Sebanyak 300 anak yatim piatu dan anak dari keluarga prasejahtera menggelar doa bersama untuk Timnas Indonesia jelang pertandingan lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026. Acara yang berlangsung di Jakarta pada Jumat itu menjadi bentuk dukungan moral dari kelompok masyarakat yang jarang mendapat sorotan, namun memiliki harapan besar terhadap prestasi sepak bola nasional.
Doa bersama tersebut diikuti anak-anak dari berbagai panti asuhan dan komunitas binaan sejumlah lembaga sosial. Mereka duduk bersila di atas sajadah dan karpet yang digelar di sebuah aula serbaguna, mengenakan pakaian sederhana dengan dominasi warna merah putih. Momentum ini dipilih untuk memohon keselamatan, kesehatan, serta keberhasilan para pemain yang sedang berjuang membawa nama bangsa di tingkat internasional.
Harapan agar Garuda Terbang Tinggi
Koordinator kegiatan, yang akrab disapa Ustaz Rahmat, menyatakan bahwa doa bersama ini murni inisiatif anak-anak yang selama ini menerima bantuan pendidikan dan kebutuhan harian. Menurutnya, semangat para pemain Timnas Indonesia menjadi inspirasi tersendiri bagi anak-anak yang tengah berjuang menghadapi keterbatasan hidup.
"Mereka melihat pemain-pemain Timnas sebagai contoh bahwa kerja keras, disiplin, dan kebersamaan bisa membawa perubahan. Karena itu, mereka ingin mendoakan para pemain agar diberi kekuatan dan kelancaran," ujar Rahmat di lokasi acara.
Selain doa, sejumlah anak membawa poster sederhana berisi pesan dukungan. Tulisan seperti "Garuda, Kami Menunggu Kemenanganmu" dan "Timnas Indonesia, Terbanglah Tinggi" terpampang di sejumlah sudut ruangan. Beberapa anak juga menyerahkan surat tulisan tangan yang nantinya akan disalurkan kepada pengurus organisasi suporter untuk diteruskan ke pemain.
Rahmat menambahkan, kegiatan semacam ini rutin digelar setiap kali Timnas Indonesia berlaga di pertandingan penting. Ia menilai dukungan dari kelompok anak yatim dan prasejahtera memiliki makna tersendiri karena datang dari mereka yang lekat dengan keterbatasan, namun tetap percaya pada kemampuan skuad Garuda.
Dukungan dari Kelompok Marjinal
Pengamat sosial dari sebuah lembaga riset di Jakarta menilai fenomena doa bersama untuk Timnas menunjukkan bahwa sepak bola telah menjadi simbol pemersatu yang melampaui batas ekonomi dan sosial. Menurutnya, dukungan dari anak-anak yatim piatu memperlihatkan bahwa sepak bola bukan hanya milik mereka yang mampu membeli tiket atau menonton langsung di stadion.
"Ini menarik. Sepak bola menjadi ruang di mana anak-anak yang secara ekonomi terpinggirkan bisa merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar, yaitu bangsa ini. Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga ingin berkontribusi lewat doa," katanya saat dihubungi secara terpisah.
Ia menambahkan, partisipasi kelompok marjinal dalam mendukung Timnas sebaiknya direspons positif oleh federasi dan pengelola tim. Menurutnya, perhatian kepada kelompok rentan bisa menjadi agenda sosial yang sejalan dengan semangat sportivitas, seperti program beasiswa sepak bola bagi anak kurang mampu.
Pihak penyelenggara menyatakan bahwa kegiatan doa bersama ini tidak menerima sponsor komersial. Seluruh kebutuhan, mulai dari konsumsi hingga transportasi anak-anak, berasal dari donasi sukarela sejumlah individu dan komunitas. Hal ini dilakukan agar kegiatan tetap murni sebagai bentuk dukungan spiritual, bukan ajang pencitraan.
Antusiasme Anak-Anak
Salah satu peserta, seorang anak berusia 11 tahun bernama Dinda, mengaku senang bisa ikut dalam doa bersama. Ia mengaku sering menonton pertandingan Timnas Indonesia bersama teman-teman di panti asuhan melalui televisi. Ia menyebut nama sejumlah pemain yang menjadi idolanya, terutama pemain yang berposisi sebagai gelandang dan penyerang.
"Semoga menang, supaya Indonesia bisa main di Piala Dunia. Kalau menang, kami mau nonton bareng lagi di panti," ujar Dinda dengan mata berbinar.
Sementara itu, seorang pengasuh panti menuturkan bahwa antusiasme anak-anak terhadap Timnas cukup tinggi. Menurutnya, sepak bola menjadi salah satu hiburan yang menyatukan anak-anak dari berbagai latar belakang di panti. Mereka kerap menabung untuk membeli kaus atau sekadar menonton pertandingan di warung dekat panti.
"Bagi kami, ini bukan soal menang atau kalah. Tapi bagaimana anak-anak bisa belajar tentang harapan, kerja keras, dan kebersamaan. Itu yang kami tanamkan lewat sepak bola," katanya.
Kegiatan doa bersama ditutup dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin seorang ustaz, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Meski sederhana, suasana berlangsung khidmat. Beberapa anak tampak meneteskan air mata saat mendoakan para pemain yang tengah berjuang di luar negeri.
Respons Publik dan Pihak Terkait
Sejumlah warganet yang mengetahui kegiatan ini melalui unggahan di media sosial menyampaikan apresiasi. Banyak yang menilai doa dari anak-anak yatim piatu merupakan bentuk dukungan paling tulus. Tidak sedikit pula yang mengajak agar masyarakat tidak hanya menuntut kemenangan, tetapi juga memberikan ruang bagi kelompok rentan untuk terlibat dalam euforia sepak bola nasional.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak federasi terkait kegiatan tersebut. Namun, sejumlah pengamat menilai perhatian terhadap kelompok anak yatim dan prasejahtera bisa menjadi agenda jangka panjang, misalnya melalui program tanggung jawab sosial yang berkelanjutan.
Terlepas dari hasil pertandingan nanti, doa 300 anak yatim piatu dan prasejahtera itu telah menjadi pengingat bahwa dukungan untuk Timnas Indonesia tidak hanya datang dari tribun stadion atau layar kaca. Dari balik dinding panti asuhan, di ruang-ruang sederhana, harapan untuk melihat Garuda terbang tinggi tetap menyala. Mereka percaya, dengan doa dan kerja keras, mimpi menembus Piala Dunia bukan sekadar angan-angan.
Komentar (0)