14, 2026
Nasional

Densus 88 Polri Perkuat Deteksi Dini Ekstremisme di Sekolah

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Densus 88 Polri Perkuat Deteksi Dini Ekstremisme di Sekolah

Tim Deteksi Dini dan Penanggulangan Terorisme Densus 88 Polri memperkuat upaya deteksi dini ekstremisme di lingkungan sekolah. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran ideologi radikal yang mengancam stabilitas nasional, terutama di kalangan generasi muda.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Irjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, mengatakan bahwa pihaknya telah melaksanakan berbagai program edukasi dan koordinasi dengan pihak sekolah untuk mengidentifikasi potensi penyebaran ekstremisme. "Kita melihat bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan formal menjadi sasaran para pelaku terorisme untuk menarik simpati dan mencari anggota baru," ujarnya.

Strategi Deteksi Dini yang Diterapkan

Densus 88 telah mengembangkan beberapa strategi dalam mendeteksi dini potensi ekstremisme di lingkungan sekolah. Pertama, melalui program edukasi anti-terorisme yang disesuaikan dengan kalangan pelajar. Program ini bertujuan memberikan pemahaman tentang bahaya ekstremisme dan terorisme kepada siswa.

Kedua, melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan lembaga pendidikan lainnya untuk membangun jaringan deteksi dini. "Kita bekerja sama dengan para kepala sekolah, guru, dan staf administrasi untuk memantau aktivitas mencurigakan di lingkungan sekolah," jelas seorang pejabat Densus 88 yang memilih tidak disebutkan namanya.

Ketiga, melakukan pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan tentang tanda-tanda potensi ekstremisme di kalangan siswa. Para guru dilatih untuk mengenali perubahan perilaku, pemilihan teman, atau aktivitas online yang mencurigakan.

Potensi Ancaman di Lingkungan Pendidikan

Berdasarkan data yang diperoleh, para pelaku terorisme semakin kreatif dalam menjangkau calon anggota mereka di lingkungan sekolah. Mereka memanfaatkan media sosial dan platform online untuk menyebarkan ideologi radikal dengan cara yang lebih halus dan tidak langsung.

Densus 88 juga mengidentifikasi adanya potensi rekruitmen melalui kelompok keagamaan ekstrem di dalam sekolah. Kelompok-kelompok ini seringkali menyembunyikan kegiatan ekstremisme di bawah tuduhan kegiatan keagamaan yang sah.

Kolaborasi dengan Pihak Terkait

Untuk mengatasi ancaman ini, Densus 88 melakukan kolaborasi intensif dengan berbagai pihak terkait. Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, dan pemerintah daerah menjadi mitra strategis dalam mencegah penyebaran ekstremisme di lingkungan sekolah.

"Kita perlu pendekatan holistik yang melibatkan semua pihak. Tidak hanya dari sisi keamanan, tetapi juga pendidikan, psikologi, dan sosial," ujar seorang ahli keamanan dari Universitas Indonesia yang terlibat dalam program ini.

Program kerja sama ini meliputi penyelenggaraan seminar, pelatihan, dan forum diskusi tentang bahaya ekstremisme bagi siswa, guru, dan orang tua. Selain itu, juga dibentuk satuan tugas anti-ekstremisme di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang terdiri dari unsur kepolisian, pendidikan, dan agama.

Tantangan dalam Deteksi Dini

Meskipun telah berbagai upaya dilakukan, Densus 88 mengakui masih banyak tantangan dalam mendeteksi dini ekstremisme di lingkungan sekolah. Salah satu tantangan utama adalah sulitnya membedakan antara ekspresi keagamaan yang sah dengan ekstremisme yang berbahaya.

Tantangan lainnya adalah kurangnya kesadaran dari pihak sekolah tentang pentingnya deteksi dini ekstremisme. Beberapa pihak masih menganggap masalah ini bukan tanggung jawab mereka atau khawatir akan menimbulkan stigma negatif bagi sekolah.

Langkah ke Depan

Menghadapi berbagai tantangan ini, Densus 88 berencana untuk memperkuat program deteksi dini ekstremisme di sekolah. Langkah-langkah yang akan diambil antara lain adalah meningkatkan koordinasi dengan pihak sekolah, mengembangkan materi edukasi yang lebih relevan bagi kalangan muda, serta memperluas jaringan deteksi dini hingga ke tingkat RT/RW.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter