Penampung dan Buoy Ditemukan Tim SAR TNI di Perairan Selat Sunda
Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) TNI Angkatan Laut (AL) menemukan beberapa buah pelampung dan buoy di perairan Selat Sunda dalam operasi pencarian kapal tenggelam KM. Sinar Bangun. Penemuan ini menjadi harapan baru bagi keluarga korban dan tim SAR yang masih terus melakukan pencarian di lokasi kejadian.
Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda (L) Julius Widjoat mengatakan bahwa penemuan pelampung dan buoy tersebut dilakukan pada Rabu (6/6) siang. "Tim SAR TNI AL yang terdiri dari KRI Rigel dan KRI Teluk Sampit berhasil menemukan beberapa buah pelampung dan buoy di lokasi sekitar 15 mil dari titik tenggelamnya KM. Sinar Bangun," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu malam.
Menurut Julius, penemuan ini menjadi petunjuk penting dalam proses pencarian korban selamat. "Meskipun belum ditemukan korban selamat, penemuan pelampung dan buoy ini menunjukkan bahwa korban masih mungkin berada di sekitar area tersebut. Kami masih optimis menemukan korban selamat," jelasnya.
Detail Penemuan Pelampung dan Buoy
Pelampung dan buoy yang ditemukan tim SAR memiliki ukuran beragam. Beberapa di antaranya masih dalam kondisi utuh, sementara sebagian lainnya mengalami kerusakan ringan. Tim SAR telah mengambil foto dokumentasi sebagai bukti penemuan dan akan menganalisis lebih lanjut mengenai asal usul objek tersebut.
"Kami menduga pelampung dan buoy ini berasal dari KM. Sinar Bangun atau kapal lain yang berlayar di sekitar area tersebut. Namun kami masih melakukan investigasi untuk memastikannya," terang Julius.
Tim SAR juga melaporkan bahwa kondisi cuaca di lokasi pencarian saat ini relatif baik, dengan gelombang yang tidak terlalu tinggi. Hal ini memudahkan operasi pencarian meski sudah memasuki hari ke-7 sejak kapal tenggelam.
Upaya Pencoran Terus Dilakukan
Sejak KM. Sinar Bangun dilaporkan tenggelam pada 29 Mei lalu, TNI AL telah mengerahkan berbagai kapal dan pesawat untuk membantu operasi pencarian. Selain KRI Rigel dan KRI Teluk Sampit, beberapa kapal patroli TNI AL lainnya juga turut serta dalam operasi ini.
"Kami telah memperluas area pencarian hingga 50 mil dari titik tenggelam. Selain menggunakan kapal, kami juga menggunakan pesawat patroli untuk memantau area dari udara," jelas Julius.
Selain TNI AL, Basarnas juga turut serta dalam operasi pencarian. Basarnas telah mengirimkan tim SAR darat dan laut untuk membantu pencarian korban. "Kami berkoordinasi erat dengan TNI AL dan pihak berwenang lainnya untuk memastikan operasi pencarian berjalan efektif," kata Juru Bicara Basarnas.
Kondisi Korban dan Evakuasi
Sampai saat ini, total korban yang telah dievakuasi mencapai 104 orang, dengan 18 di antaranya dalam kondisi luka-luka. Sementara itu, 181 orang masih dinyatakan hilang. Mayoritas korban yang telah dievakuasi adalah penumpang dan awak kapal.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga telah menyiapkan rumah singgah bagi keluarga korban yang datang ke Pelabuhan Belawan untuk menunggu kabar tentang anggota keluarga mereka.
Respons Pemerintah dan Masyarakat
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah memerintahkan Ditjen Perhubungan Laut untuk melakukan investigasi menyeluruh mengenai penyebab tenggelamnya KM. Sinar Bangun. "Kami akan memastikan bahwa semua aspek dari kecelakaan ini diteliti secara mendalam," ujarnya.
Sementara itu, masyarakat dan organisasi swasta terus memberikan bantuan bagi korban tenggelamnya KM. Sinar Bangun. Donasi berupa uang, pakaian, dan makanan terus mengalir ke posko penanganan korban di Pelabuhan Belawan.
Operasi pencarian korban tenggelam KM. Sinar Bangun diperkirakan akan berlanjut hingga semua korban ditemukan. Tim SAR tetap optimis bahwa masih ada korban selamat yang berada di perairan Selat Sunda.
Komentar (0)