21, 2026
Teknologi

Dry Ice Atasi Asap Karhutla Kena Rumah Warga, Butiran Kini Diperkecil

Cara penyebaran dry ice untuk mengatasi asap karhutla akan diubah usai ada laporan butiran dry ice jatuh langsung ke rumah warga.]]>

Kirana Utami
Kirana Utami Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dry Ice Atasi Asap Karhutla Kena Rumah Warga, Butiran Kini Diperkecil

Upaya penanganan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali dilakukan melalui penyemaian awan menggunakan es kering atau dry ice. Metode yang menjadi bagian dari Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) ini ditempuh untuk memicu hujan buatan agar titik-titik panas segera padam dan kabut asap yang menyelimuti permukaan tidak terus meluas ke permukiman warga. Pada pelaksanaan terbaru, ukuran butiran es kering diperkecil agar tidak menimbulkan kerusakan ketika jatuh di area rumah penduduk.

Es kering merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat dengan suhu sangat rendah, sekitar minus 78 derajat Celsius. Sifatnya yang membeku ekstrem membuat bahan ini mampu menurunkan suhu massa awan secara cepat sehingga proses kondensasi berlangsung lebih singkat dan peluang hujan terbentuk semakin besar. Karena itulah dry ice menjadi salah satu bahan yang lazim digunakan dalam operasi modifikasi cuaca di Indonesia, terutama saat musim kemarau panjang yang disertai kemunculan karhutla.

Butiran Diperkecil untuk Mengurangi Risiko di Permukiman

Persoalan muncul ketika penyemaian dilakukan di langit di atas kawasan yang berdekatan dengan permukiman. Butiran es kering berukuran besar yang tidak sepenuhnya menguap di udara dapat jatuh ke permukaan dengan kecepatan cukup tinggi. Benturan pada atap rumah, khususnya atap berbahan ringan seperti seng, asbes, atau genteng berbahan tipis, berpotensi menimbulkan kerusakan. Kekhawatiran serupa juga muncul pada kaca jendela, kendaraan yang terparkir di ruang terbuka, serta tanaman pekarangan warga.

Karena itu, pengecilan ukuran butiran menjadi langkah penyesuaian yang dinilai paling masuk akal. Dengan diameter yang lebih kecil, es kering lebih cepat menyublim atau berubah langsung dari padat menjadi gas sebelum mencapai permukaan. Butiran halus juga menempuh waktu lebih singkat di udara sehingga peluangnya habis menguap sebelum menyentuh objek di bawahnya menjadi lebih besar. Dari sisi fungsi, ukuran kecil justru memperluas bidang kontak dengan massa awan karena sebarannya lebih merata, sehingga proses pendinginan awan dapat berlangsung lebih efektif.

Mekanisme Penyemaian di Langit

Penyemaian dilakukan dengan mengangkut es kering menggunakan pesawat, kemudian menebarkannya pada ketinggian dan titik koordinat yang telah ditentukan berdasarkan pantauan citra satelit serta data radar cuaca. Penentuan lokasi tidak dilakukan sembarangan. Tim pengamat memetakan keberadaan awan potensial, arah angin, dan kelembapan udara agar bahan yang ditebar benar-benar masuk ke dalam sistem awan yang sedang tumbuh.

Setelah es kering masuk ke dalam awan, suhu di sekitarnya turun drastis. Uap air yang sebelumnya bertahan dalam fase gas berubah menjadi titik-titik air, lalu bergabung membentuk tetesan yang lebih besar dan berat. Ketika massa itu sudah tidak lagi mampu ditahan oleh arus udara ke atas, hujan pun turun. Hujan yang jatuh di area terbakar berperan memadamkan bara pada gambut maupun material organik di permukaan tanah, sekaligus membersihkan partikel asap yang melayang di udara.

Asap Karhutla dan Dampaknya bagi Warga

Kabut asap karhutla bukan sekadar gangguan pemandangan. Partikel halus yang terhirup dapat memicu gangguan saluran pernapasan, memperburuk kondisi penderita asma, dan meningkatkan risiko infeksi pernapasan akut, terutama pada anak-anak dan lanjut usia. Pada tingkat yang lebih luas, asap menurunkan jarak pandang sehingga mengganggu aktivitas penerbangan, pelayaran, dan transportasi darat. Sekolah kerap diliburkan, kantor menerapkan kerja dari rumah, dan aktivitas ekonomi warga melemah.

Karena dampaknya berlapis, penanganan karhutla tidak bisa hanya bertumpu pada pemadaman darat. Upaya pemadaman manual sering terkendala medan yang sulit dijangkau, keterbatasan sumber air, serta titik api yang berada di bawah permukaan gambut. Di sinilah modifikasi cuaca berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti. Penyemaian awan membantu membasahi area yang tidak terjangkau tim darat, tetapi tetap membutuhkan ketersediaan awan yang memadai agar hasilnya optimal.

Evaluasi dan Tantangan ke Depan

Keberhasilan penyemaian sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Pada periode ketika langit nyaris tanpa awan potensial, operasi tidak dapat dipaksakan. Selain itu, dibutuhkan pasokan es kering dalam jumlah besar, armada pesawat yang siap bergerak cepat, serta koordinasi lintas lembaga antara pengelola modifikasi cuaca, pemantau cuaca, dan tim pemadam di lapangan.

Penyesuaian ukuran butiran menunjukkan bahwa pelaksanaan di lapangan terus dievaluasi, termasuk dampak sampingannya terhadap lingkungan permukiman. Pendekatan yang lebih hati-hati diharapkan membuat operasi penyemaian tetap berjalan tanpa menimbulkan persoalan baru bagi warga. Dengan begitu, upaya pengendalian asap karhutla dapat berlangsung lebih aman, terukur, dan tetap mengutamakan perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan terbakar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Utami

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter