28, 2026
Politik

Exit Poll Pemilu Israel Sengit, Blok Netanyahu 52 Kursi dan Eisenkot 49

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/28/6ae14f9e820b7-pemilu-israel-netanyahu-vs-eisenkot_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Wulan Simanjuntak
Wulan Simanjuntak Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Exit Poll Pemilu Israel Menunjukkan Persaingan Sengit, Netanyahu Tetap Unggul Tipis

Pemilu legislatif Israel yang digelar pada Rabu (27/11/2023) menunjukkan persaingan yang sangat sengit antara dua blok politik utama. Menurut hasil exit poll yang dirilis segera setelah pemungutan suara selesai, blok koalisi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berhasil memperoleh 52 kursi di parlemen. Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin oleh mantan Kepala Staf Gabungan Benny Gantz dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant memperoleh 49 kursi.

Kemenangan Netanayu Masih Menghadapi Tantangan

Kemenangan tipis blok Netanyahu menunjukkan bahwa pemilu ini merupakan yang terdekat dalam sejarah Israel. Blok yang terdiri dari partai Likud Netanyahu dan sekutu-sekutu religiusnya berhasil mempertahankan posisi sebagai blok terbesar di Knesset, parlemen Israel. Namun, untuk membentuk pemerintahan, seorang pemimpin politik membutuhkan dukungan minimal 61 dari total 120 anggota parlemen.

Koalisi Netanyahu saat ini diperkirakan akan beranggotai 52 legislator, terdiri dari partai Likud, partai religius Zionisme Relijius, dan partai ultra-ortodox Shas. Sementara itu, blok oposisi yang mencakup partai Blue and White, partai Nasional Unity, dan partai Demokrat memiliki dukungan 49 kursi. Sisanya diperkirakan akan ditempati oleh partai Arab dan partai-partai kecil lainnya.

Koalisi Kontroversial Netanyahu

Jika Netanyahu berhasil membentuk pemerintahan, ini akan menjadi masa jabatan kelimanya sebagai Perdana Menteri Israel. Namun, koalisi yang dia rencanakan untuk dibentuk diperkirakan akan menjadi yang paling kanan dan religius dalam sejarah negara tersebut. Koalisi ini akan bergantung pada partai-partai religius dan ekstrem kanan yang sebelumnya menjadi kritikus utamanya.

Salah satu tokoh kunci yang akan bergabung dalam koalisi Netanyahu adalah Itamar Ben-Gvir, pemimpin partai Zionisme Relijius yang memiliki catatan kriminal karena kekerasan dan rasisme. Kehadirannya di pemerintahan menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat sipil dan internasional mengenai arah kebijakan Israel di masa depan.

Reaksi dari Dalam dan Luar Negeri

Hasil exit poll ini langsung memicu reaksi beragam dari berbagai pihak. Pendukung Netanyahu menyambut baik hasil ini sebagai kemenangan bagi keamanan dan stabilitas Israel. Sementara itu, kritikus khawatir bahwa pemerintahan yang akan terbentuk akan mengancam demokrasi dan hak asasi manusia di Israel.

Di luar negeri, banyak negara dan organisasi internasi yang mengawasi perkembangan ini dengan cermat. Amerika Serikat, sebagai sekutu dekat Israel, belum mengeluarkan pernyataan resmi namun diharapkan akan bekerja sama dengan pemerintahan apa pun yang terbentuk. Uni Eropa dan negara-negara Eropa lainnya mungkin akan menunjukkan kecemasan mengenai arah kebijakan Israel di bawah pemerintahan yang lebih kanan.

Tantangan di Depan Netanyahu

Meskipun memperoleh dukungan mayoritas tipis, Netanyahu masih menghadapi banyak tantangan dalam membentuk pemerintahan stabilitas. Ia harus menyelesaikan perselisihan internal dalam partai Likud dan mengatasi perbedaan ideologi yang mungkin muncul dengan sekutu-sekutu religiusnya.

Selain itu, situasi keamanan di Israel dan wilayah Palestina juga menjadi faktor penting yang harus ditangani pemerintahan baru. Konflik yang terus berlanjut di Gaza dan Tepi Barat membutuhkan kebijakan yang jelas dan stabil dari pemerintahan pusat.

Peran Benny Gantz dan Oposisi

Meskipun kalah dalam pemilu, blok oposisi yang dipimpin oleh Benny Gantz dan Yoav Gallant tetap memainkan peran penting dalam politik Israel. Gantz, mantan jenderal militer yang pernah menjadi sekutu Netanyahu, sekarang menjadi salah satu tokoh oposisi terkemuka yang menjanjikan pemerintahan yang lebih moderat dan nasional.

Oposisi ini berjanji akan terus memantau dan menantang kebijakan pemerintahan Netanyahu jika berhasil terbentuk, terutama terkait isu-isu seperti kebebasan pers, hak asasi manusia, dan hubungan internasional.

Masa Depan Politik Israel

Pemilu ini menunjukkan polarisasi yang semakin dalam masyarakat Israel antara pihak yang mendukung kebijakan keras Netanyahu dan mereka yang menginginkan perubahan arah. Hasil yang sangat dekat ini menunjukkan bahwa tidak ada pihak yang benar-benar memenangkan suara rakyat secara mutlak.

Dalam jangka pendek, Israel akan menghadapi periode negosiasi yang panjang untuk membentuk pemerintahan stabilitas. Dalam jangka panjang, hasil pemilu ini akan menentukan arah politik Israel untuk beberapa tahun ke depan, baik dalam kebijakan domestik maupun hubungan internasional.

Bagaimanapun juga, Israel telah menunjukkan bahwa demokrasinya tetap hidup dan berfungsi, meskipun dengan tantangan yang signifikan. Masyarakat terus terbagi, tetapi proses demokratis tetap berjalan, mencerminkan kompleksitas dan dinamika politik di negara Timur Tengah ini.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Wulan Simanjuntak

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter