09, 2026
Ekonomi

Danantara Mau Ambil Saham BEI 5% Lebih, OJK: Infrastruktur Belum Siap

OJK menanggapi rencana BPI Danantara untuk mengambil 5-10% saham BEI. Namun, demutualisasi masih terhambat oleh infrastruktur.]]>

Hendra Wijaya
Hendra Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Danantara Mau Ambil Saham BEI 5% Lebih, OJK: Infrastruktur Belum Siap

Danantara Mau Ambil Saham BEI 5% Lebih, OJK: Infrastruktur Belum Siap

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) kini bernama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa infrastruktur pasar modal Indonesia belum siap untuk menampung penawaran saham (IPO) sebesar 5% dari total kapitalisasi pasar. Pernyataan ini disampaikan dalam tanggapan terkait rencana Danantara Capital Management yang mengajukan izin untuk menawarkan saham sebesar 5% dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ketua OJK, Wimboh Santoso, mengatakan bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pasar modal, persiapan infrastruktur teknis dan regulasi masih belum memadai untuk menampung penawaran saham dalam skala sebesar itu. "Kami mengapresiasi semangat Danantara dalam mengajukan proposal yang sangat agresif ini. Namun, dari sisi regulasi dan teknis, kami belum bisa menyetujuinya," ujar Wimboh dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (15/11).

Rencana Ambil Saham BEI 5%

Danantara Capital Management, manajer investasi yang berbasis di Singapura dengan fokus pada pasar Asia Tenggara, mengumumkan rencana mengajukan izin kepada OJK untuk melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) sebesar 5% dari total kapitalisasi pasar BEI. Rencana ini diumumkan oleh CEO Danantara, Michael Tan, dalam sebuah surat yang diterima oleh OJK pada awal November lalu.

Dalam surat tersebut, Tan menjelaskan bahwa rencana ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas dan partisipasi investor di pasar modal Indonesia. "Kami percaya bahwa dengan menawarkan saham BEI sebesar 5%, kita dapat menarik minat investor domestik dan internasional serta meningkatkan profil pasar modal Indonesia secara global," ujar Tan.

Rencana Danantara ini cukup mengejutkan karena skala penawarannya yang jauh lebih besar dibandingkan IPO biasa yang biasanya berkisar antara 10-30% dari saham perusahaan yang go public. Jika disetujui, ini akan menjadi IPO terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia bahkan dunia.

Tanggapan OJK

Menanggapi rencana tersebut, OJK menyatakan beberapa alasan mengapa rencana ini belum bisa disetujui. Pertama, dari sisi teknis, infrastruktur bursa termasuk sistem perdagangan, penyelesaian, dan kliring belum dirancang untuk menangani transaksi dalam skala sebesar itu.

Kedua, dari sisi regulasi, peraturan yang ada belum mengatur mekanisme penawaran saham dalam proporsi yang begitu besar terhadap kapitalisasi pasar. "Kami perlu waktu untuk mengevaluasi dampaknya terhadap stabilitas pasar dan perlindungan investor," jelas Wimboh.

Ketiga, OJk khawatir penawaran sebesar itu dapat menyebabkan volatilitas harga yang tidak sehat di pasar. "Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil untuk mengembangkan pasar modal tidak membahayakan stabilitas secara keseluruhan," tambahnya.

Reaksi dari Pelaku Pasar

Reaksi dari pelaku pasar terhadap rencana Danantara bervariasi. Beberapa analis menyatakan kagum dengan ambisi Danantara namanya mengakui tantangannya. "Ini adalah proposal yang sangat agresif dan menunjukkan kepercayaan yang besar terhadap potensi pasar Indonesia. Namun, implementasinya membutuhkan persiapan yang matang," kata Ridwan Djamaluddin, kepala riset di sebuah sekuritas lokal.

Di sisi lain, ada juga yang mengkhawatirkan dampak negatif jika rencana ini terlalu ditekan. "Kami mendukung inovasi, namun stabilitas pasar harus menjadi prioritas utama. Pasar modal Indonesia masih relatif muda dan rentan terhadap gejolak eksternal," ujar Siti Fadilah, seorang investor institusional.

Menanggapi reaksi pasar, Michael Tan menyatakan bahwa Danantara siap bekerja sama dengan OJK untuk menyesuaikan rencana mereka. "Kami memahami kekhawatiran OJK dan siap untuk membahas berbagai opsi yang memungkinkan. Tujuan kami tetap sama, yaitu membawa pasar modal Indonesia ke level global," ujarnya.

Masa Depan Pasar Modal Indonesia

Insiden ini menunjukkan bahwa meskipun pasar modal Indonesia telah mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir, tantangan dalam mengembangkan infrastruktur dan regulasi masih sangat signifikan. OJK telah menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan kesiapan pasar, namanya membutuhkan waktu dan koordinasi yang intensif.

"Kami berencana untuk melakukan berbagai pembaruan regulasi dan infrastruktur dalam waktu dekat. Ini adalah proses yang harus dilakukan secara bertahap untuk memastikan kestabilan pasar," kata Wimboh menutup konferensi pers.

Sementara itu, pasar terus menantikan keputusan akhir dari OJK terkait proposal Danantara. Bagi banyak pihak, kasus ini menjadi ujian bagi kematangan pasar modal Indonesia dalam menghadapi tantangan global sambil mempertahankan stabilitas domestik.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter