Bintang timnas Thailand, Chanathip Songkrasin, menegaskan bahwa ambisi skuad Gajah Perang tidak lagi sekadar mendominasi sepak bola Asia Tenggara. Gelandang serang berusia 31 tahun itu menyatakan target jangka panjang Thailand adalah menembus persaingan level kontinental, dengan Piala Asia 2027 sebagai salah satu misi utama yang ingin diwujudkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Chanathip di tengah persiapan timnas Thailand menghadapi agenda kompetisi internasional. Menurutnya, status sebagai kekuatan terbesar di kawasan ASEAN harus dijadikan batu loncatan, bukan tujuan akhir. Ia menilai sepak bola Thailand sudah berada pada fase yang menuntut standar lebih tinggi, terutama jika ingin bersaing dengan negara-negara Asia Timur dan Asia Barat yang secara tradisional mendominasi Piala Asia.
Dari Raja ASEAN ke Panggung Asia
Thailand memang lama dikenal sebagai salah satu kekuatan dominan di Asia Tenggara. Trofi Piala AFF berulang kali diraih, dan pemain-pemain Thailand menjadi langganan klub-klub papan atas di liga regional. Namun, Chanathip menilai prestasi di level ASEAN tidak lagi cukup untuk mengukur kemajuan sepak bola negaranya.
Ia menyebut Piala Asia 2027 sebagai target yang harus dikejar dengan persiapan serius. Menurutnya, Thailand perlu membangun skuad yang mampu bersaing selama turnamen berlangsung, bukan hanya sekadar lolos dari fase grup. Pengalaman bertanding di level tertinggi Asia, kata dia, menjadi modal penting bagi generasi pemain saat ini maupun mendatang.
Chanathip sendiri memiliki pengalaman berharga bermain di Jepang bersama Consadole Sapporo dan Kawasaki Frontale. Ia pernah merasakan langsung kerasnya kompetisi J1 League, yang menurutnya jauh berbeda dari Liga Thailand. Pengalaman itu membuatnya memahami jarak yang masih harus ditempuh sepak bola Thailand untuk bersaing di level Asia.
Kualitas Pemain dan Pembinaan Usia Muda
Dalam sejumlah kesempatan, Chanathip menekankan pentingnya pembinaan pemain muda berkelanjutan. Ia menilai Thailand memiliki cukup banyak talenta, tetapi perlu sistem yang mampu mengantar mereka ke level kompetisi lebih tinggi. Keberanian pemain muda untuk berkarier di luar negeri disebutnya sebagai salah satu kunci.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya kompetisi domestik yang kompetitif. Liga Thailand disebutnya perlu terus meningkatkan standar, baik dari sisi taktik, fisik, maupun manajemen klub. Menurutnya, pemain yang terbiasa berlaga di liga berkualitas akan lebih siap menghadapi tekanan di turnamen internasional.
Chanathip juga menyoroti peran pelatih dan staf teknis dalam membangun identitas permainan timnas. Ia menilai Thailand perlu memiliki gaya bermain yang khas dan konsisten, sehingga pemain dapat beradaptasi dengan cepat dalam berbagai skema pertandingan. Konsistensi ini dinilai penting untuk menghadapi lawan-lawan yang memiliki kualitas berbeda di setiap fase turnamen.
Tantangan Menuju Piala Asia 2027
Jalan menuju Piala Asia 2027 tidak akan mudah. Thailand harus melewati babak kualifikasi yang menuntut konsistensi performa. Sejumlah negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam, Indonesia, dan Malaysia juga terus berkembang, sehingga persaingan di kawasan semakin ketat.
Di level Asia, tim-tim seperti Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi, dan Australia masih menjadi penentu standar. Thailand perlu menutup jarak dalam hal fisik, kedalaman skuad, dan pengalaman bertanding di turnamen besar. Namun, Chanathip menilai hal itu bukan sesuatu yang mustahil jika persiapan dilakukan dengan benar.
Ia berharap generasi pemain saat ini dapat meninggalkan warisan berupa peningkatan standar, bukan hanya koleksi trofi regional. Menurutnya, keberhasilan di Piala Asia akan menjadi bukti bahwa sepak bola Thailand benar-benar naik kelas.
Dukungan Suporter dan Ekosistem Sepak Bola
Chanathip juga tidak melupakan peran suporter. Ia menyebut dukungan penonton Thailand sebagai salah satu kekuatan terbesar tim. Atmosfer di stadion, baik saat laga kandang maupun away, dinilainya mampu memberi energi tambahan bagi pemain.
Namun, ia mengingatkan bahwa dukungan harus diimbangi dengan ekosistem sepak bola yang sehat. Mulai dari pembinaan usia dini, kompetisi remaja, hingga pengelolaan klub profesional perlu berjalan seiring. Tanpa itu, target jangka panjang seperti bersaing di Piala Asia akan sulit diwujudkan secara konsisten.
Dengan kontrak dan karier yang masih berjalan, Chanathip berharap dapat menjadi bagian dari perjalanan Thailand menuju Piala Asia 2027. Ia menyadari usia tidak lagi muda, tetapi pengalaman yang dimiliki diyakini bisa membantu tim, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Ambisi yang Terukur
Pernyataan Chanathip mencerminkan pergeseran cara pandang sepak bola Thailand. Gelar juara ASEAN tetap penting, tetapi bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan. Piala Asia 2027 dijadikan patokan baru untuk mengukur sejauh mana kemajuan yang telah dicapai.
Apakah ambisi itu terwujud, tentu bergantung pada kerja keras seluruh elemen sepak bola Thailand. Namun, pesan Chanathip jelas: menjadi raja ASEAN saja tidak cukup. Thailand ingin dikenal lebih luas di panggung Asia, dan Piala Asia 2027 menjadi momen yang mereka incar untuk membuktikannya.
Komentar (0)