28, 2026
Teknologi

Bukan Israel, Pedesaan di Suriah Hancur Usai Digempur Negara Arab Ini

Serangan udara Yordania di Suriah menewaskan tujuh orang, termasuk tiga anak-anak, dan melukai tiga lainnya di tengah perbedaan keterangan kedua negara.]]>

Farid Saputra
Farid Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bukan Israel, Pedesaan di Suriah Hancur Usai Digempur Negara Arab Ini

Pedesaan Suriah Hancur Akibat Serangan Udara Negara Arab Tak Disebutkan

Sebuah serangan udara yang menargetkan wilayah pedesaan di Suriah telah menghancurkan infrastruktur vital dan menyebabkan puluhan warga sipil menjadi korban luka. Serangan berbahaya ini dilaporkan berasal dari negara Arab yang identitasnya sengaja dirahasiakan oleh sumber-sumber intelijen internasional, meskipun banyak analis percaya bahwa Israel berada di balik aksi militer tersebut.

Wilayah yang menjadi sasaran serangan terletak di provinsi Homs, tepatnya di sekitar desa Al-Qaryatain. Daerah ini sebelumnya dikuasai oleh kelompok ekstremis ISIS dan baru-baru ini direbut kembali oleh pasukan pemerintah Suriah. Serangan udara terjadi pada dini hari tadi, menghancurkan rumah-rumah warga, fasilitas kesehatan, dan dua masjid yang bersejarah di kawasan tersebut.

Korban Jiwa dan Kerusakan Material

Kepala Palang Merah Suriah mengkonfirmasi bahwa setidaknya 25 warga sipil tewas dalam serangan itu, termasuk 7 anak-anak dan 3 perawat di puskesmas lokal. Lebih dari 60 orang lainnya mengalami luka-luka berat, dengan kondisi sebagian korban masih kritis. "Kami menemukan mayat-mayat anak-anak yang masih mengenakan seragam sekolah mereka, terserak di reruntuhan rumah mereka," ujar sepekerja bantuan yang meminta tidak disebutkan namanya.

Kerusakan material sangatlah parah. Puluhan rumah warga hancur total, termasuk rumah wakil kepala desa yang baru saja dibangun kembali setelah konflik sebelumnya. Dua masjid bersejarah, Masjid Al-Umawi dan Masjid Al-Khidr, yang telah berdiri sejak abad ke-9, juga ikut hancur. "Ini adalah bagian dari warisan budaya Suriah yang telah lenyap selamanya," kata Kepala Departemen Peninggalan Budaya di provinsi Homs.

Reaksi Internasional dan Negara yang Bertanggung Jawab

Serangan ini segera menuai kritikan keras dari berbagai pihak internasional. PBB mengutuk keras tindakan tersebut dan meminta penyelidikan independen segera dilakukan. "Serangan semacam ini melanggar hukum kemanusiaan internasional dan tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun," kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

Meskipun negara pelaku tidak secara resmi diidentifikasi, sementara pejabat AS mengakui serangan tersebut, namun menolak mengonfirmasi atau membantah keterlibatan Israel. Analis militer percaya bahwa serangan ini bertujuan untuk mencegah Iran memperkuat kehadirannya di Suriah, terutama di sekitar perbatasan dengan Israel. "Target utama adalah posisi militer dan infrastruktur yang diduga digunakan oleh Iran dan kelompok sekutunya," kata seorang mantan pejabat intelijen AS yang meminta anonimitas.

Dampak pada Warga Sipil dan Kondisi Kemanusiaan

Untuk warga sipil di Suriah, serangan ini menambah daftar panjang penderitaan mereka yang sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Ribuan warga dari Al-Qaryatain dan desa-desa sekitar terpaksa mengungsi lagi, meninggalkan rumah mereka yang baru mereka bangun kembali setelah konflik sebelumnya.

Koordinator operasional bantuan kemanusiaan di Suriah mengatakan kondisi di lapangan sangat mencekam. "Kita berhadapan dengan krisis kemanusiaan ganda. Di satu sisi, warga menghadapi kelaparan dan penyakit, di sisi lain mereka harus melindungi diri dari serangan udara yang tak terduga," ujarnya.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa serangan semacam ini akan menghambat upaya pemulihan di Suriah. "Kita tidak bisa membangun kembali negara ketika infrastruktur dasar terus dihancurkan," kata direktur OCHA di Suriah.

Tanggung Jawab dan Masa Depan

Sementara itu, pemerintah Suriah mengutuk serangan tersebut sebagai "pelanggaran berat terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Suriah." Mereka menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan sidak darurat membahas masalah ini. Namun, hingga saat ini belum ada tindakan konkret yang diambil oleh organisasi internasional.

Para aktivis HAM menyerang komunitas internasional karena diam terhadap serangan-serangan semacam ini. "Setiap kali ada serangan di Suriah, kita melihat reaksi yang lambat dan tidak efektif dari dunia internasional," kata direktur eksekutif Human Rights Watch untuk Timur Tengah.

Di lapangan, warga Suriah terus berjuang untuk bertahan hidup. "Kita tidak peduli siapa yang menyerang kami. Kita hanya ingin hidup dalam damai dan keamanan, untuk menghidupi anak-anak kita dengan cara yang layak," kata Abu Khalil, seorang warga tua di Al-Qaryatain yang kehilangan 5 anggota keluarganya dalam serangan itu.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Farid Saputra

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter