04, 2026
Nasional

Google Mau Bangun Data Center di Antariksa, Starship Harus Terbang 1.800 Kali

Google mengirim TPU ke luar angkasa untuk uji coba pusat komputasi AI. Proyek Suncatcher bertujuan membangun jaringan satelit komputasi di orbit.]]>

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Google Mau Bangun Data Center di Antariksa, Starship Harus Terbang 1.800 Kali

Google dilaporkan tengah menjajaki gagasan ambisius untuk membangun pusat data atau data center di luar angkasa. Proyek ini dirancang sebagai bagian dari upaya perusahaan dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur komputasi di Bumi, sekaligus mendukung pertumbuhan kebutuhan pemrosesan kecerdasan buatan yang meningkat pesat. Namun, rencana tersebut bergantung pada kemampuan roket Starship milik SpaceX yang harus terbang hingga 1.800 kali untuk merealisasikan visi tersebut.

Latar Belakang Rencana Google

Ketertarikan Google terhadap pusat data luar angkasa tidak muncul tanpa alasan. Permintaan akan layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan terus melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Pusat data konvensional di Bumi menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan lahan, pasokan energi yang semakin mahal, hingga dampak lingkungan berupa konsumsi air dan listrik dalam jumlah besar. Selain itu, pendinginan server di fasilitas darat membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit.

Luar angkasa menawarkan sejumlah keunggulan teoretis. Suhu yang sangat rendah di ruang hampa memungkinkan pendinginan pasif tanpa memerlukan sistem refrigerasi konvensional. Paparan sinar matahari yang terus-menerus di orbit tertentu juga membuka peluang pemanfaatan energi surya secara maksimal. Dengan demikian, pusat data di antariksa berpotensi mengurangi jejak karbon dan biaya operasional jangka panjang, meskipun biaya awal peluncurannya sangat tinggi.

Peran Vital Starship dalam Rantai Pasok

Rencana ini tidak dapat terwujud tanpa kendaraan peluncuran yang mampu mengangkut muatan dalam jumlah besar ke orbit. Di sinilah Starship, roket raksasa yang dikembangkan SpaceX, memainkan peran kunci. Starship dirancang sebagai sistem peluncuran yang dapat digunakan kembali sepenuhnya, dengan kapasitas angkut yang jauh melampaui roket generasi sebelumnya. Namun, untuk membangun konstelasi pusat data luar angkasa dalam skala yang dibayangkan Google, diperlukan jumlah penerbangan yang sangat banyak.

Estimasi yang disebutkan dalam sejumlah laporan menyebutkan angka hingga 1.800 kali terbang. Angka ini mencerminkan volume material, modul komputasi, panel surya, sistem pendingin, serta komponen pendukung lain yang harus dikirim ke orbit. Setiap penerbangan Starship diperkirakan mampu membawa puluhan hingga ratusan ton muatan, tergantung konfigurasi dan tujuan orbit. Dengan demikian, 1.800 penerbangan bukanlah angka yang berlebihan jika targetnya adalah membangun kapasitas komputasi dalam skala pusat data komersial besar.

Frekuensi peluncuran menjadi faktor penentu. SpaceX telah menyatakan ambisi untuk meningkatkan laju peluncuran Starship secara signifikan, dengan target puluhan bahkan ratusan misi per tahun. Jika target tersebut tercapai, pengiriman komponen pusat data secara bertahap dalam beberapa tahun menjadi lebih realistis. Namun, tantangan teknis, regulasi, dan logistik tetap membayangi.

Tantangan Teknis dan Regulasi

Membangun pusat data di luar angkasa bukan sekadar memindahkan rak server ke orbit. Ada sejumlah tantangan teknis yang harus diatasi. Pertama, radiasi kosmik dapat merusak komponen elektronik dan menyebabkan gangguan pada operasi komputasi. Diperlukan pelindung khusus atau chip yang tahan radiasi, yang saat ini masih mahal dan memiliki keterbatasan performa. Kedua, disipasi panas di ruang hampa tidak dapat mengandalkan konveksi seperti di Bumi. Panas harus dibuang melalui radiasi termal, yang memerlukan radiator berukuran besar dan efisien.

Ketiga, masalah komunikasi data. Mengirim dan menerima data dalam volume besar dari orbit ke Bumi membutuhkan jaringan komunikasi berkapasitas tinggi dengan latensi rendah. Meskipun teknologi satelit komunikasi terus berkembang, kebutuhan pusat data komersial jauh lebih besar dibandingkan komunikasi satelit biasa. Keempat, aspek pemeliharaan dan perbaikan. Jika terjadi kerusakan pada modul di orbit, diperlukan kemampuan robotik atau misi berawak untuk memperbaikinya, yang menambah kompleksitas dan biaya.

Dari sisi regulasi, pemanfaatan orbit Bumi untuk infrastruktur komersial besar menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola ruang angkasa, hak atas slot orbit, serta potensi penumpukan sampah antariksa. Badan-badan internasional dan otoritas penerbangan masing-masing negara akan memainkan peran penting dalam memberikan izin operasi.

Dampak bagi Industri dan Masa Depan

Jika rencana ini terealisasi, dampaknya terhadap industri teknologi dan antariksa bisa sangat besar. Pusat data luar angkasa dapat membuka era baru komputasi awan yang tidak lagi bergantung pada lokasi geografis dan sumber daya Bumi. Perusahaan-perusahaan teknologi lain mungkin akan mengikuti jejak serupa, memicu perlombaan infrastruktur di orbit. Selain itu, permintaan terhadap layanan peluncuran seperti Starship akan meningkat tajam, mendorong pengembangan roket yang lebih efisien dan murah.

Namun, proyek ini juga menuai kritik. Sejumlah pengamat menilai bahwa biaya dan risiko yang diperlukan tidak sebanding dengan manfaat jangka pendek. Mereka berpendapat bahwa peningkatan efisiensi pusat data di Bumi, termasuk penggunaan energi terbarukan dan pendinginan canggih, masih menjadi solusi yang lebih realistis. Selain itu, ketergantungan pada satu penyedia layanan peluncuran tertentu menimbulkan risiko strategis bagi Google.

Meski demikian, eksplorasi gagasan ini menunjukkan bahwa batas antara komputasi dan eksplorasi antariksa semakin kabur. Google dan SpaceX, sebagai dua kekuatan utama di bidangnya, berada di garis depan potensi kolaborasi lintas sektor yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah visi pusat data di antariksa akan menjadi kenyataan dalam satu dekade ke depan masih menjadi pertanyaan terbuka, tetapi arah pembicaraan telah bergeser dari fiksi ilmiah menuju perencanaan teknis yang serius.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter