23, 2026
Nasional

BMKG Jelaskan Fungsi Dry Ice Dalam Penanganan Asap Kebakaran Hutan

Citra Anggraini
Citra Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fungsi dry ice atau es kering dalam penanganan asap kebakaran hutan dan lahan. Menurut BMKG, dry ice bukan bahan pemadam api yang ditaburkan langsung ke titik kebakaran, melainkan bahan yang digunakan dalam teknologi modifikasi cuaca untuk merangsang pertumbuhan awan hujan. Dengan demikian, fungsi utamanya adalah membantu mempercepat proses hujan agar partikel asap di atmosfer dapat tercuci dan konsentrasi polutan di udara menurun.

Penjelasan tersebut penting untuk meluruskan pemahaman bahwa dry ice dapat langsung memadamkan api. Dalam praktiknya, dry ice digunakan bersama bahan lain, seperti garam, dalam operasi penyemaian awan. BMKG menegaskan bahwa keberhasilan operasi sangat bergantung pada kondisi atmosfer, terutama ketersediaan awan yang berpotensi hujan, kelembapan udara, dan pola angin di wilayah yang terdampak kebakaran.

Peran dry ice dalam modifikasi cuaca

Dry ice adalah karbon dioksida dalam bentuk padat dengan suhu sangat rendah, sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Ketika ditaburkan ke dalam awan melalui pesawat, dry ice akan menyublim, berubah dari bentuk padat menjadi gas, dan menyerap panas di sekitarnya. Proses pendinginan mendadak itu membuat uap air di dalam awan berubah menjadi kristal es. Kristal es kemudian tumbuh menjadi partikel yang lebih besar dan berat sehingga berpotensi jatuh sebagai hujan.

Dalam ilmu modifikasi cuaca, mekanisme tersebut dikenal sebagai penyemaian awan. Dry ice berfungsi sebagai bahan pendingin yang memicu pembentukan inti es, bukan sebagai inti kondensasi seperti garam. Karena itu, pemilihan bahan semai disesuaikan dengan karakter awan yang disemai. BMKG menjelaskan bahwa awan konvektif yang cukup tebal dan memiliki kandungan uap air tinggi menjadi sasaran utama operasi ini.

Pengaruh terhadap asap

Hujan yang dihasilkan dari penyemaian awan dapat membantu menurunkan asap melalui proses pencucian atmosfer. Partikel asap yang melayang di udara akan tertangkap tetesan air hujan dan ikut jatuh ke permukaan. Proses ini dapat memperbaiki kualitas udara sementara, terutama di wilayah yang sebelumnya tertutup kabut asap pekat. Namun, BMKG mengingatkan bahwa efeknya tidak serta-merta menghilangkan seluruh asap, apalagi jika sumber kebakaran masih aktif dan angin membawa asap baru dari lokasi lain.

Selain itu, hujan hanya membantu mengurangi partikel padat di udara. Hujan tidak menetralkan gas-gas beracun yang mungkin terbentuk dari pembakaran biomassa. Karena itu, penanganan asap tidak dapat hanya mengandalkan modifikasi cuaca. Pengendalian titik api, pemadaman darat, pembasahan lahan, dan penghentian sumber pembakaran tetap menjadi bagian utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Bukan pengganti pemadaman langsung

BMKG menekankan bahwa dry ice tidak dapat menggantikan fungsi air sebagai pemadam api. Dry ice yang ditaburkan dari pesawat tidak ditujukan untuk mengenai pusat api, melainkan untuk memengaruhi proses fisika di dalam awan. Jika tidak ada awan yang memadai, penyemaian tidak akan menghasilkan hujan. Kondisi atmosfer yang terlalu kering, awan yang tipis, atau lapisan udara yang stabil dapat membuat operasi kurang efektif.

Karena itu, operasi modifikasi cuaca memerlukan prakiraan cuaca yang cermat. BMKG berperan dalam menyediakan informasi kondisi atmosfer, pemantauan radar cuaca, citra satelit, dan analisis model numerik. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan waktu, lokasi, dan ketinggian penyemaian yang paling potensial. Tanpa dukungan data meteorologi yang akurat, penyemaian awan berisiko tidak tepat sasaran.

Aspek keselamatan dan logistik

Penggunaan dry ice juga memiliki tantangan tersendiri. Bahan ini harus disimpan dalam wadah berinsulasi dan ditangani dengan prosedur keselamatan yang ketat. Suhu yang sangat rendah dapat menyebabkan luka bakar dingin jika bersentuhan langsung dengan kulit. Selain itu, sublimasi dry ice menghasilkan gas karbon dioksida yang dapat menumpuk di ruang tertutup dan mengurangi kadar oksigen. Dalam operasi penerbangan, pengaturan muatan, ventilasi, dan prosedur penanganan menjadi perhatian utama.

Dari sisi logistik, dry ice memiliki massa yang cukup besar dan terus menyusut karena sublimasi. Ketersediaan bahan, kapasitas pesawat, jarak tempuh, dan kondisi cuaca penerbangan memengaruhi efektivitas operasi. Karena itu, operasi penyemaian awan biasanya dilakukan secara terkoordinasi dengan instansi penanggulangan bencana, operator penerbangan, dan pihak terkait lainnya.

Faktor keberhasilan

BMKG menjelaskan bahwa keberhasilan penanganan asap melalui dry ice tidak ditentukan oleh satu faktor. Ketersediaan awan hujan, arah angin, kelembapan, stabilitas atmosfer, dan luas area yang terbakar menjadi penentu. Jika awan hujan berhasil tumbuh di atas atau sekitar wilayah kebakaran, hujan dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel asap. Sebaliknya, jika awan tidak terbentuk atau bergerak menjauh, dampak terhadap asap akan terbatas.

Pemantauan setelah operasi juga diperlukan untuk menilai hasil. BMKG dapat melihat perkembangan awan melalui radar dan satelit, sementara kualitas udara dipantau melalui stasiun pengamatan. Evaluasi ini penting agar operasi berikutnya dapat dilakukan lebih tepat. Dengan demikian, dry ice dalam penanganan asap kebakaran hutan berfungsi sebagai bagian dari upaya modifikasi cuaca untuk mempercepat hujan, bukan sebagai solusi tunggal. Penanganan asap tetap membutuhkan kombinasi pemadaman sumber api, pengelolaan lahan, pemantauan kualitas udara, dan koordinasi lintas instansi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Citra Anggraini

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter