Kebakaran Lahan Menjadi-jadi, Gunung-Gunung RI Ikut Hangus Terbakar
Tak hanya terjadi di luar Pulau Jawa, kebakaran kini juga melanda sejumlah kawasan pegunungan di Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah.]]>
---
**Kebakaran Lahan Menjadi-jadi, Gunung-Gunung RI Ikut Hangus Terbakar**
Kebakaran lahan di Indonesia kembali menjadi persoalan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika dulu api sering dibayangkan hanya melanda hamparan semak, lahan gambut, atau perkebunan, kini dampaknya merambat lebih jauh: kawasan pegunungan ikut terbakar. Lereng-lereng yang biasanya hijau dan menjadi penyangga air berubah menjadi area hangus, meninggalkan arang, asap, dan kerusakan ekologis yang tidak sederhana.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebakaran lahan bukan lagi peristiwa lokal yang bisa diselesaikan hanya dengan satu dua mobil pemadam. Ketika api mencapai kawasan gunung, medan yang sulit, akses terbatas, dan sumber air yang jauh membuat upaya pemadaman menjadi lebih rumit. Angin yang bertiup kencang di ketinggian dapat mempercepat penyebaran api, sementara vegetasi kering menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Dalam kondisi cuaca kering berkepanjangan, percikan kecil saja bisa berkembang menjadi kebakaran besar.
Penyebab kebakaran lahan sendiri beragam. Ada faktor alam seperti kemarau panjang, suhu tinggi, dan angin kencang. Namun, tidak sedikit kebakaran yang berkaitan dengan aktivitas manusia: pembukaan lahan dengan cara membakar, puntung rokok yang dibuang sembarangan, api unggun yang tidak dipadamkan, hingga praktik pembakaran untuk membersihkan lahan. Ketika api lepas kendali, dampaknya tidak lagi terbatas pada satu petak lahan. Api bisa menjalar ke hutan, semak belukar, dan kawasan pegunungan yang seharusnya dilindungi.
Kawasan gunung memiliki fungsi penting. Selain menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa, pegunungan berperan sebagai daerah tangkapan air, penyangga iklim, dan penyeimbang ekosistem. Ketika gunung terbakar, kerusakan tidak berhenti pada vegetasi yang hangus. Lapisan tanah menjadi rentan erosi. Air hujan yang seharusnya diserap tanah bisa berubah menjadi aliran permukaan yang memicu longsor dan banjir. Kualitas air juga berpotensi menurun karena abu dan sedimen masuk ke aliran sungai. Dalam jangka panjang, fungsi ekologis gunung bisa terganggu.
Dampak bagi masyarakat juga luas. Asap kebakaran menyebabkan gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit paru. Sekolah bisa diliburkan, aktivitas ekonomi terhambat, dan penerbangan terganggu jika kabut asap menebal. Petani dan peternak mengalami kerugian karena lahan dan pakan ternak terbakar. Sektor pariwisata ikut terdampak ketika kawasan pegunungan yang menjadi tujuan wisata tidak lagi aman atau tertutup asap. Bahkan relawan dan petugas pemadam menghadapi risiko tinggi saat bekerja di medan yang curam dan berasap.
Upaya pemadaman memang dilakukan, baik lewat darat maupun udara. Tim gabungan dari pemerintah daerah, badan penanggulangan bencana, petugas kehutanan, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat bergerak bersama. Namun, pemadaman di kawasan gunung tidak bisa hanya mengandalkan teknologi. Helikopter dan pesawat pembawa air memiliki keterbatasan, terutama saat angin kencang, visibilitas rendah, dan titik api tersebar. Di lapangan, petugas harus berjalan jauh, membuat sekat bakar, dan memadamkan bara di bawah permukaan tanah yang sering kali tetap menyala meski permukaan sudah terlihat aman.
Karena itu, pendekatan yang paling penting adalah pencegahan. Pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat sistem peringatan dini, patroli rutin, pemantauan titik panas, serta penegakan hukum terhadap pembakaran lahan yang disengaja. Edukasi kepada masyarakat juga harus terus dilakukan, bukan hanya saat kebakaran terjadi. Petani dan pelaku usaha perlu didorong menggunakan cara pembukaan lahan yang tidak membakar. Di sisi lain, pengelolaan bahan bakar di kawasan rawan terbakar—misalnya dengan membersihkan semak kering dan membuat jalur sekat bakar—harus menjadi agenda tetap.
Kebakaran lahan yang terus berulang dan kini ikut menghanguskan kawasan gunung adalah peringatan serius. Ini bukan sekadar bencana musiman, melainkan cermin dari lemahnya pengelolaan lingkungan, perubahan iklim, dan ketegangan antara kebutuhan ekonomi dengan kelestarian ekosistem. Jika respons hanya bersifat reaktif—memadamkan api setelah membesar—persoalan akan kembali muncul setiap tahun. Yang dibutuhkan adalah strategi jangka panjang: tata kelola lahan yang lebih adil, pengawasan yang konsisten, partisipasi masyarakat, dan penegakan aturan yang tidak pandang bulu. Tanpa itu, gunung-gunung Indonesia bukan tidak mungkin terus kehilangan tutupan hijau, dan kerusakan yang ditinggalkan akan menjadi beban bagi generasi berikutnya.
← Artikel Sebelumnya
Gempa M 4,1 Terjadi di Gayo Lues Aceh
Artikel Selanjutnya →
Komentar (0)