PANDI dan Kemenekraf Jalin Kerja Sama Internasionalisasi Aksara Nusantara
Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) resmi menggandeng Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) untuk membawa aksara Nusantara ke panggung domain global. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya pelestarian warisan budaya sekaligus penguatan identitas digital Indonesia di kancah internasional.
Kerja sama tersebut berfokus pada pengajuan aksara-aksara tradisional Indonesia agar dapat diakui dan digunakan sebagai label domain tingkat atas (top-level domain/TLD) generik internasional. Dengan demikian, masyarakat dunia dapat mengakses situs web menggunakan aksara asli Nusantara, bukan hanya huruf Latin.
Latar Belakang dan Urgensi Kolaborasi
Indonesia memiliki kekayaan aksara yang luar biasa. Setidaknya terdapat belasan aksara tradisional yang masih hidup dan digunakan oleh berbagai komunitas di seluruh penjuru tanah air, mulai dari Jawa, Bali, Bugis, Batak, Sunda, hingga aksara-aksara di wilayah Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Namun, keberadaan aksara-aksara ini belum terwakili secara memadai di ruang digital global.
Selama ini, sistem nama domain dunia didominasi oleh huruf Latin. Internationalized Domain Name (IDN) memungkinkan penggunaan karakter non-Latin, tetapi penetapan TLD berbasis aksara tertentu memerlukan proses pengajuan yang panjang dan dukungan lintas sektor. Di sinilah peran PANDI sebagai pengelola nama domain nasional bertemu dengan misi Kemenekraf dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya.
Kolaborasi ini dipandang strategis karena tidak sekadar soal teknologi, melainkan juga menyangkut diplomasi budaya, pelestarian bahasa, dan pengembangan ekonomi digital. Aksara Nusantara yang masuk ke domain global berpotensi membuka ruang bagi pelaku usaha kreatif, komunitas adat, dan generasi muda untuk mengekspresikan identitas mereka secara lebih autentik di internet.
Peran PANDI sebagai Pengelola Domain Nasional
PANDI selama ini dikenal sebagai lembaga yang mengelola domain tingkat atas Indonesia, termasuk .id dan berbagai variannya. Organisasi ini juga aktif dalam berbagai forum internasional yang membahas tata kelola internet, termasuk Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN). Pengalaman dan jejaring global inilah yang menjadi modal utama dalam mengawal pengajuan aksara Nusantara ke level domain dunia.
Melalui kerja sama dengan Kemenekraf, PANDI berharap dapat memperkuat landasan kebijakan, memperluas dukungan pemangku kepentingan, serta menyiapkan infrastruktur teknis yang dibutuhkan. Proses ini mencakup riset kelayakan, standardisasi aksara, hingga simulasi penggunaan domain berbasis aksara dalam ekosistem internet yang berlaku global.
PANDI menegaskan bahwa pengajuan TLD berbasis aksara bukan sekadar simbolis. Ada pertimbangan teknis yang ketat, seperti stabilitas sistem nama domain, keamanan siber, serta kompatibilitas dengan perangkat dan peramban yang digunakan masyarakat luas. Oleh karena itu, kolaborasi lintas lembaga menjadi keniscayaan.
Kemenekraf dan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Kemenekraf memandang aksara Nusantara sebagai aset ekonomi kreatif yang belum tergarap optimal. Selama ini, kekayaan budaya Indonesia banyak dimanfaatkan dalam industri mode, kriya, musik, dan film. Namun, dimensi digital dari warisan aksara belum banyak disentuh, padahal ruang digital adalah medan utama bagi generasi muda.
Dengan menggandeng PANDI, Kemenekraf berupaya mendorong lahirnya ekosistem kreatif yang berpijak pada aksara lokal. Misalnya, pengembangan tipografi digital, desain antarmuka berbasis aksara daerah, hingga platform konten yang menggunakan aksara Nusantara sebagai identitas utama. Semua ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat daya saing produk kreatif Indonesia di pasar global.
Selain itu, kehadiran aksara Nusantara di domain global dapat menjadi alat diplomasi budaya yang efektif. Ketika dunia mengakses situs dengan aksara Jawa, Bali, atau Bugis, mereka tidak hanya berinteraksi dengan teknologi, tetapi juga bersentuhan dengan peradaban Nusantara yang kaya dan berlapis.
Tantangan dan Proses Panjang Menuju Domain Global
Membawa aksara Nusantara ke domain global bukan perkara mudah. Proses pengajuan TLD generik internasional di ICANN memerlukan persyaratan administratif, teknis, dan finansial yang tidak ringan. Diperlukan pula dukungan dari pemerintah, komunitas internet global, serta pembuktian bahwa aksara tersebut digunakan secara luas dan memiliki komunitas pengguna yang signifikan.
Tantangan lain adalah kurangnya literasi digital di kalangan pengguna aksara tradisional. Banyak komunitas yang fasih menulis aksara daerah di media konvensional, tetapi belum terbiasa dengan perangkat digital yang mendukung aksara tersebut. PANDI dan Kemenekraf perlu menyiapkan program pendampingan, pelatihan, serta penyediaan font dan perangkat lunak yang ramah aksara Nusantara.
Aspek standardisasi juga krusial. Setiap aksara memiliki aturan penulisan, varian bentuk, dan konvensi yang berbeda. Proses digitalisasi memerlukan kesepakatan para ahli, budayawan, dan pakar bahasa agar aksara yang diusulkan benar-benar representatif dan dapat diterima oleh komunitas penggunanya.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Kerja sama PANDI dan Kemenekraf diharapkan menjadi titik balik dalam pengelolaan warisan budaya digital Indonesia. Jika berhasil, Indonesia dapat menjadi salah satu negara pertama di dunia yang memiliki TLD berbasis aksara tradisional, sebuah prestasi yang membanggakan di tingkat internasional.
Langkah awal yang akan dilakukan meliputi pemetaan aksara prioritas, penyusunan peta jalan bersama, serta penjajakan dukungan dari berbagai kementerian dan lembaga terkait. PANDI juga akan memperkuat komunikasi dengan ICANN dan forum tata kelola internet global untuk memastikan proses pengajuan berjalan sesuai standar internasional.
Pada akhirnya, upaya ini bukan hanya tentang teknologi atau domain internet. Ia adalah ikhtiar kolektif untuk memastikan bahwa aksara Nusantara tidak hanya bertahan di atas kertas dan lontar, tetapi juga hidup dan berkembang di ruang digital yang menjadi medan utama peradaban abad ke-21. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, pengelola domain, komunitas budaya, dan pelaku ekonomi kreatif, aksara Nusantara berpeluang besar menembus batas-batas geografis dan bahasa di jagat maya.
Komentar (0)