03, 2026
Nasional

Cemaskan Algoritma dan Perkembangan AI, Paus Leo XIV Minta Dibedakan Karya Manusia dan Mesin

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/03/6ac0a9136b266-paus-leo-xiv-keluhkan-algoritma-dan-ai_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Paus Leo XIV menyuarakan keprihatinannya terhadap perkembangan algoritma dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif. Dalam sejumlah pernyataan terbaru, pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu menekankan pentingnya membedakan secara jelas antara karya manusia dan hasil kerja mesin. Ia menilai distingsi tersebut krusial agar manusia tidak kehilangan peran, martabat, dan tanggung jawab moral di tengah derasnya otomatisasi yang mengubah hampir semua lini kehidupan.

Kekhawatiran Paus bukan tanpa alasan. Algoritma kini menentukan apa yang dibaca, ditonton, dan dipercaya oleh miliaran orang setiap hari. Sistem rekomendasi di platform digital memilah informasi, membentuk opini, hingga memengaruhi preferensi politik dan selera budaya. Di saat yang sama, AI generatif mampu memproduksi teks, gambar, musik, dan video dalam hitungan detik. Kemudahan itu membawa konsekuensi serius: batas antara ciptaan manusia dan output mesin semakin kabur.

Seruan Moral di Tengah Revolusi Digital

Dalam pandangan Paus Leo XIV, persoalan AI bukan semata soal teknologi, melainkan soal moral dan kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa keputusan yang menyangkut hidup orang banyak tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada mesin. Algoritma, kata dia, tidak memiliki hati nurani, tidak mampu menimbang belas kasih, dan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara etis. Karena itu, manusia tetap harus memegang kendali atas setiap keputusan penting, terutama di bidang kesehatan, hukum, pendidikan, dan pelayanan publik.

Ia juga menyoroti risiko dehumanisasi. Ketika mesin dianggap lebih adil, lebih cepat, dan lebih efisien daripada manusia, ada bahaya bahwa penilaian manusia justru dikesampingkan. Padahal, banyak persoalan hidup tidak dapat direduksi menjadi data dan probabilitas. Paus menekankan bahwa kasih, keadilan, dan solidaritas adalah nilai-nilai yang lahir dari hati manusia, bukan dari perhitungan statistik.

Bahaya Ketimpangan dan Dominasi Korporasi

Paus Leo XIV turut menyoroti soal kekuasaan. Teknologi AI saat ini dikuasai oleh segelintir perusahaan besar yang memiliki data, modal, dan sumber daya komputasi luar biasa. Konsentrasi kekuatan itu, menurutnya, berpotensi memperlebar ketimpangan global. Negara-negara berkembang berisiko hanya menjadi pasar dan pengguna, tanpa kesempatan membangun kapasitas teknologinya sendiri. Ia mendorong adanya tata kelola global yang adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan bersama, bukan sekadar pada keuntungan korporasi.

Gereja Katolik, lanjut Paus, siap berkontribusi dalam perdebatan etika AI. Ia menyerukan dialog lintas disiplin yang melibatkan ilmuwan, filsuf, agamawan, pembuat kebijakan, dan masyarakat sipil. Menurutnya, regulasi tidak boleh tertinggal jauh dari laju inovasi. Undang-undang dan kesepakatan internasional diperlukan untuk memastikan AI dikembangkan dan digunakan demi kebaikan manusia, bukan untuk memperkuat dominasi atau memanipulasi perilaku warga.

Pengakuan atas Karya Manusia

Salah satu poin yang ditekankan Paus Leo XIV adalah pentingnya mengakui dan melindungi karya manusia. Ketika mesin dapat meniru lukisan, puisi, atau komposisi musik, muncul pertanyaan mendasar tentang nilai dan makna kreativitas. Menurut Paus, karya manusia bukan hanya produk akhir, melainkan juga jejak perjuangan, pengalaman, dan spiritualitas penciptanya. Menyamakan karya seniman dengan keluaran algoritma berarti mengabaikan dimensi batin yang melekat pada proses kreatif manusia.

Ia mengingatkan bahwa penghargaan terhadap karya manusia juga berdampak pada penghidupan banyak orang. Jika perusahaan menggantikan pekerja kreatif, penulis, jurnalis, dan perancang dengan mesin demi menghemat biaya, maka mata pencaharian manusia terancam. Paus mendorong keadilan ekonomi yang mempertimbangkan dampak otomatisasi, termasuk perlunya jaminan sosial dan pelatihan ulang bagi pekerja yang terdampak.

Tanggung Jawab Umat dan Masyarakat Luas

Seruan Paus tidak hanya ditujukan kepada para pemimpin politik dan pelaku industri teknologi. Umat Katolik dan masyarakat luas diajak bersikap kritis terhadap teknologi yang mereka gunakan sehari-hari. Literasi digital, kata Paus, menjadi kebutuhan mendesak agar orang tidak mudah termanipulasi oleh algoritma, berita palsu, maupun konten yang dihasilkan AI tanpa verifikasi. Pengguna perlu memahami bagaimana data mereka dikumpulkan, diolah, dan dimanfaatkan.

Dalam berbagai kesempatan, Paus Leo XIV menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya netral. Persoalannya terletak pada siapa yang mengendalikan dan untuk tujuan apa teknologi itu digunakan. AI dapat membantu mendiagnosis penyakit, memprediksi bencana, dan memperluas akses pendidikan. Namun, teknologi yang sama dapat dipakai untuk pengawasan massal, manipulasi opini, dan penindasan. Arah penggunaannya sangat bergantung pada pilihan moral manusia.

Dengan menyerukan pembedaan tegas antara karya manusia dan mesin, Paus Leo XIV ingin memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak mengorbankan martabat manusia. Pesan utamanya jelas: mesin boleh canggih, tetapi keputusan etis, empati, dan tanggung jawab tetap harus berada di tangan manusia. Refleksi ini menjadi pengingat bahwa di era algoritma, keberanian untuk bersikap kritis dan berbelas kasih justru semakin relevan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter