Kai Havertz mengaku menikmati betul adu pressing yang tersaji ketika Arsenal berhadapan dengan Bayern Muenchen pada perempat final Liga Champions. Penyerang berkebangsaan Jerman itu menilai duel tersebut sebagai salah satu laga yang paling menuntut secara fisik dan taktis, terutama karena kedua tim sama-sama berani menekan tinggi sejak menit awal.
Bagi Havertz, pertemuan dengan klub yang pernah membesarkan namanya di Bundesliga itu bukan sekadar laga eliminasi biasa. Atmosfer Emirates Stadium pada leg pertama dan tekanan penonton di Allianz Arena pada leg kedua membuat setiap penguasaan bola harus diputuskan dalam hitungan detik. Ia menyebut situasi semacam itu justru membuatnya bersemangat, bukan terbebani.
Intensitas Tinggi Sejak Menit Pertama
Arsenal di bawah asuhan Mikel Arteta dikenal sebagai tim yang agresif dalam melakukan pressing. Pola itu terlihat jelas ketika The Gunners menghadapi Bayern. Lini depan Arsenal, termasuk Havertz yang ditempatkan sebagai ujung tombak, mendapat tugas pertama untuk mengganggu bek tengah lawan dan memotong jalur umpan ke gelandang bertahan.
Bayern, di sisi lain, tidak tinggal diam. Tim asuhan Thomas Tuchel berusaha keluar dari tekanan melalui umpan pendek dari area pertahanan, memanfaatkan kemampuan Manuel Neuer yang nyaman bermain dengan kaki. Situasi ini menciptakan tarik-menarik yang membuat lini tengah menjadi wilayah paling padat sepanjang pertandingan.
Havertz menuturkan, duel semacam ini menuntut konsentrasi penuh. Sebab, satu langkah salah dalam menentukan kapan harus menekan dan kapan harus bertahan bisa langsung dimanfaatkan lawan. Menurutnya, justru di momen-momen seperti itulah kualitas seorang pemain diuji.
Peran Havertz sebagai Penekan Pertama
Sejak didatangkan dari Chelsea pada musim panas 2023, Havertz memang beberapa kali dipercaya mengisi posisi penyerang tengah. Peran itu membuatnya tidak hanya dituntut mencetak gol, tetapi juga menjadi penekan pertama yang menentukan arah pressing seluruh tim.
Dalam laga melawan Bayern, tugas tersebut dijalankan dengan disiplin. Havertz beberapa kali terlihat berlari menutup ruang antara bek tengah dan bek sayap lawan, memaksa Bayern memainkan bola ke area yang lebih sempit. Ketika bola berhasil direbut di sepertiga akhir, Arsenal bisa langsung mengancam gawang lawan tanpa harus membangun serangan panjang.
Ia mengakui bahwa peran itu menguras energi. Namun, menurutnya, ada kepuasan tersendiri ketika pressing berhasil dan berujung pada peluang. Havertz menyebut rekan-rekannya di lini depan dan lini tengah selalu bergerak sebagai satu kesatuan, sehingga tekanan yang diberikan tidak berjalan setengah-setengah.
Bayern dan Ancaman Serangan Balik
Meski menikmati adu pressing, Havertz menyadari risikonya. Bayern memiliki pemain-pemain cepat seperti Leroy Sane, Jamal Musiala, dan Serge Gnabry yang mampu mengubah situasi dalam sekejap. Ketika Arsenal terlalu jauh naik, ruang di belakang lini pertahanan menjadi terbuka.
Karena itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan. Pressing harus dilakukan secara kolektif, dengan jarak antarlini yang rapat. Jika satu pemain terlambat kembali, Bayern bisa memanfaatkan transisi untuk menciptakan peluang. Hal inilah yang membuat pertemuan kedua tim terasa begitu menegangkan hingga menit terakhir.
Pada leg pertama di Emirates Stadium, kedua tim bermain imbang 2-2. Arsenal sempat unggul lebih dulu melalui Bukayo Saka, sebelum Bayern membalikkan keadaan lewat gol Serge Gnabry dan penalti Harry Kane. Leandro Trossard menyamakan kedudukan pada babak kedua, memastikan duel tetap terbuka menjelang leg kedua.
Leg Kedua dan Akhir Perjalanan Arsenal
Pada leg kedua di Allianz Arena, Bayern tampil lebih efisien. Satu gol Joshua Kimmich sudah cukup untuk membawa tuan rumah menang 1-0 dan melaju ke semifinal dengan agregat 3-2. Arsenal harus menerima kenyataan tersingkir meski tampil kompetitif di kedua laga.
Bagi Havertz, hasil tersebut tentu mengecewakan. Namun, ia menilai pengalaman menghadapi Bayern dalam dua pertemuan penuh tekanan menjadi pelajaran berharga. Menurutnya, Arsenal menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dengan salah satu klub terkuat Eropa, terutama dalam hal intensitas dan keberanian menekan.
Dampak bagi Arsenal dan Havertz
Musim tersebut menjadi periode adaptasi bagi Havertz di Arsenal. Setelah pindah dari Chelsea, ia sempat menghadapi kritik karena catatan golnya belum sesuai harapan. Namun, seiring berjalannya musim, kontribusinya meningkat, baik sebagai pencetak gol maupun sebagai bagian dari sistem pressing Arteta.
Havertz menegaskan bahwa ia menikmati gaya bermain yang diterapkan Arsenal. Sistem yang menuntut pergerakan tanpa bola, tekanan tinggi, dan kedisiplinan posisi membuatnya merasa cocok. Ia juga menilai hubungan dengan rekan-rekan setim semakin kuat seiring bertambahnya jumlah pertandingan besar yang dilalui bersama.
Duel melawan Bayern menjadi salah satu contoh bagaimana Arsenal berusaha menempatkan diri di jajaran elite Eropa. Meski langkah mereka terhenti di perempat final, pengalaman itu dianggap penting untuk perkembangan tim pada musim-musim berikutnya. Bagi Havertz secara pribadi, adu pressing melawan Bayern menjadi pengalaman yang ia kenang sebagai ujian sekaligus hiburan di tengah tekanan kompetisi.
Ia pun menegaskan bahwa pertandingan seperti itu adalah alasan mengapa banyak pemain ingin berlaga di Liga Champions. Intensitas, atmosfer, dan kualitas lawan menciptakan tantangan yang menurutnya layak dinikmati, terlepas dari hasil akhir yang tidak selalu berpihak pada Arsenal.
Komentar (0)