Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) resmi mengubah nama turnamen paling bergengsi di kawasan Asia Tenggara dari AFF Cup menjadi ASEAN Cup. Perubahan ini diumumkan langsung oleh Presiden AFF, Mayor Jenderal Khiev Sameth, dalam sebuah acara seremoni yang digelar di sela-sela pertemuan Dewan AFF. Penamaan baru tersebut berlaku untuk edisi 2024 yang akan digelar pada November mendatang. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya rebranding agar turnamen memiliki identitas yang lebih kuat, tidak hanya sebagai milik federasi, tetapi sebagai milik seluruh masyarakat Asia Tenggara.
Perubahan Nama dan Identitas Baru
Khiev Sameth menjelaskan bahwa alasan utama perubahan nama adalah semangat kesatuan kawasan. Nama AFF Cup selama ini lebih identik dengan federasi yang menaunginya, bukan dengan negara-negara peserta. Dengan mengusung nama ASEAN Cup, diharapkan turnamen ini menjadi simbol kebanggaan kolektif bagi sebelas negara anggota. AFF juga memperkenalkan logo dan trofi baru yang diklaim lebih modern dan merepresentasikan semangat kompetisi serta persatuan. Ia menegaskan, perubahan ini bukan sekadar urusan nama, melainkan upaya membangun warisan sepak bola yang lebih besar untuk generasi mendatang di Asia Tenggara.
Dari sisi kompetisi, ASEAN Cup 2024 mempertahankan format yang sama seperti edisi-edisi sebelumnya. Sebanyak sepuluh negara akan bertarung, terbagi dalam dua grup yang masing-masing berisi lima tim. Fase grup akan digelar dengan sistem kandang dan tandang, dilanjutkan dengan babak semifinal serta final yang juga menggunakan format dua leg. Jadwal pertandingan akan menyesuaikan dengan kalender kompetisi domestik masing-masing negara anggota. Drawing atau undian pembagian grup dijadwalkan berlangsung pada akhir Mei 2024 di Hanoi, Vietnam.
Kesempatan Indonesia dan Ambisi Juara
Bagi Indonesia, ASEAN Cup 2024 menjadi panggung penting untuk mengakhiri dahaga gelar juara yang sudah lama dinanti. Tim Garuda tercatat belum pernah menjuarai turnamen ini sejak pertama kali digelar pada 1996, meski telah enam kali melaju hingga partai final. Pencapaian terbaik terjadi pada edisi 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020, namun selalu berakhir sebagai runner-up. Kegagalan terakhir di final 2020 saat melawan Thailand masih menjadi luka bagi para penggemar sepak bola tanah air.
Pelatih tim nasional Indonesia, Shin Tae-yong, menilai turnamen ini tetap menjadi target serius. Menurutnya, ASEAN Cup bisa menjadi batu loncatan untuk meningkatkan peringkat FIFA sekaligus membangun kepercayaan diri pemain muda. Ia menyebut sejumlah pemain abroad yang berlaga di Eropa berpeluang dipanggil, terutama jika jadwal kompetisi memungkinkan. Namun, ia juga menyoroti padatnya kalender pertandingan menjelang putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia yang akan berlangsung pada September dan Oktober 2024. Manajemen beban pemain menjadi prioritas agar tidak terjadi cedera berkepanjangan.
Thailand dan Vietnam Tetap Menjadi Ancaman
Thailand datang sebagai juara bertahan dengan rekor tujuh gelar, menjadikannya tim paling sukses di turnamen ini. Federasi Sepak Bola Thailand (FAT) menyatakan komitmen untuk mempertahankan dominasi, meski akan menghadapi jadwal ketat karena banyak pemain inti berkarier di Liga Thailand yang padat. Sementara itu, Vietnam terus berbenah di bawah pelatih Philippe Troussier. Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF) menyebut ASEAN Cup sebagai salah satu prioritas utama pada 2024, menyusul kegagalan tim di beberapa ajang sebelumnya. Dua raksasa Asia Tenggara itu diprediksi kembali menjadi penghalang utama langkah Indonesia menuju final.
Malaysia, Singapura, dan Filipina juga tidak bisa diabaikan. Malaysia tercatat sedang membangun skuad muda dengan sejumlah pemain naturalisasi, sementara Singapura dan Filipina terus mengandalkan pemain yang berkarier di luar negeri. Timor Leste dan Brunei Darussalam yang harus melewati babak kualifikasi turut memperebutkan satu tempat di putaran final. Myanmar dan Laos menjadi tim yang sering menyulitkan lawan-lawannya di fase grup, meski belum konsisten bersaing di papan atas.
Piala Dunia 2026 dan Peluang Kanada serta Asia Tenggara
Di sisi lain, perbincangan soal Piala Dunia 2026 tidak bisa dilepaskan dari format baru yang akan diikuti 48 tim. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bertindak sebagai tuan rumah bersama. Kanada, yang lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar, kini berstatus tuan rumah otomatis untuk edisi 2026. Kehadiran Kanada di putaran final membuat negara itu tak perlu melewati kualifikasi, dan akan memanfaatkan waktu yang tersedia untuk mengembangkan skuad serta infrastruktur sepak bola. Federasi Sepak Bola Kanada menargetkan bisa melaju lebih jauh dibandingkan penampilan 2022, di mana mereka tersingkir di fase grup meski sempat memberikan perlawanan sengit kepada Belgia dan Kroasia.
Sementara itu, untuk zona Asia, putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi jalur utama bagi negara-negara ASEAN untuk mengamankan tiket otomatis. Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Malaysia masih memiliki peluang, tergantung hasil undian dan performa di setiap laga. Federasi-federasi di kawasan menyadari bahwa peluang lolos ke Piala Dunia kini lebih terbuka seiring bertambahnya kuota untuk Asia, dari sebelumnya empat setengah menjadi delapan slot langsung ditambah satu tempat playoff antar-konfederasi. Ini menjadi dorongan besar bagi negara-negara Asia Tenggara untuk tidak hanya berhenti pada prestasi di level regional, tetapi juga merambah panggung global.
Dampak Komersial dan Suporter
Perubahan nama menjadi ASEAN Cup diprediksi membawa dampak komersial signifikan. Hak siar dan sponsor diharapkan meningkat karena nilai jual nama ASEAN lebih besar dibandingkan AFF. Sejumlah pengamat sepak bola menilai langkah rebranding ini meniru model kompetisi Eropa seperti UEFA Euro yang identik dengan kawasan, bukan federasinya. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal kualitas penyelenggaraan, standar wasit, dan fasilitas stadion di beberapa negara peserta. AFF berjanji akan melakukan peningkatan pada aspek-aspek tersebut, termasuk penggunaan teknologi VAR secara bertahap pada edisi mendatang.
Para suporter di Indonesia menyambut positif perubahan nama tersebut. Kelompok suporter seperti Garuda Fans dan berbagai komunitas sepak bola daerah berharap ASEAN Cup 2024 menjadi momentum kebangkitan. Mereka berharap federasi dan pelatih tidak menganggap enteng turnamen ini, karena gelar juara akan menjadi obat rindu yang panjang bagi penggemar sepak bola nasional. Diskusi di media sosial pun ramai menanyakan satu hal: apakah Indonesia mampu mengakhiri puasa gelar, atau Kanada yang lebih dulu mencatat sejarah di Piala Dunia 2026? Waktu yang akan menjawab, dan sepak bola Asia Tenggara berada di persimpangan besar menuju panggung yang lebih tinggi.
Komentar (0)