30, 2026
Teknologi

Kebakaran di Gunung Rinjani Capai 1.098 Hektare

Kebakaran hutan di Taman Nasional Gunung Rinjani meluas, menghanguskan 1.098,75 hektare. Pendaki diarahkan turun melalui jalur Sembalun demi keselamatan.]]>

Julia Halim
Julia Halim Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kebakaran di Gunung Rinjani Capai 1.098 Hektare

Kebakaran di Gunung Rinjani Capai 1.098 Hektare

Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) terus meluas. Data terbaru yang dihimpun dari posko penanganan bencana mencatat total area terbakar telah mencapai 1.098 hektare. Luasan tersebut tersebar di beberapa titik yang berada dalam wilayah administratif Provinsi Nusa Tenggara Barat, terutama di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara.

Angka tersebut menjadikan kebakaran ini sebagai salah satu peristiwa kebakaran hutan dan lahan terbesar yang tercatat di kawasan Rinjani dalam beberapa tahun terakhir. Petugas gabungan yang terdiri dari personel Taman Nasional Gunung Rinjani, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta relawan masyarakat masih berupaya melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah lokasi yang dinilai masih menyimpan potensi titik api.

Sebaran Titik Api dan Wilayah Terdampak

Berdasarkan laporan petugas di lapangan, kebakaran tidak terjadi pada satu titik tunggal. Api dilaporkan muncul di beberapa lokasi berbeda dengan karakter medan yang bervariasi, mulai dari padang savana, lereng berbukit, hingga area hutan yang memiliki vegetasi lebih rapat.

Wilayah yang paling parah terdampak antara lain berada di sekitar kawasan Sembalun, Sambelia, dan beberapa area di sisi utara kawasan taman nasional. Kondisi angin yang cukup kencang pada siang hari mempercepat penyebaran api, sehingga petugas mengalami kesulitan melakukan pemadaman secara langsung, terutama di titik-titik yang memiliki kemiringan cuaca ekstrem dan akses terbatas.

Faktor Cuaca dan Kondisi Medan

Musim kemarau yang berkepanjangan menjadi salah satu faktor utama yang membuat kawasan Rinjani mudah terbakar. Vegetasi yang mengering akibat minimnya curah hujan berubah menjadi bahan bakar yang mudah tersulut. Ditambah lagi, hembusan angin dari arah timur dan tenggara turut memperluas jangkauan api ke area yang sebelumnya belum terdampak.

Medan pegunungan yang curam menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam. Sejumlah lokasi hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama berjam-jam, sehingga proses pemadaman tidak bisa dilakukan secara serentak. Petugas juga harus berhati-hati terhadap potensi kebakaran bawah tanah pada area akar dan gambut tipis yang dapat memicu titik api baru meskipun permukaan telah dipadamkan.

Upaya Penanganan dan Kendala di Lapangan

Pemerintah daerah bersama pengelola taman nasional telah mengerahkan berbagai sumber daya untuk menangani kebakaran ini. Upaya pemadaman dilakukan melalui kombinasi metode manual, seperti pemukulan api dengan alat sederhana dan penyemprotan air dari sumber terdekat, serta pemadaman dari udara menggunakan helikopter water bombing di titik-titik yang dinilai strategis.

Namun, sejumlah kendala masih dihadapi. Ketersediaan air di beberapa lokasi terbatas, sementara jarak tempuh dari posko menuju titik api cukup jauh. Selain itu, jumlah personel yang dikerahkan dinilai belum sepenuhnya sebanding dengan luas area yang harus ditangani. Koordinasi antarinstansi terus dilakukan untuk memastikan distribusi logistik, peralatan, dan rotasi personel berjalan lancar.

Dampak terhadap Ekosistem dan Aktivitas Pendakian

Kebakaran ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelestarian ekosistem Rinjani. Kawasan tersebut merupakan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna endemik, termasuk beberapa spesies burung dan mamalia yang hanya ditemukan di wilayah Wallacea. Kerusakan vegetasi di area yang terbakar berpotensi mengganggu rantai makanan serta memicu erosi dan longsor pada musim hujan berikutnya.

Selain dampak ekologis, aktivitas pendakian juga terdampak. Pengelola taman nasional telah menutup sementara beberapa jalur pendakian demi alasan keselamatan. Calon pendaki diminta menunda kunjungan hingga kondisi dinyatakan aman. Penutupan ini turut memengaruhi perekonomian warga sekitar yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata, seperti jasa pemandu, porter, dan penyedia penginapan.

Penyebab dan Penyelidikan

Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Sejumlah dugaan mengarah pada faktor alam, seperti gesekan ranting kering atau sambaran petir, namun tidak menutup kemungkinan adanya aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab, misalnya pembukaan lahan dengan cara membakar atau puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Aparat kepolisian bersama pengelola taman nasional terus mengumpulkan keterangan dari saksi dan menelusuri lokasi awal munculnya api. Jika ditemukan unsur kesengajaan, pelaku dapat dikenakan sanksi pidana sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai perlindungan kawasan konservasi dan pencegahan kebakaran hutan.

Imbauan kepada Masyarakat

Pemerintah daerah mengimbau seluruh masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan Rinjani, untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada petugas jika melihat kemunculan titik api atau asap di wilayah sekitar.

Pengelola taman nasional menegaskan bahwa keselamatan jiwa menjadi prioritas utama dalam setiap operasi pemadaman. Seluruh pihak yang terlibat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Penanganan kebakaran ini diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa hari ke depan, bergantung pada kondisi cuaca dan keberhasilan pemadaman di titik-titik yang masih aktif.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Julia Halim

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter