30, 2026
Internasional

Chuseok di Korea Selatan: Siapkan Rp 4,13 Juta Hanya untuk Hidangan

Dimas Permana
Dimas Permana Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Perayaan Chuseok atau festival panen musim gugur di Korea Selatan tahun ini kembali menyoroti beban ekonomi yang harus ditanggung rumah tangga. Survei terbaru mengungkap bahwa rata-rata keluarga di Korea Selatan harus menyiapkan dana sekitar 380.000 won atau setara Rp 4,13 juta hanya untuk membeli bahan hidangan ritual dan sajian keluarga selama periode libur nasional tersebut.

Beban Biaya Hidangan Ritual Chuseok

Angka tersebut berasal dari survei yang dilakukan terhadap ratusan rumah tangga di berbagai wilayah Korea Selatan menjelang hari raya. Biaya sebesar itu dialokasikan untuk membeli bahan-bahan pembuatan tteok, jeon, serta aneka lauk yang disajikan dalam ritual leluhur yang dikenal sebagai charye. Sebagian besar pengeluaran tersedot oleh harga daging sapi, buah-buahan musiman, dan sayuran yang melonjak menjelang puncak permintaan.

Menurut data yang dihimpun, kelompok bahan pangan dengan kenaikan harga paling mencolok adalah buah-buahan seperti apel dan pir, serta daging sapi impor maupun lokal. Kedua komoditas ini memang menjadi sajian wajib dalam meja persembahan Chuseok, sehingga permintaan rumah tangga meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir sebelum perayaan berlangsung.

Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, total pengeluaran rumah tangga untuk hidangan Chuseok tercatat mengalami kenaikan moderat. Kenaikan ini sejalan dengan inflasi pangan yang masih berlangsung di Korea Selatan, meskipun laju kenaikan harga secara umum mulai melandai. Pemerintah Korea Selatan sebelumnya mengumumkan sejumlah langkah stabilisasi harga pangan menjelang musim libur panjang, termasuk operasi pasar murah dan pasokan cadangan dari stok negara.

Meski demikian, survei menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa beban biaya tetap terasa berat. Kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah disebut paling terdampak, terutama karena tradisi Chuseok menuntut persiapan hidangan yang relatif lengkap untuk menyambut keluarga besar.

Faktor Pendorong Mahalnya Hidangan Chuseok

Ada beberapa faktor yang membuat biaya hidangan Chuseok tetap tinggi. Pertama, permintaan musiman yang memuncak dalam waktu singkat menciptakan tekanan pada harga di pasar tradisional maupun ritel modern. Kedua, cuaca ekstrem dan perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir memengaruhi hasil panen sejumlah komoditas hortikultura, sehingga pasokan tidak selalu dapat mengimbangi permintaan.

Ketiga, biaya logistik dan distribusi yang meningkat turut mendorong harga di tingkat konsumen. Hal ini diperparah oleh struktur rantai pasok yang panjang, terutama untuk produk pertanian dan peternakan yang harus melewati beberapa perantara sebelum sampai ke meja konsumen.

Pengamat ekonomi rumah tangga menilai bahwa pola konsumsi saat Chuseok juga mulai bergeser. Sejumlah keluarga memilih mengurangi jumlah jenis hidangan atau mengganti bahan tertentu dengan alternatif yang lebih murah. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya penjualan paket bahan masakan siap olah dan hidangan jadi yang dijual di pasar swalayan serta platform belanja daring.

Pergeseran Tradisi dan Strategi Rumah Tangga

Selain menekan anggaran, sebagian rumah tangga memilih merayakan Chuseok dengan cara yang lebih sederhana. Tradisi berkumpul dan berbagi makanan tetap dijaga, tetapi jumlah hidangan yang disiapkan dikurangi agar tidak membebani keuangan keluarga. Pilihan lain adalah membeli bahan dalam jumlah lebih kecil namun berulang, serta memanfaatkan diskon yang ditawarkan peritel menjelang hari raya.

Pemerintah daerah di beberapa provinsi juga melaporkan lonjakan kunjungan ke pasar tradisional pada pekan terakhir sebelum Chuseok. Pembeli umumnya membandingkan harga di beberapa kios sebelum memutuskan berbelanja, sebuah kebiasaan yang makin lazim di tengah tekanan biaya hidup.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Chuseok secara historis merupakan momen penting bagi keluarga Korea Selatan untuk berkumpul, mengenang leluhur, dan berbagi rezeki. Namun, tingginya biaya hidangan menimbulkan efek sosial tersendiri. Sebagian warga mengaku merasa terbebani secara psikologis karena tuntutan sosial untuk menyajikan meja persembahan yang lengkap, meskipun kemampuan finansial terbatas.

Di sisi lain, periode Chuseok tetap menjadi pendorong konsumsi domestik. Sektor ritel, pasar tradisional, dan usaha kecil mencatat peningkatan omzet signifikan pada pekan-pekan menjelang perayaan. Pemerintah memanfaatkan momentum ini untuk menggenjot belanja rumah tangga sekaligus menjaga stabilitas harga bahan pangan pokok.

Pengeluaran rata-rata rumah tangga sebesar 380.000 won untuk hidangan Chuseok menjadi cerminan kompleksnya tantangan ekonomi di Korea Selatan. Di satu sisi, tradisi dan nilai budaya tetap menjadi prioritas. Di sisi lain, tekanan harga pangan membuat banyak keluarga harus menyesuaikan diri dengan realitas anggaran yang makin ketat. Perdebatan mengenai seberapa besar biaya yang wajar dikeluarkan untuk sebuah tradisi diperkirakan akan terus berlanjut pada musim libur berikutnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dimas Permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter