Hubungan Berliku Manchester United dengan Pemain Argentina
Manchester United sepanjang sejarahnya dikenal sebagai salah satu klub paling aktif mendatangkan pemain dari berbagai penjuru dunia. Namun, jika dibandingkan dengan pemain asal Brasil, Portugal, Prancis, atau Belanda, jumlah pemain Argentina yang pernah berseragam merah di Old Trafford terbilang sedikit. Yang menarik, hampir setiap kedatangan pemain Argentina ke United selalu disertai ekspektasi besar, harga mahal, atau drama kepindahan yang panjang. Tidak sedikit pula yang berakhir dengan perpisahan kurang mulus.
Rekam jejak itu membuat hubungan United dengan pemain Argentina menjadi salah satu cerita paling unik dalam sejarah klub. Ada masa kejayaan singkat, ada kekecewaan, dan ada pula kisah pengkhianatan yang masih dikenang suporter hingga kini.
Juan Sebastián Verón dan Rekor Transfer yang Tak Berbuah Manis
Babak baru dimulai pada musim panas 2001. Manajer Sir Alex Ferguson mendatangkan Juan Sebastián Verón dari Lazio dengan nilai transfer sekitar 28,1 juta poundsterling, yang saat itu menjadi rekor transfer termahal di Inggris. Verón datang sebagai gelandang kelas dunia yang sudah membuktikan kualitasnya di Serie A bersama Sampdoria, Parma, dan Lazio.
Namun adaptasi Verón di Premier League berjalan jauh dari harapan. Gaya bermainnya yang mengandalkan penguasaan bola dan umpan-umpan panjang tidak sepenuhnya cocok dengan intensitas dan tempo liga Inggris. Cedera juga berulang kali mengganggu penampilannya. Meski sempat meraih gelar Premier League pada musim 2002/2003, kontribusinya dianggap belum sepadan dengan harga yang dibayar klub. Pada Agustus 2003, Verón dilepas ke Chelsea dengan nilai transfer yang jauh lebih rendah, sekitar 15 juta poundsterling. Kasus Verón menjadi pelajaran pertama bagi United tentang sulitnya pemain Argentina beradaptasi di Inggris.
Carlos Tevez dan Perpindahan yang Menyakitkan
Jika Verón gagal, tidak demikian dengan Carlos Tevez. Penyerang yang datang pada 2007 melalui skema kepemilikan pihak ketiga itu langsung menjadi favorit suporter. Bersama Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo, Tevez membentuk trio penyerang yang menakutkan. Ia ikut mengantarkan United meraih dua gelar Premier League serta trofi Liga Champions 2008 di Moskow.
Namun kisah itu berakhir pahit. Negosiasi perpanjangan kontrak yang rumit membuat Tevez memilih hengkang ke Manchester City pada 2009. Kepindahan ke rival sekota itu memicu kemarahan besar di kalangan suporter United, terlebih ketika City memasang baliho ikonik bertuliskan "Welcome to Manchester" yang menampilkan wajah Tevez. Hingga kini, namanya kerap disebut sebagai salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah rivalitas kedua klub.
Gabriel Heinze dan Transfer ke Liverpool yang Digagalkan
Sebelum Tevez, ada Gabriel Heinze yang bergabung pada 2004 dari Paris Saint-Germain. Bek kiri bertipe pekerja keras itu cepat dicintai suporter karena agresivitas dan determinasinya. Ia menjadi bagian dari skuad yang meraih gelar Premier League 2006/2007.
Masalah muncul pada musim panas 2007 ketika Heinze menyatakan keinginan pindah ke Liverpool. United menolak permintaan tersebut dan menegaskan bahwa pemain tidak akan dijual ke rival utama. Heinze sempat menempuh jalur hukum dengan mengklaim adanya kesepakatan tertulis, tetapi panel Premier League memutuskan berpihak kepada klub. Ia akhirnya dijual ke Real Madrid.
Ángel Di María dan Satu Musim Penuh Gejolak
Pada Agustus 2014, United memecahkan rekor transfer klub dengan mendatangkan Ángel Di María dari Real Madrid senilai sekitar 59,7 juta poundsterling. Awalnya, Di María tampil impresif dan langsung menyumbang gol serta assist. Namun performanya menurun drastis pada paruh kedua musim. Insiden pembobolan rumahnya oleh pencuri turut memengaruhi kondisi psikologisnya dan keluarganya.
Hanya setahun berselang, Di María hengkang ke Paris Saint-Germain. Banyak pihak menilai kepergiannya terlalu cepat, sementara sebagian suporter mengkritik sikapnya yang dianggap kurang berkomitmen. Kasus ini kembali menegaskan pola yang sama: pemain Argentina kesulitan menemukan kenyamanan jangka panjang di Old Trafford.
Marcos Rojo dan Sergio Romero: Prestasi Tanpa Akhir Manis
Dua pemain Argentina lainnya, Marcos Rojo dan Sergio Romero, datang pada era Louis van Gaal. Rojo bergabung pada 2014 dari Sporting Lisbon dan bertahan hingga 2021. Ia dikenal sebagai bek serba bisa yang kerap tampil penting di laga-laga besar, tetapi rentan cedera. Romero datang gratis dari Sampdoria pada 2015 dan menjadi kiper andalan di kompetisi Eropa, termasuk saat United menjuarai Liga Europa 2017.
Keduanya meninggalkan klub tanpa perpisahan meriah. Romero kehilangan posisi setelah kehadiran Dean Henderson dan memilih hengkang, sementara Rojo kembali ke Argentina untuk bergabung dengan Boca Juniors. Keduanya meninggalkan warisan berupa trofi, tetapi minim pengakuan jangka panjang.
Generasi Baru: Lisandro Martínez dan Alejandro Garnacho
Gelombang baru pemain Argentina tiba bersama kedatangan manajer Erik ten Hag. Lisandro Martínez, bek tengah yang dibeli dari Ajax pada 2022, langsung menjadi pilar pertahanan dan ikut mengantarkan United meraih Piala Liga Inggris 2023 serta Piala FA 2024. Agresivitas dan kemampuan membangun serangan dari belakang membuatnya cepat diterima suporter.
Sementara itu, Alejandro Garnacho muncul dari akademi klub. Meski lahir di Spanyol, ia memilih membela tim nasional Argentina mengikuti jejak ibunya. Winger muda itu mencetak gol spektakuler berupa tendangan salto ke gawang Everton pada November 2023 dan menjadi salah satu talenta paling menjanjikan. Namun, pada 2025, Garnacho hengkang ke Chelsea, menambah daftar perpisahan yang terjadi sebelum potensinya benar-benar matang di Old Trafford.
Pola yang Berulang
Dari Verón hingga Garnacho, hubungan Manchester United dengan pemain Argentina menunjukkan pola yang konsisten: ekspektasi tinggi, harga mahal, momen gemilang yang singkat, lalu perpisahan yang sering kali menimbulkan tanda tanya. Faktor adaptasi budaya, cuaca, intensitas liga, hingga dinamika internal klub menjadi penyebab yang berulang.
Meski begitu, bukan berarti kisah ini tanpa keberhasilan. Tevez dan Martínez membuktikan bahwa pemain Argentina bisa menjadi bagian penting dari kesuksesan United. Yang dibutuhkan hanyalah waktu, kepercayaan, dan lingkungan yang mendukung. Ke depan, pertanyaannya sederhana: apakah United akan kembali berani menaruh taruhan besar pada pemain Argentina, atau justru belajar dari sejarah panjang yang penuh liku ini?
Komentar (0)