23, 2026
Nasional

Kemenkes Siapkan 360 Rumah Sakit Rujukan untuk Tangani Dampak Asap Karhutla

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/22/6ada3e4b7290f-tampak-sejumlah-pengendara-melintasi-jalan-rta-milono-palangka-raya-saat-asap-akibat-karhutla-masih-menyelimuti_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Rizal Fahmi
Rizal Fahmi Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kementerian Kesehatan menyiapkan sebanyak 360 rumah sakit rujukan untuk menangani dampak kesehatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini diambil sebagai bentuk kesiapan layanan kesehatan dalam menghadapi memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah yang terdampak, terutama kawasan yang selama ini menjadi episentrum kebakaran lahan gambut dan hutan.

Rumah sakit rujukan tersebut tersebar di berbagai provinsi yang dinilai memiliki risiko tinggi terdampak asap, mulai dari daerah di Sumatra hingga Kalimantan. Penetapan rumah sakit rujukan itu dimaksudkan agar pasien yang mengalami gangguan pernapasan, khususnya yang memerlukan penanganan intensif, dapat segera memperoleh layanan tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke fasilitas kesehatan lain.

Jaringan Rujukan dan Kesiapan Fasilitas

Rumah sakit yang masuk dalam daftar rujukan diharapkan memiliki kesiapan sumber daya, baik tenaga medis, ruang perawatan, maupun ketersediaan obat dan peralatan pendukung. Selain itu, fasilitas tersebut perlu menyiapkan layanan gawat darurat yang mampu menangani kasus sesak napas berat, termasuk penyediaan oksigen dan alat bantu pernapasan bagi pasien dengan kondisi kritis.

Kesiapan rumah sakit rujukan tidak hanya menyangkut kapasitas tempat tidur, tetapi juga kemampuan melakukan rujukan berjenjang. Puskesmas dan klinik di tingkat pertama berperan sebagai penyaring awal sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Dengan pola itu, beban layanan di rumah sakit rujukan dapat dikelola lebih baik dan pasien memperoleh penanganan sesuai tingkat keparahan penyakitnya.

Kementerian Kesehatan juga mendorong dinas kesehatan daerah untuk memastikan seluruh fasilitas kesehatan di wilayah terdampak asap tetap beroperasi optimal. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota menjadi kunci agar distribusi bantuan, termasuk obat-obatan dan alat pelindung diri, berjalan tepat sasaran.

Ancaman Infeksi Saluran Pernapasan dan Kelompok Rentan

Paparan asap karhutla dalam waktu lama berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Partikel halus yang terkandung dalam asap dapat masuk hingga ke saluran napas bagian dalam dan memicu peradangan. Gejala yang sering muncul antara lain batuk, sesak napas, nyeri tenggorokan, serta iritasi pada mata dan kulit.

Kelompok yang paling rentan mengalami dampak kesehatan adalah bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat penyakit pernapasan dan jantung. Bagi kelompok ini, paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada, misalnya mempercepat kekambuhan asma atau memperberat penyakit paru obstruktif kronik.

Selain gangguan pernapasan, asap juga berisiko menimbulkan gangguan pada mata berupa iritasi dan kemerahan, serta memperparah kondisi kulit bagi mereka yang memiliki riwayat alergi. Dampak jangka panjang dapat muncul apabila paparan berlangsung berulang dalam kurun waktu yang lama tanpa upaya perlindungan yang memadai.

Langkah Mitigasi di Fasilitas Kesehatan

Sejumlah langkah mitigasi disiapkan agar layanan kesehatan tetap berjalan meski kualitas udara memburuk. Fasilitas kesehatan diminta menyediakan ruang perawatan dengan sirkulasi udara yang lebih terkontrol, menyiapkan persediaan masker, serta memastikan ketersediaan oksigen dalam jumlah cukup untuk mengantisipasi lonjakan pasien.

Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara melindungi diri dari paparan asap terus dilakukan. Penggunaan masker yang tepat, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, serta menutup ventilasi rumah pada jam-jam dengan konsentrasi asap tinggi menjadi langkah sederhana yang dinilai efektif menekan risiko paparan.

Pemerintah daerah juga diharapkan aktif memantau kualitas udara melalui stasiun pemantau yang tersedia dan menyampaikan informasi kepada publik secara berkala. Transparansi data indeks standar pencemar udara membantu masyarakat menentukan langkah pencegahan, termasuk membatasi kegiatan luar ruang bagi anak sekolah.

Koordinasi Lintas Sektor dan Tantangan di Lapangan

Penanganan dampak asap karhutla tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan semata. Diperlukan sinergi dengan instansi penanggulangan bencana, pemadam kebakaran, pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum yang menangani upaya pemadaman dan pencegahan pembakaran lahan.

Tantangan di lapangan antara lain keterbatasan akses menuju wilayah terdampak, terutama di daerah dengan infrastruktur terbatas. Distribusi logistik kesehatan ke puskesmas terpencil kerap terkendala kondisi jalan dan jarak tempuh. Kondisi ini menuntut perencanaan logistik yang matang agar bantuan tidak terlambat sampai ke lokasi yang membutuhkan.

Selain itu, lonjakan pasien dalam waktu bersamaan dapat membebani kapasitas rumah sakit. Karena itu, sistem rujukan berjenjang dan pemantauan ketersediaan tempat tidur secara berkala menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan. Rumah sakit diminta melaporkan secara rutin perkembangan jumlah pasien yang berkaitan dengan dampak asap.

Imbauan kepada Masyarakat

Masyarakat di wilayah terdampak diminta tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala gangguan pernapasan yang berkelanjutan. Keluhan seperti sesak napas, batuk yang memburuk, atau nyeri dada sebaiknya segera dikonsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat agar memperoleh penanganan yang tepat.

Bagi penderita penyakit kronis, kelengkapan obat rutin perlu dipastikan agar kondisi tetap terkendali selama periode kabut asap. Penerapan pola hidup bersih dan sehat, konsumsi air yang cukup, serta menjaga kebersihan ruangan turut membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Kesiapan 360 rumah sakit rujukan menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat layanan kesehatan dalam menghadapi dampak karhutla. Efektivitas langkah tersebut pada akhirnya bergantung pada koordinasi antarinstansi, kecepatan distribusi sumber daya, serta kesadaran masyarakat dalam melindungi diri dari paparan asap.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizal Fahmi

Menulis review produk kesehatan, suplemen, dan teknologi wearables.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter