24, 2026
Teknologi

Dimsum, Seragam Restoran, dan Pencarian Kerja yang Belum Usai

Hendra Hartono
Hendra Hartono Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

**Dimsum, Seragam Restoran, dan Pencarian Kerja yang Belum Usai** Pagi di dapur restoran selalu dimulai dengan uap. Uap dari kukusan besar yang mengepul pelan, membawa aroma udang, ayam, dan tepung yang baru dikukus. Aku berdiri di depan meja stainless, mengenakan seragam restoran yang sudah menjadi kulit keduaku selama beberapa bulan terakhir: kemeja putih lengan pendek, celemek hitam, dan topi kecil yang kadang terasa lebih berat dari seharusnya. Di tangan, sepasang sumpit kayu bergerak cepat memindahkan dimsum dari baki ke piring saji. Siu mai, har gow, lumpia udang, ceker ayam, dan bakpao kecil tersusun rapi seperti pasukan yang siap dikirim ke meja pelanggan. Kalau dilihat dari luar, pekerjaan ini sederhana. Mengukus, menata, mengantar, lalu mengulanginya lagi. Tetapi tidak ada yang benar-benar sederhana ketika kita sedang mencari kerja. Setiap pagi aku datang lebih awal, bukan hanya karena absensi, tetapi karena aku masih berharap hari ini akan berbeda. Mungkin setelah shift selesai ada panggilan interview. Mungkin ada email balasan yang masuk ke kotak pesan. Mungkin lowongan yang kukirim minggu lalu akhirnya dibuka. Harapan itu kecil, tapi cukup untuk membuatku tetap mengenakan seragam ini dengan rapi. Seragam restoran punya cara aneh untuk mengingatkan siapa diriku saat ini. Di kantong celemek ada pulpen, catatan pesanan, dan kadang sobekan kertas berisi nama perusahaan yang harus kuhubungi. Di sela jam istirahat, aku membuka ponsel dan menyapu layar lowongan kerja. Jempolku bergerak cepat, mataku membaca syarat demi syarat: pendidikan minimal, pengalaman dua tahun, mampu bekerja di bawah tekanan, bersedia lembur. Ada kalanya aku merasa cocok, ada kalanya aku merasa hanya menjadi angka di antara ratusan pelamar. Aku kirim lamaran, lalu menunggu. Menunggu adalah pekerjaan kedua yang tidak pernah masuk hitungan gaji. Dimsum mengajarkanku tentang kesabaran yang aneh. Adonan tidak bisa dipaksa matang. Kulit pangsit yang terlalu tipis akan sobek, isian yang terlalu banyak akan membuat bentuknya rusak. Semua harus pas, dan semua butuh waktu. Begitu pula dengan pencarian kerja. Aku sudah belajar menulis surat lamaran yang tidak terlalu panjang, merapikan CV, dan berlatih menjawab pertanyaan interview di kamar kos. Tetapi hasilnya belum juga datang. Ada kalanya aku merasa seperti dimsum yang salah kukus: sudah berusaha matang, tetapi tetap terlihat mentah di mata orang lain. Pelanggan yang datang ke restoran tidak pernah tahu cerita di balik seragam ini. Mereka melihat aku sebagai pelayan yang mengantar makanan, atau kadang hanya sebagai orang yang mengangguk ketika pesanan mereka salah. Mereka tidak tahu bahwa di balik senyumku ada rasa cemas tentang biaya sewa kamar bulan depan. Mereka tidak tahu bahwa ketika aku menawarkan menu, di kepalaku kadang masih terngiang pertanyaan interview yang tidak bisa kujawab dengan baik. Mereka juga tidak tahu bahwa seragam ini, meskipun membuatku terlihat bagian dari restoran, sering terasa seperti kostum sementara. Namun, aku tidak ingin menganggap pekerjaan ini hanya sebagai tempat singgah. Di sini aku belajar banyak hal yang tidak diajarkan di ruang kelas: cara berbicara dengan orang yang marah, cara bekerja cepat tanpa kehilangan ketenangan, cara menghargai tim dapur yang jarang terlihat pelanggan. Aku belajar bahwa pekerjaan tidak selalu tentang mimpi besar. Kadang pekerjaan adalah tentang bertahan, membayar tagihan, dan menjaga diri tetap waras. Seragam restoran ini mungkin bukan tujuan akhir, tetapi ia memberiku pijakan untuk terus melangkah. Malamnya, setelah shift selesai, aku pulang dengan bau dimsum yang menempel di kain. Aku membuka laptop, memperbarui CV, lalu mencari lowongan baru. Ada satu atau dua perusahaan yang menarik perhatianku. Aku membaca deskripsi pekerjaan dengan hati-hati, memastikan tidak ada syarat yang terlewat. Sebelum menutup laptop, aku mengirim satu lamaran lagi. Tidak ada lonceng, tidak ada konfeti, tidak ada kepastian. Hanya notifikasi kecil: lamaran berhasil dikirim. Pencarian kerja memang belum usai. Mungkin besok aku masih akan mengenakan seragam restoran yang sama. Mungkin lusa ada panggilan interview, atau mungkin tidak. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, dimsum tetap harus dikukus dengan sabar, pelanggan tetap harus dilayani dengan baik, dan lamaran tetap harus dikirim. Ada hal-hal yang belum bisa kukendalikan, tetapi ada juga hal-hal kecil yang masih bisa kulakukan hari ini. Aku menatap seragam yang kugantung di balik pintu. Kemeja putih itu sedikit kusut, celemek hitamnya masih berbau dapur. Besok aku akan memakainya lagi. Bukan karena aku menyerah pada pencarian kerja, tetapi karena aku sedang belajar bahwa perjalanan menuju pekerjaan yang kuharapkan tidak selalu berjalan lurus. Kadang kita harus berhenti sejenak, bekerja di tempat yang tidak kita impikan, dan menemukan cara untuk tetap bertahan. Dimsum, seragam restoran, dan pencarian kerja yang belum usai—tiga hal yang mengingatkanku bahwa hidup memang tidak selalu matang sesuai jadwal, tetapi bukan berarti harus berhenti dikukus.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Hartono

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter