke permukaan. Karena itu, wilayah yang dilalui hujan lebat justru dapat mengalami penurunan konsentrasi asap dalam waktu relatif cepat.
Risiko Lain yang Perlu Diwaspadai
Terangkutnya asap ke dalam sistem cuaca besar memperluas jangkauan dampak karhutla. Partikel halus berukuran di bawah 2,5 mikrometer dapat bertahan lama di atmosfer dan berpotensi menurunkan kualitas udara di wilayah yang jauh dari titik api. Senyawa sulfur dan nitrogen dari pembakaran juga dapat membentuk asam di atmosfer dan larut dalam air hujan, sehingga meningkatkan potensi deposisi asam di kawasan yang dilalui.
Bagi penerbangan dan pelayaran, sebaran asap pada ketinggian tertentu dapat menurunkan jarak pandang. Sementara bagi sektor pertanian, perubahan tutupan awan dan intensitas cahaya matahari berpotensi memengaruhi proses fotosintesis tanaman.
Pemantauan dan Kesiapsiagaan
Pemantauan berkelanjutan menjadi kunci. Citra satelit cuaca resolusi tinggi, produk aerosol, serta pemantauan titik panas digunakan untuk melacak pergerakan asap dan kaitannya dengan sistem tekanan rendah. Informasi tersebut penting untuk menyusun peringatan dini, baik bagi wilayah yang berpotensi terdampak kabut asap maupun bagi daerah yang berisiko mengalami hujan ekstrem.
Yang paling mendasar tetap upaya di hulu. Pengendalian kebakaran lahan, khususnya pada area gambut, penegakan aturan pembukaan lahan tanpa pembakaran, serta pemulihan ekosistem gambut menjadi langkah yang lebih efektif dibandingkan menangani dampak setelah asap menyebar jauh melampaui batas wilayah negara.
Komentar (0)