17, 2026
Teknologi

Bupati Klaten Diduga Terima Setoran dari Tambang sampai Potongan Upah

Fajar Hidayat
Fajar Hidayat Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bupati Klaten Diduga Terima Setoran dari Tambang sampai Potongan Upah

Sebuah dugaan serius menjerat nama Bupati Klaten, Sri Mulyani, dalam kasus yang menyangkut praktik pungli (pungutan liar) dan gratifikasi. Dalam berkas penyidikan yang sedang berlangsung, terungkap bahwa pejabat tinggi daerah ini diduga menerima berbagai macam setoran, mulai dari tambang hingga potongan upah para tenaga kerja.

Informasi ini muncul setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pengembangan penyidikan terhadap kasus yang melibatkan sejumlah oknum pejabat di Pemerintah Kabupaten Klaten. Sumber internal menyebutkan bahwa dugaan terhadap Bupati Sri Mulyani muncul dari keterlibatannya dalam beberapa proyek infrastruktur dan pengelolaan sumber daya alam di daerah tersebut.

Pungutan dari Tambang dan Industri

Dalam berkas penyidikan, disebutkan bahwa Bupati Sri Mulyani diduga menerima setoran secara berkala dari pengusaha-pengusaha tambang dan industri di wilayah Klaten. Pungutan ini dilaporkan terjadi dalam bentuk uang tunai maupun transfer rekening. Jumlahnya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan, tergantung dari skala operasi usaha tersebut.

"Bupati diduga menerima 'jaminan' agar usaha para pengusaha di Klaten berjalan lancar dan tidak mendapatkan hambatan dari pemerintah daerah," ujar sumber yang meminta tidak disebutkan namanya. Pungutan ini diduga telah berlangsung selama minimal dua tahun terakhir, sejak Bupati Sri Mulyani menjabat untuk periode kedua.

Selain tambang, dugaan pungutan juga dilaporkan berasal dari sejumlah perusahaan manufaktur yang beroperasi di Klaten. Para pengusaha ini diduga memberikan 'dana operasional' secara rutin agar perizinan dan pengawasan terhadap usahanya berjalan sesuai keinginan.

Potongan Upah Tenaga Kerja

Salah satu aspek paling mencolok dalam dugaan ini adalah adanya potongan upah yang tidak wajar bagi para tenaga kerja. Menurut saksi yang telah diperiksa KPK, sejumlah pekerja di sektor informal maupun informal di Klaten didapatkan mengalami pemotongan gaji yang disetorkan kepada pihak tertentu.

"Ada sistem di mana para pekerja harus menyerahkan sebagian upah mereka kepada 'koordinator' tertentu. Uang ini kemudian disalurkan ke atas hingga tangan-tangan pejabat," jelas saksi tersebut. Potongan upah ini dilaporkan berkisar antara 5-10% dari total upah karyawan, tergantung dari sektor dan perusahaan yang bersangkutan.

Praktik ini diduga telah menjadi sistem yang terstruktur dan berjalan secara teratur. Para pekerja yang menolak memberikan potongan upah diduga mengalami tekanan dan bahkan ancaman PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Reaksi dan Pembelaan

Menghadapi dugaan serius ini, Bupati Sri Mulyani belum memberikan keterangan resmi secara lengkap. Melalui kuasa hukumnya, Bupati hanya menyatakan bahwa dirinya akan menjalani proses hukum yang adil. "Klien saya akan menjalani semua proses hukum yang ada. Jika ada bukti yang sah, kami siap menghadapinya," kata kuasa hukum Bupati.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Klaten belum memberikan reaksi resmi terkait dugaan yang menjerat kepala daerahnya. Wakil Bupati Klaten yang juga diduga terlibat dalam kasus ini belum dapat dikonfirmasi keberadaannya dan keterlibatannya dalam dugaan pungutan tersebut.

Langkah KPK dan Pengembangan Penyidikan

KPK telah mengambil langkah tegas dalam mengungkap dugaan ini. Tim penyidik telah melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi, termasuk rumah dinas Bupati Klaten dan kantor pemerintah daerah. Selain itu, puluhan saksi telah diperiksa untuk mengungkap jaringan pungutan yang didalamnya terlibat pejabat tinggi daerah.

"Kami sedang mengembangkan penyidikan ini dengan memeriksa sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam jaringan pungutan ini. Kami akan mengungkap seluruhnya hingga tuntas," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, dalam konferensi pers singkat.

KPK juga menyebutkan bahwa dugaan pungutan ini tidak hanya melibatkan Bupati Klaten, tetapi juga sejumlah pejabat lain di tingkat eselon II dan III di pemerintahan daerah tersebut. Penyidikan ini dilaporkan masih terus berlanjut dan belum menemukan titik akhir.

Dampak bagi Masyarakat Klaten

Dugaan pungutan yang melibatkan pejabat publik tentu memberikan dampak buruk bagi masyarakat Klaten. Masyarakat yang seharusnya mendapatkan layanan publik yang maksimal justru menjadi korban praktik yang merusak citra pemerintahan daerah.

"Kami bingung kenapa ada potongan upah yang harus kita berikan. Padahal upah kami sudah tidak banyak," ujar seorang buruh pabrik di Klaten yang meminta anonimitas. Ia menambahkan bahwa banyak pekerja yang tidak berani melaporkan praktik ini karena takut kehilangan pekerjaan.

Dampak lain adalah terhambatnya pembangunan daerah yang seharusnya berjalan transparan dan akuntabel. Dugaan korupsi dan pungutan liar ini membuat anggaran pembangunan tidak tersalurkan dengan baik kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena melibatkan pejabat kepala daerah yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat. KPK berjanji akan menyelesaikan kasus ini dengan tuntas dan memberikan hukuman yang sepadan bagi para pelaku jika terbukti bersalah.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Fajar Hidayat

Penulis berita kesehatan nasional dan kebijakan layanan medis.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter