Nama Ridwan Alimuddin erat dikaitkan dengan upaya pelestarian sandeq, perahu layar tradisional masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Melalui buku, film dokumenter, dan berbagai kegiatan lapangan, ia konsisten memperkenalkan sandeq bukan sekadar sebagai alat transportasi nelayan, melainkan sebagai warisan budaya bahari yang menyimpan pengetahuan turun-temurun tentang navigasi, pembuatan perahu, dan pembacaan alam.
Ridwan lahir dan tumbuh di Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, sebuah kawasan pesisir yang sejak lama menjadi salah satu pusat kehidupan bahari orang Mandar. Lingkungan itulah yang membentuk kedekatannya dengan laut dan perahu. Ketertarikannya pada sandeq tumbuh dari pengalaman sehari-hari melihat nelayan mengarungi perairan dengan perahu layar bermuatan layar segitiga tersebut.
Sandeq dan Identitas Bahari Orang Mandar
Sandeq adalah perahu layar khas Mandar yang dikenal ringan, lincah, dan mampu melaju cepat. Perahu ini digunakan nelayan untuk menangkap ikan, mengangkut hasil bumi, hingga berlayar jarak jauh. Layar segitiga yang lebar memungkinkan perahu memanfaatkan angin dengan efisien, sementara bentuk lambung yang ramping membuatnya mudah bermanuver di perairan terbuka.
Bagi masyarakat Mandar, sandeq bukan hanya benda material. Perahu ini melekat dengan pengetahuan tentang arah angin, arus, tanda-tanda cuaca, serta keterampilan pembuat perahu yang diwariskan secara lisan. Pengetahuan itu, menurut berbagai kalangan, berada di bawah tekanan modernisasi ketika kapal bermotor semakin dominan dan minat generasi muda terhadap perahu layar menurun.
Dalam sejumlah kesempatan, Ridwan menegaskan bahwa sandeq merupakan penanda identitas orang Mandar sebagai pelaut. Karena itu, pelestariannya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan foto atau replika, tetapi dengan menjaga praktik, keterampilan, dan pengetahuan yang melingkupinya tetap hidup.
Dari Kehidupan Pesisir ke Dokumentasi
Perjalanan Ridwan sebagai perekam budaya bahari berlangsung melalui jalur dokumentasi visual dan penulisan. Ia dikenal sebagai pembuat film dokumenter yang banyak mengangkat tema kehidupan masyarakat pesisir, khususnya nelayan dan pembuat perahu di Sulawesi Barat. Karya-karyanya membawa cerita tentang laut Mandar ke forum yang lebih luas, termasuk festival film dan pertemuan budaya di dalam maupun luar negeri.
Selain film, Ridwan menulis buku-buku yang mengupas kehidupan orang Mandar dan kebudayaan baharinya. Lewat tulisan, ia berupaya menghimpun pengetahuan yang sebelumnya tersebar dalam ingatan para pelaut dan pengrajin. Upaya ini penting karena banyak praktik pembuatan perahu tidak terdokumentasi secara tertulis dan hanya diwariskan melalui pengalaman langsung.
Dokumentasi yang dilakukan Ridwan mencakup hal-hal teknis, seperti pemilihan kayu, teknik menyusun papan lambung, hingga cara memasang layar. Namun ia juga merekam dimensi sosial dan ekonomi: bagaimana nelayan menghadapi perubahan harga, cuaca yang makin sulit diprediksi, dan persaingan dengan kapal berbahan bakar mesin.
Regenerasi dan Tantangan Pelestarian
Salah satu persoalan utama yang kerap disorot adalah regenerasi. Jumlah pembuat sandeq yang menguasai teknik tradisional terus berkurang, sementara biaya bahan baku kayu berkualitas meningkat. Kondisi ini membuat perahu layar sulit bersaing secara ekonomi dengan kapal motor yang dianggap lebih praktis.
Ridwan memandang pelestarian sandeq perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, bukan hanya sebagai upaya konservasi benda. Menurutnya, sandeq memiliki nilai budaya, sejarah, dan pariwisata yang dapat menjadi modal bagi masyarakat pesisir jika dikelola dengan tepat. Perahu ini juga dinilai relevan sebagai simbol daerah dalam berbagai kegiatan promosi budaya.
Berbagai inisiatif kemudian tumbuh, antara lain pelayaran bersama antarwilayah, pertemuan komunitas pelaut, serta kegiatan edukasi yang melibatkan sekolah dan kelompok pemuda. Sandeq pun mulai dikenal lebih luas melalui lomba dan ekspedisi yang memperlihatkan kemampuan perahu tradisional menempuh perairan jauh.
Dalam konteks itu, peran Ridwan Alimuddin banyak disebut sebagai salah satu penggerak dokumentasi dan promosi budaya bahari Mandar. Dedikasinya memperlihatkan bahwa pelestarian warisan budaya tidak selalu berlangsung melalui kebijakan besar, tetapi juga melalui pencatatan yang tekun, penyebaran cerita, dan keterlibatan langsung bersama masyarakat.
Menjaga Pengetahuan Tetap Berlayar
Hingga kini, laut tetap menjadi ruang kerja sekaligus ruang belajar bagi masyarakat pesisir Sulawesi Barat. Sandeq yang masih terlihat di perairan menjadi pengingat bahwa pengetahuan bahari Nusantara terbentuk dari pengalaman panjang dan bukan sekadar teknologi masa lalu.
Upaya yang dilakukan Ridwan menunjukkan bahwa pelestarian budaya bahari membutuhkan dua hal sekaligus: penghargaan terhadap para pelaku tradisi dan penyediaan ruang bagi generasi berikutnya untuk terus mempraktikkannya. Tanpa keduanya, dokumentasi berisiko berhenti sebagai arsip tanpa penerus.
Bagi banyak pihak, sandeq adalah wajah kebudayaan Mandar yang paling dikenal. Menjaga perahu layar itu tetap dibuat, dikemudikan, dan diceritakan berarti menjaga identitas masyarakat pesisir yang telah lama hidup bersama angin dan gelombang.
Komentar (0)