30, 2026
Internasional

Hujan Ekstrem Hantam Jepang, Banjir Rendam Mobil Mewah dan 1 Tewas

Hujan deras melanda Jepang, memicu banjir, longsor, gangguan kereta, dan menewaskan seorang perempuan setelah kendaraan terendam banjir.]]>

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Hujan Ekstrem Hantam Jepang, Banjir Rendam Mobil Mewah dan 1 Tewas

Hujan Ekstrem Hantam Jepang, Banjir Rendam Mobil Mewah dan 1 Tewas

Badai hujan deras yang melanda Jepang akhir pekan lalu menyebabkan banjir dan longsor parah di beberapa wilayah, menewaskan setidaknya satu orang dan merendam puluhan kendaraan termasuk mobil mewah. Badai yang terus mengguyur wilayah barat dan tengah Jepang sejak Sabtu (8/7) memaksa ribuan warga dievakuasi dari rumah mereka.

Skala Bencana yang Luas

Badai yang disebut sebagai salah satu yang terparah dalam dekade terakhir ini telah memicu peringatan bahaya tinggi dari badan meteorologi Jepang. Curah hujan yang mencapai 100 milimeter per jam di beberapa daerah telah menggenangi jalan-jalan utama, merusak infrastruktur, dan memaksa penutupan fasilitas publik termasuk bandara dan stasiun kereta api.

Di Prefektur Hiroshima, salah satu wilayah terdampak terparah, air bah setinggi beberapa meter mengalir masuk ke kawasan perumahan dan pusat kota. Video yang beredar di media sosial menunjukkan mobil-mobil mewah terendam air di parkir basement gedung perkantoran mewah di pusat kota Hiroshima.

Korban Jiwa dan Evakuasi Massal

Badan Manajemen Kedaruratan Jepang melaporkan satu orang tewas akibat longsor di Prefektur Okayama. Korban, seorang pria berusia 70-an tahun, ditemukan tidak bernyawa di dalam rumahnya yang tertimbun longsor tanah dan batu.

"Lebih dari 100.000 warga di beberapa prefektur telah diperintahkan untuk evakuasi dini," kata juru bicara Badan Manajemen Kedaruratan Jepang dalam konferensi pers. "Kami terus memantau situasi dan meminta warga untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya banjir dan longsor lanjutan."

Pihak berwenang telah menyiapkan pusat pengungsian di sekolah dan gedung komunitas di daerah terdampak. Para pengungsi menyampaikan kesulitan mereka karena kekurangan persediaan makanan dan air minum.

Dampak pada Transportasi dan Infrastruktur

Badai ini telah mengganggu sistem transportasi di seluruh Jepang. Ratusan penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Kansai di Osaka dibatalkan atau ditunda. Layanan kereta cepat Shinkansen juga terganggu, dengan banyak jalur dihentikan sementara untuk memastikan keselamatan penumpang.

Jaringan listrik juga terkena dampak, dengan puluhan ribu rumah kehilangan akses listrik di wilayah terdampak. Perusahaan listrik setempat bekerja keras untuk memulihkan pasokan listrik, namun beberapa area diperkirakan akan kehilangan listran selama beberapa hari.

Respons Pemerintah dan Masa Depan

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida telah memerintahkan para menteri untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam menangani situasi darurat. "Situasi sungai di beberapa wilayah sangat genting dan berbahaya," kata Kishida dalam sebuah pernyataan. "Kami meminta semua warga untuk mengikuti instruksi evakuasi dari pihak berwenang."

Badan Meteorologi Jepang memperkirakan hujan akan terus mengguyur wilayah barat dan tengah Jepang hingga Selasa (11/7), meskipun intensitasnya diperkirakan akan mulai mereda. Para ahli meteorologi khawatir bahwa curah hujan yang tinggi dapat memicu banjir bandang dan longsor lanjutan, terutama di daerah dengan tanah yang sudah jenuh air.

Kondisi Saat Ini dan Upaya Pemulihan

Tim penyelamat terus bekerja untuk mencari korban yang masih hilang dan membantu warga terdampak. Di beberapa daerah, kendaraam berat digunakan untuk membersihkan jalan yang terhalang pohon tumbang dan material longsor.

Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata telah membentuk tim khusus untuk mengevaluasi kerusakan pada infrastruktur dan mempersiapkan rencana pemulihan jangka panjang. "Kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk memastikan keselamatan warga dan memulihkan normalitas sesegera mungkin," kata sepejabat dari kementerian tersebut.

Badan Meteorologi Jepang mengingatkan bahwa musim hujan dan topan di Jepang biasanya berlangsung hingga akhir September, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri dengan baik menghadapi bencana alam yang mungkin terjadi di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter