30, 2026
Olahraga

Djibril Cisse Kesal Dituding Bantu Man City Juara Liga Inggris

Manchester City yang kena pelanggaran finansial, merembet ke mana-mana. Itu termasuk soal Djibril Cisse yang dituding bantu City jadi kampiun!]]>

Hendra Hartono
Hendra Hartono Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Djibril Cisse Kesal Dituding Bantu Man City Juara Liga Inggris

Djibril Cisse Membantah Tudingan Terlibat dalam Perebutan Gelar Liga Primer Inggris 2012

Mantan penyerang tim nasional Prancis, Djibril Cisse, angkat bicara menanggapi tuduhan lama yang kembali mencuat terkait peranannya dalam perebutan gelar Liga Primer Inggris musim 2011-2012. Cisse, yang saat itu memperkuat Queens Park Rangers (QPR), disebut-sebut sengaja membantu Manchester City meraih gelar juara dengan cara mengalah kepada skuad asuhan Roberto Mancini. Tudingan tersebut membuat Cisse geram karena dianggap mencemarkan profesionalismenya sebagai pesepak bola.

Perebutan gelar Liga Primer Inggris pada musim itu memang berlangsung dramatis hingga pekan terakhir. Manchester City dan Manchester United bersaing ketat memperebutkan trofi. City unggul selisih gol atas United menjelang laga pamungkas, dan kedua tim sama-sama mengantongi jumlah poin identik. Pada laga terakhir, City menjamu QPR di Etihad Stadium, sementara United bertandang ke markas Sunderland.

Latar Belakang Tuduhan

Tuduhan bermula dari kenyataan bahwa QPR, yang saat itu berstatus tim papan bawah dan tengah berjuang menghindari degradasi, nyaris mencuri poin di kandang City. QPR sempat memimpin 2-1 hingga menit-menit akhir pertandingan. Namun, dua gol Sergio Aguero dan Edin Dzeko di masa injury time membalikkan keadaan menjadi 3-2 untuk kemenangan City. Gol dramatis Aguero pada menit ke-94 menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Liga Primer Inggris dan memastikan City juara untuk pertama kalinya sejak 1968.

Karena QPR tetap bertahan di Liga Primer meski kalah, muncul spekulasi di kalangan sebagian penggemar bahwa ada kesepakatan tak resmi antara pemain QPR dan City. Cisse, yang tampil sebagai pemain pengganti dalam laga tersebut, menjadi salah satu nama yang paling sering dikaitkan dengan tudingan itu. Beberapa pihak menudingnya tidak bermain maksimal untuk membantu mantan klubnya, Manchester City, meraih gelar.

Cisse diketahui pernah memperkuat Manchester City pada periode 2007-2008, meski dengan status pinjaman dari Liverpool. Kedekatannya dengan City inilah yang kemudian dijadikan dasar tudingan tak berdasar tersebut.

Bantahan Tegas dari Cisse

Cisse membantah keras tudingan itu. Ia menegaskan bahwa dirinya selalu bermain dengan profesional dan memberikan segalanya untuk QPR. Menurutnya, tuduhan tersebut tidak hanya merendahkan dirinya, tetapi juga seluruh pemain QPR yang telah berjuang mati-matian pada laga itu.

Ia menjelaskan bahwa sebagai pesepak bola profesional, tidak ada seorang pun yang berani bermain setengah hati, apalagi dalam laga yang menentukan nasib klubnya sendiri. QPR saat itu sedang berjuang agar tidak terdegradasi. Kekalahan di Etihad Stadium sebenarnya membuat posisi mereka di Liga Primer bergantung pada hasil pertandingan lain, meski akhirnya QPR selamat karena Bolton Wanderers gagal meraih poin penuh.

Cisse juga menyoroti bahwa dirinya masuk sebagai pemain pengganti pada laga tersebut dan mendapat tugas untuk menambah daya gedor timnya. Ia tidak melihat ada satu pun rekan setimnya yang menunjukkan sikap tidak wajar atau sengaja mengalah. Sebaliknya, ia memuji semangat juang para pemain QPR yang hampir menghancurkan pesta juara City di hadapan pendukung mereka sendiri.

Konteks Persaingan Gelar yang Panas

Musim 2011-2012 merupakan salah satu musim paling dramatis dalam sejarah Liga Primer Inggris. Manchester United yang dibesut Sir Alex Ferguson terus menempel ketat City hingga pekan terakhir. Rivalitas antara kedua klub dari kota Manchester tersebut membuat setiap pertandingan terasa seperti final. Situasi ini pula yang membuat tudingan terhadap Cisse dan QPR berkembang liar.

Banyak penggemar United yang merasa kecewa kehilangan gelar pada detik-detik terakhir sehingga mencari kambing hitam. Cisse menjadi salah satu sasaran karena masa lalunya di City. Namun, hingga kini tidak ada bukti apa pun yang mendukung tuduhan tersebut. Liga Primer Inggris selaku penyelenggara kompetisi juga tidak pernah membuka investigasi resmi terkait dugaan pengaturan hasil pertandingan itu.

Fakta di lapangan menunjukkan QPR justru nyaris menang. Mereka memimpin selama sebagian besar pertandingan dan hanya kehilangan kemenangan karena gol-gol dramatis City di masa injury time. Jika memang ada kesepakatan untuk mengalah, QPR tidak perlu bersusah payah menciptakan dua gol lebih dulu. Logika tersebut menjadi pijakan Cisse untuk membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Penegasan Sikap Profesional

Cisse menutup bantahannya dengan menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak akan membuatnya berubah pikiran soal integritas dirinya. Ia mengaku bangga pernah menjadi bagian dari QPR dan bangga dengan penampilannya pada laga itu. Baginya, gelar juara City adalah hasil kerja keras tim asuhan Roberto Mancini selama satu musim penuh, bukan karena bantuan pihak lain.

Hingga kini, nama Djibril Cisse tetap dikenang sebagai penyerang yang pernah membela sejumlah klub besar Eropa, termasuk Liverpool, Marseille, Sunderland, dan Panathinaikos. Tudingan tidak berdasar soal pertandingan melawan City diharapkan tidak mengaburkan kariernya yang panjang dan penuh prestasi. Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola, emosi rivalitas sering kali melahirkan narasi yang melampaui fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Hartono

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter