19, 2026
Nasional

Erick Thohir Minta Suporter Ramaikan Indonesia Women’s League, PSSI Berkomitmen Jalankan Kompetisi Minimal 5 Tahun

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir meminta para suporter sepak bola nasional untuk hadir dan meramaikan Indonesia Women’s League. Menurutnya, kehadiran penonton di stadion menjadi salah satu faktor penentu bagi keberlanjutan kompetisi sepak bola perempuan di Tanah Air, sekaligus menjadi bentuk dukungan nyata terhadap para pesepak bola perempuan yang selama ini berjuang di tengah keterbatasan perhatian publik.

Seruan tersebut disampaikan Erick Thohir di tengah upaya PSSI membangun ekosistem sepak bola perempuan yang lebih tertata. Ia menilai, kompetisi yang berjalan tanpa dukungan penonton akan sulit berkembang, baik dari sisi kualitas permainan maupun dari sisi daya tarik komersial yang dibutuhkan klub untuk bertahan.

“Suporter adalah bagian dari pertandingan. Tanpa mereka, sepak bola kehilangan energinya,” demikian garis besar pesan yang disampaikan Erick Thohir, sebagaimana dikutip dalam sejumlah pemberitaan. Ia berharap tribun stadion pada laga-laga Indonesia Women’s League tidak lagi lengang, seperti yang kerap terjadi pada musim-musim sebelumnya.

PSSI Berkomitmen Jalankan Kompetisi Minimal Lima Tahun

Dalam kesempatan yang sama, PSSI menegaskan komitmennya untuk menyelenggarakan Indonesia Women’s League secara berkelanjutan selama minimal lima tahun ke depan. Komitmen itu disebut sebagai bentuk kepastian bagi klub, pemain, dan pelatih bahwa kompetisi sepak bola perempuan bukan sekadar agenda tahunan yang bisa dihentikan sewaktu-waktu.

Kepastian jangka waktu penyelenggaraan dinilai penting karena selama ini salah satu persoalan utama sepak bola perempuan Indonesia adalah ketidakpastian kompetisi. Klub-klub sering kali harus menunggu tanpa jadwal yang jelas, sehingga sulit merencanakan pembinaan pemain, anggaran, maupun kerja sama dengan sponsor.

Dengan jaminan penyelenggaraan minimal lima tahun, PSSI berharap klub-klub peserta dapat membangun perencanaan jangka panjang, termasuk dalam hal pembinaan usia muda dan pengembangan fasilitas latihan. Kepastian ini juga diharapkan menarik minat pihak ketiga, termasuk sektor swasta, untuk terlibat sebagai mitra kompetisi.

Kepastian Jadwal dan Regulasi

Selain soal durasi penyelenggaraan, PSSI disebut tengah mematangkan sejumlah aspek teknis, mulai dari kalender pertandingan, regulasi kompetisi, hingga standar penyelenggaraan pertandingan. Regulasi yang jelas dinilai perlu agar kompetisi berjalan kompetitif dan kredibel, termasuk dalam hal pendaftaran pemain, sistem degradasi dan promosi, serta penerapan sanksi disiplin.

PSSI juga menekankan pentingnya keseriusan klub dalam mengelola tim, bukan hanya sekadar berpartisipasi. Setiap klub peserta diharapkan memenuhi persyaratan administratif dan teknis, termasuk kepastian pendanaan dan struktur manajemen yang sehat.

Penonton sebagai Kunci Keberlanjutan

Menurut Erick Thohir, dukungan suporter tidak hanya berdampak pada suasana pertandingan, tetapi juga pada nilai ekonomi kompetisi. Kehadiran penonton membuka peluang pendapatan dari tiket, merchandise, dan hak siar, yang pada akhirnya dapat membantu klub membayar pemain secara lebih layak.

Ia mencontohkan bagaimana sepak bola putra Indonesia tumbuh pesat berkat antusiasme suporter yang tinggi. Semangat serupa diharapkan muncul untuk sepak bola perempuan, meskipun ia mengakui bahwa proses membangun basis penggemar membutuhkan waktu dan konsistensi.

Membangun Basis Penggemar

Untuk mendekatkan kompetisi kepada publik, PSSI mendorong promosi yang lebih aktif, termasuk melalui kanal digital dan kerja sama dengan media. Klub-klub juga diminta membangun kedekatan dengan komunitas di daerah masing-masing, misalnya melalui program latihan terbuka, kunjungan ke sekolah, dan kegiatan sosial yang melibatkan pemain perempuan.

Pendekatan itu dinilai relevan karena banyak pesepak bola perempuan yang belum memiliki eksposur memadai. Padahal, kisah perjalanan mereka—dari latihan di lapangan sederhana hingga menembus tim nasional—berpotensi menarik perhatian publik jika dikemas dengan baik.

Pembinaan dan Jalur Prestasi

Indonesia Women’s League diposisikan sebagai ujung dari piramida pembinaan sepak bola perempuan nasional. Kompetisi tingkat elite ini diharapkan menjadi jembatan bagi pemain muda yang selama ini berkompetisi di tingkat daerah, sekolah, maupun akademi.

PSSI menyebut pembinaan usia muda menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kompetisi. Tanpa jalur kompetisi yang berjenjang, talenta muda berisiko berhenti sebelum mencapai level tertinggi. Karena itu, penyelenggaraan liga perempuan diharapkan berjalan seiring dengan pengembangan kompetisi kelompok umur.

Sejumlah pelatih dan pengamat sepak bola perempuan sebelumnya menyoroti minimnya jam terbang pemain. Kompetisi yang padat dan berkelanjutan dinilai menjadi solusi paling mendasar untuk meningkatkan kualitas permainan, termasuk bagi kesiapan tim nasional perempuan Indonesia menghadapi agenda internasional.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski komitmen telah dinyatakan, sejumlah tantangan masih membayangi penyelenggaraan kompetisi. Mulai dari keterbatasan lapangan yang layak, jarak perjalanan antar-daerah yang jauh, hingga beban biaya operasional yang ditanggung klub.

Aspek kesejahteraan pemain juga menjadi perhatian. Tidak sedikit pesepak bola perempuan yang harus membagi waktu antara latihan dan pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Keberlanjutan kompetisi diharapkan turut mendorong perbaikan kontrak dan jaminan kesejahteraan bagi para pemain.

Erick Thohir menegaskan bahwa pembangunan sepak bola perempuan merupakan bagian dari agenda besar PSSI untuk memajukan sepak bola nasional secara menyeluruh. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan—klub, suporter, media, pemerintah daerah, dan sektor swasta—berjalan bersama mendukung kompetisi ini, bukan hanya pada laga pembuka, tetapi sepanjang musim.

Dengan komitmen penyelenggaraan minimal lima tahun dan dorongan bagi suporter untuk hadir langsung di stadion, Indonesia Women’s League diharapkan tidak lagi menjadi kompetisi yang berjalan di pinggir sorotan, melainkan menjadi bagian dari arus utama sepak bola nasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter