01, 2026
Teknologi

Cukup Pakai Pikiran, Kursi Roda Ini Bisa Melaju dan Berbelok

Citra Anggraini
Citra Anggraini Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Sebuah terobosan baru dalam teknologi bantuan mobilitas kembali mencuri perhatian dunia riset. Para peneliti mengembangkan kursi roda yang dapat dikendalikan hanya dengan pikiran penggunanya, tanpa perlu joystick, sensor gerak tubuh, maupun perintah suara. Teknologi ini membuka harapan baru bagi penyandang disabilitas motorik berat, terutama mereka yang mengalami kelumpuhan total atau penyakit degeneratif seperti amyotrophic lateral sclerosis (ALS), untuk kembali memiliki kemandirian bergerak.

Menerjemahkan Sinyal Otak Menjadi Gerakan

Kursi roda pintar ini bekerja dengan cara menangkap sinyal listrik dari otak melalui antarmuka brain-computer interface (BCI). Pengguna mengenakan perangkat elektroda yang ditempatkan di kulit kepala atau, pada sejumlah uji coba, melalui implan yang ditanamkan di permukaan otak. Sinyal tersebut kemudian diproses oleh algoritma pembelajaran mesin yang telah dilatih untuk mengenali pola tertentu, misalnya niat untuk maju, mundur, berbelok ke kiri, atau berhenti.

Setelah pola teridentifikasi, perintah dikirim ke sistem kendali kursi roda. Motor listrik pada roda kemudian menggerakkan kursi sesuai intensi pengguna. Menurut tim peneliti, latensi atau jeda antara niat dan gerakan nyata menjadi tantangan utama. Namun, dengan pemrosesan sinyal yang semakin cepat dan model kecerdasan buatan yang adaptif, jeda tersebut dapat ditekan hingga hitungan milidetik, sehingga pergerakan terasa lebih alami.

Uji Coba dan Hasil Awal

Dalam sejumlah uji laboratorium, partisipan yang mengalami tetraplegia atau kelumpuhan pada keempat anggota tubuh berhasil mengendalikan kursi roda untuk menavigasi ruangan, melewati lorong sempit, bahkan menghindari rintangan statis. Tingkat akurasi perintah dilaporkan berada di atas 85 persen setelah sesi pelatihan beberapa hari. Angka ini tergolong menjanjikan mengingat sinyal otak bersifat fluktuatif dan mudah terganggu oleh kelelahan, emosi, atau gangguan eksternal.

Beberapa institusi riset juga tengah menguji pendekatan hybrid, yakni menggabungkan sinyal otak dengan pelacakan arah pandang mata. Pendekatan ini dimaksudkan untuk memperkaya perintah dan mengurangi kesalahan interpretasi. Misalnya, pengguna cukup memikirkan arah tujuan sambil menatap titik tertentu di ruangan, lalu sistem akan mengombinasikan kedua input tersebut untuk menentukan lintasan terbaik.

Tantangan Teknis dan Etis

Kendati menjanjikan, teknologi ini masih menghadapi sejumlah kendala. Pertama, perangkat BCI non-invasif memiliki rasio sinyal terhadap derau yang rendah, sehingga sulit membaca perintah kompleks. Sementara itu, implan invasif menawarkan sinyal lebih jernih, tetapi memerlukan prosedur bedah dengan risiko infeksi dan penolakan jaringan. Kedua, biaya pengembangan dan produksi masih sangat tinggi, sehingga aksesibilitas bagi masyarakat luas belum terwujud dalam waktu dekat.

Dari sisi etika, muncul pertanyaan tentang perlindungan data saraf. Sinyal otak mengandung informasi sensitif yang dapat mengungkap kondisi kesehatan, preferensi, bahkan emosi seseorang. Regulasi mengenai kepemilikan dan penggunaan data neural masih sangat minim di banyak negara, termasuk Indonesia. Para peneliti menyerukan adanya kerangka hukum yang jelas sebelum teknologi ini dipasarkan secara massal.

Prospek Masa Depan

Meski demikian, arah perkembangan teknologi ini semakin kuat. Beberapa perusahaan teknologi dan laboratorium universitas telah menjalin kemitraan untuk mempercepat prototipe menuju tahap produksi. Mereka menargetkan kursi roda berbasis pikiran dapat tersedia secara komersial dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, dengan harga yang terus ditekan seiring kemajuan chip dan algoritma.

Bagi penyandang disabilitas, kehadiran teknologi ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan pintu menuju martabat dan kemandirian. Kemampuan berpindah tempat tanpa bantuan orang lain berdampak langsung pada kualitas hidup, kesehatan mental, serta peluang partisipasi sosial dan ekonomi. Jika tantangan teknis, biaya, dan regulasi dapat diatasi, kursi roda yang dikendalikan pikiran berpotensi menjadi standar baru dalam layanan rehabilitasi medis di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Citra Anggraini

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter