Badan Komunikasi Pemuda dan Mahasiswa (Bakom) menilai investasi telah menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Penilaian itu disampaikan menyusul sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan perbaikan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Menurut Bakom, arah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo-Gibran yang menempatkan investasi sebagai penggerak utama mulai memperlihatkan hasil. Aliran modal masuk ke sejumlah sektor strategis, terutama industri pengolahan, energi terbarukan, dan infrastruktur konektivitas, dinilai berkontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja serta peningkatan nilai tambah domestik.
Investasi sebagai Penopang Pertumbuhan
Bakom menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak lagi hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Investasi, baik dari dalam maupun luar negeri, disebut mengambil peran yang semakin dominan dalam menjaga laju ekspansi ekonomi nasional. Hal ini terlihat dari realisasi penanaman modal yang terus meningkat pada sejumlah sektor padat karya dan padat modal.
Organisasi yang bergerak di bidang komunikasi publik dan pemberdayaan pemuda itu menilai kebijakan hilirisasi sumber daya alam menjadi salah satu faktor pendorong masuknya investasi. Pengolahan nikel, bauksit, dan komoditas lainnya di dalam negeri dinilai membuka peluang investasi baru di sektor industri pengolahan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Selain itu, pembangunan smelter dan kawasan industri terpadu disebut turut menarik minat investor asing. Bakom menilai keberlanjutan proyek-proyek tersebut akan sangat menentukan apakah momentum investasi dapat dipertahankan hingga akhir masa pemerintahan.
Stabilitas Iklim Usaha Jadi Kunci
Bakom menekankan bahwa keberlanjutan investasi bergantung pada stabilitas iklim usaha. Kepastian hukum, kemudahan perizinan, serta konsistensi regulasi menjadi faktor yang menentukan kepercayaan investor jangka panjang. Menurut Bakom, pemerintah perlu terus menjaga iklim usaha agar tidak terjadi gejolak yang dapat menurunkan minat penanam modal.
Dalam pandangan Bakom, reformasi perizinan berusaha berbasis risiko perlu terus dievaluasi. Penyederhanaan prosedur dan integrasi layanan perizinan di berbagai daerah dinilai masih menghadapi kendala, terutama terkait koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Hambatan semacam ini, jika dibiarkan, berpotensi memperlambat realisasi investasi yang sudah direncanakan.
Bakom juga menyoroti pentingnya kepastian dalam pelaksanaan proyek strategis nasional. Proyek-proyek yang memiliki nilai investasi besar dinilai membutuhkan jaminan penyelesaian tepat waktu agar memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat, bukan sekadar angka komitmen di atas kertas.
Dampak terhadap Lapangan Kerja
Bakom menilai dampak investasi terhadap penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo-Gibran. Sektor industri pengolahan dan konstruksi disebut menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, meskipun kualitas dan keberlanjutan pekerjaan tersebut masih perlu menjadi perhatian.
Bagi kalangan muda, masuknya investasi di sektor industri bernilai tambah dinilai membuka peluang karier yang lebih luas, terutama di bidang teknik, logistik, dan teknologi informasi. Bakom mendorong pemerintah memperkuat pelatihan vokasi agar tenaga kerja lokal dapat mengisi kebutuhan industri yang terus berkembang.
Namun, Bakom mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang ditopang investasi perlu disertai pemerataan. Pembangunan yang terpusat di kawasan tertentu berisiko menimbulkan kesenjangan antarwilayah. Karena itu, diversifikasi lokasi investasi ke luar Jawa dinilai penting untuk menjaga keseimbangan pembangunan nasional.
Tantangan Eksternal dan Domestik
Menjelang dua tahun pemerintahan, Bakom mengakui masih ada sejumlah tantangan yang membayangi kinerja investasi. Ketidakpastian ekonomi global, kebijakan suku bunga negara-negara besar, serta gejolak geopolitik disebut dapat memengaruhi arus modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, daya saing industri, ketersediaan energi, dan kualitas sumber daya manusia menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai. Bakom menilai pemerintah perlu memperkuat koordinasi antarlembaga agar kebijakan investasi berjalan efektif dan tidak tumpang tindih.
Bakom juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pemberian insentif kepada investor. Insentif fiskal dan nonfiskal dinilai harus diberikan secara terukur dan berbasis pada dampak ekonomi yang jelas, sehingga tidak menimbulkan beban baru bagi keuangan negara.
Proyeksi ke Depan
Ke depan, Bakom berharap pemerintah terus menjadikan investasi sebagai instrumen utama mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Pertumbuhan yang berkualitas, menurut Bakom, bukan hanya diukur dari angka pertumbuhan produk domestik bruto, tetapi juga dari kemampuan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat struktur industri nasional.
Bakom menilai dua tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran merupakan fase penting untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh. Jika momentum investasi dapat dijaga dan dikelola dengan baik, Bakom optimistis target pertumbuhan ekonomi nasional dapat tercapai tanpa mengorbankan stabilitas dan keberlanjutan.
Sebagai organisasi yang menaungi pemuda dan mahasiswa, Bakom menyatakan akan terus mengawal kebijakan ekonomi pemerintah, termasuk memberi masukan konstruktif agar arah pembangunan tetap berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Bakom menegaskan bahwa partisipasi generasi muda dalam mengawasi dan mendukung kebijakan investasi merupakan bagian dari upaya memperkuat demokrasi ekonomi di Indonesia.
Dengan berbagai capaian dan tantangan yang ada, Bakom menilai perjalanan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi titik evaluasi penting. Investasi yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi dinilai perlu terus didorong, namun tetap dengan memperhatikan aspek pemerataan, keberlanjutan, dan kepastian hukum bagi seluruh pelaku usaha.
Komentar (0)