23, 2026
Olahraga

Como Tim Italia Kedua yang Bantai MU di Liga Champions

Como 1907 mengganyang Manchester United 4-1 di Liga Champions. I Lariani jadi tim Italia kedua yang menang 3 gol atau lebih atas MU di pentas tertinggi Eropa.]]>

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Como Tim Italia Kedua yang Bantai MU di Liga Champions

Como menorehkan sejarah baru dalam petualangan mereka di Liga Champions. Kemenangan telak atas Manchester United di Stadio Giuseppe Sinigaglia menjadikan klub asal Lombardia itu tim Italia kedua yang mampu membantai wakil Inggris tersebut di kompetisi elite Eropa, setelah AC Milan melakukannya pada 2007. Hasil ini bukan sekadar tiga angka, melainkan penegasan bahwa kejutan Como musim ini bukan kebetulan belaka.

Sejak menit awal, anak asuh pelatih kepala tampil tanpa rasa segan terhadap tim yang datang dengan reputasi raksasa Eropa. Como menekan tinggi, memotong jalur umpan pendek MU, dan memaksa lini belakang tamu bermain dengan bola panjang yang mudah dibaca. Pola itu berbuah cepat: dua gol tercipta di babak pertama ketika MU masih berusaha menemukan ritme, dan gol ketiga di paruh kedua memastikan kemenangan tanpa balas bagi tuan rumah.

Pressing Tinggi yang Membuat MU Tak Berkutik

Kunci kemenangan Como terletak pada disiplin tanpa bola. Lini depan bekerja sebagai unit pertama pertahanan, sementara gelandang tengah menutup ruang di antara garis. MU, yang mengandalkan transisi cepat, justru kehilangan ruang untuk berlari. Setiap kali bola dikuasai di area tengah, dua sampai tiga pemain Como langsung mengerumuni dan memaksa kesalahan.

Statistik pertandingan menggambarkan dominasi yang tidak selalu tampak dari penguasaan bola. MU memang memegang bola lebih lama, tetapi sebagian besar penguasaan itu terjadi di area tanpa ancaman. Sebaliknya, Como lebih efisien: setiap serangan balik terasa berbahaya, dan kiper tamu dipaksa bekerja keras sepanjang laga. Pertahanan tuan rumah juga tampil rapat, menutup ruang tembak dari luar kotak penalti dan memenangi hampir semua duel udara di kotak sendiri.

Keputusan Taktik yang Tepat

Pelatih Como memilih formasi yang fleksibel, berubah antara tiga dan empat pemain di lini belakang tergantung fase permainan. Ketika menyerang, bek sayap naik tinggi untuk menciptakan keunggulan jumlah di sisi lapangan. Ketika bertahan, formasi berubah menjadi blok rendah yang sulit ditembus. Fleksibilitas itu membuat MU kesulitan menentukan titik fokus serangan, dan berkali-kali umpan silang tamu berakhir tanpa penerima.

Di sisi lain, Manchester United tampil jauh dari standar yang diharapkan. Lini tengah mereka kalah dalam duel dan terlambat dalam menutup ruang, sementara lini depan minim pelayanan. Beberapa peluang terbaik tamu justru lahir dari situasi bola mati, dan itupun mampu diantisipasi dengan baik oleh pertahanan Como. Pergantian pemain yang dilakukan di babak kedua tidak mengubah arah pertandingan secara signifikan.

Jejak Milan 2007 dan Konteks Sejarah

Bagi publik Italia, kemenangan ini mengingatkan pada malam ketika AC Milan menghancurkan MU di San Siro pada semifinal Liga Champions 2006-2007. Saat itu, Milan menang tiga gol tanpa balas dan melaju ke final sebelum menaklukkan Liverpool di Athena. Kini, dua dekade kemudian, giliran klub kecil dari Danau Como yang membuat wakil Inggris pulang dengan kepala tertunduk.

Yang membuat capaian ini menarik adalah perbedaan skala antara kedua klub. Milan pada 2007 adalah juara Eropa dengan skuad penuh bintang. Como datang sebagai tim yang baru kembali ke kompetisi Eropa setelah sekian lama absen, dengan anggaran yang jauh lebih kecil dan skuad yang dihuni banyak pemain muda. Namun sepak bola modern kerap menghadirkan kejutan ketika organisasi permainan lebih baik daripada nama besar di atas kertas.

Makna bagi Como

Kemenangan ini membuka peluang Como untuk berbicara lebih jauh di fase liga Liga Champions. Tambahan tiga poin menjaga mereka dalam persaingan menuju babak gugur, sekaligus menaikkan kepercayaan diri skuad. Bagi klub dengan sejarah panjang namun jarang tampil di panggung Eropa, malam seperti ini akan dikenang lama oleh pendukung di sekitar Danau Como.

Pelatih dan para pemain memilih tetap membumi setelah laga. Mereka menekankan bahwa satu kemenangan tidak mengubah apa pun secara instan, dan fokus kini beralih ke pertandingan berikutnya di kompetisi domestik. Pesan itu masuk akal: Liga Champions menuntut konsistensi, dan lawan-lawan berikutnya akan mempelajari cara Como membongkar MU.

Pelajaran bagi Manchester United

Bagi MU, kekalahan ini menambah tekanan pada musim yang sudah berjalan tidak stabil. Kritik terhadap struktur permainan dan ketajaman lini depan kembali menguat. Kekalahan dari tim yang dianggap tidak diunggulkan akan menjadi bahan evaluasi, terutama karena pola kekalahan mereka mirip dengan beberapa laga sebelumnya: kesulitan menghadapi pressing tinggi dan lambat dalam mengubah penguasaan bola menjadi peluang nyata.

Secara keseluruhan, laga di Sinigaglia menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola Eropa, hierarki tidak lagi sesederhana nama besar melawan tim kecil. Como telah menempatkan diri mereka dalam daftar tim Italia yang mampu membantai Manchester United di Liga Champions, menemani Milan yang melakukannya hampir dua dekade lalu. Kini tugas berikutnya adalah membuktikan bahwa malam bersejarah itu bukan puncak, melainkan awal dari sesuatu yang lebih panjang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter