23, 2026
Olahraga

KKP Ajak Dunia Usaha Kolaborasi dan Inovasi Pengolahan Ikan

Direktur Jenderal KKP Yudi Nurul Ihsan mengajak pengusaha perikanan untuk berkolaborasi demi meningkatkan kualitas dan konsumsi ikan di Indonesia.]]>

Hesti Kusuma
Hesti Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

KKP Ajak Dunia Usaha Kolaborasi dan Inovasi Pengolahan Ikan

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak pelaku dunia usaha untuk berkolaborasi dan berinovasi dalam pengembangan industri pengolahan ikan nasional. Ajakan itu disampaikan sebagai bagian dari upaya memperkuat hilirisasi produk kelautan dan perikanan, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta memperluas akses pasar domestik dan ekspor.

Menurut KKP, pengolahan ikan menjadi salah satu simpul penting dalam rantai nilai sektor perikanan. Selama ini sebagian besar produksi masih dijual dalam bentuk segar, sehingga nilai tambah yang dinikmati nelayan dan pembudidaya relatif terbatas. Melalui pengolahan yang lebih maju, produk perikanan dapat memiliki masa simpan lebih panjang, daya saing lebih tinggi, dan jangkauan pasar yang lebih luas.

Hilirisasi sebagai Prioritas

Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan menempatkan hilirisasi sebagai salah satu agenda utama. Kebijakan itu diarahkan pada pengembangan produk bernilai tambah, mulai dari pengolahan sederhana seperti pendinginan dan pembekuan, hingga pengolahan lanjutan seperti surimi, fillet, produk siap saji, ikan kaleng, serta produk olahan berbasis rumput laut dan hasil samping industri.

KKP menilai hilirisasi tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan keterlibatan dunia usaha, mulai dari industri pengolahan skala besar, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), koperasi, hingga pelaku logistik dan ritel. Kolaborasi dinilai penting agar pasokan bahan baku, kapasitas produksi, standar mutu, dan permintaan pasar dapat tersambung secara lebih efisien.

Dalam sejumlah forum, KKP menekankan pentingnya kemitraan antara industri besar dan UMKM. Pola kemitraan diharapkan memastikan bahan baku terserap dengan harga wajar, sekaligus memberikan pendampingan teknis, akses pasar, dan kepastian usaha bagi pengolah skala kecil.

Inovasi Produk dan Diversifikasi Pasar

Selain kolaborasi, KKP mendorong inovasi produk agar produk perikanan Indonesia lebih diterima pasar. Inovasi yang dimaksud mencakup pengembangan formula, kemasan, cita rasa, serta produk yang menyesuaikan preferensi konsumen, termasuk segmen pasar yang menuntut kepraktisan dan kandungan gizi tinggi.

Diversifikasi pasar juga menjadi perhatian. KKP menilai pasar ekspor tidak boleh bergantung pada satu atau dua negara tujuan. Penguatan pasar domestik melalui kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) dipandang sebagai langkah paralel untuk menyerap produksi sekaligus meningkatkan konsumsi protein ikan masyarakat.

Penguatan UMKM Pengolahan

UMKM pengolahan ikan menempati porsi besar dalam struktur industri perikanan nasional. Karena itu, program penguatan UMKM diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi, penerapan cara pengolahan yang baik, perbaikan kemasan, serta fasilitasi sertifikasi mutu dan keamanan pangan.

KKP juga menyoroti pentingnya fasilitas rantai dingin, seperti cold storage dan kendaraan berpendingin, agar mutu produk terjaga sejak dari sentra produksi hingga ke pasar. Ketersediaan infrastruktur pendingin dinilai menjadi faktor penentu bagi pengolah kecil untuk dapat memenuhi standar pembeli modern, termasuk ritel dan eksportir.

Selain itu, akses pembiayaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Pelaku usaha pengolahan didorong memanfaatkan skema kredit usaha rakyat, pembiayaan dari lembaga keuangan, serta program pendampingan usaha yang disediakan pemerintah dan mitra industri.

Standar Mutu dan Kesiapan Ekspor

Untuk pasar ekspor, KKP menekankan pemenuhan persyaratan negara tujuan, antara lain sistem jaminan mutu dan keamanan pangan, ketertelusuran produk, serta kesesuaian dokumen. Penerapan standar mutu di tingkat unit pengolahan dianggap sebagai syarat agar produk Indonesia tetap kompetitif di tengah persaingan dengan negara produsen lain.

KKP mendorong pelaku usaha memanfaatkan layanan pendampingan dan fasilitasi yang tersedia, mulai dari pembinaan teknis hingga pengurusan sertifikasi. Pendampingan dilakukan agar pengolah tidak hanya berorientasi pada volume, tetapi juga pada konsistensi mutu yang menjadi kunci kepercayaan pembeli.

Di sisi lain, pengembangan produk olahan dinilai perlu memperhatikan aspek keberlanjutan. Pemanfaatan hasil samping dan limbah pengolahan, seperti kulit, tulang, dan kepala ikan, disebut memiliki potensi ekonomi, antara lain untuk bahan pakan, kolagen, maupun produk lain yang bernilai tambah.

Harapan pada Dunia Usaha

Melalui ajakan kolaborasi ini, KKP berharap dunia usaha dapat berperan lebih besar dalam membangun ekosistem pengolahan ikan yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir. Peran itu mencakup investasi pada kapasitas pengolahan, alih teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta pembukaan akses pasar baru.

Pemerintah memandang sinergi antara kebijakan publik dan investasi swasta sebagai kunci untuk memastikan sektor kelautan dan perikanan memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata, khususnya bagi nelayan, pembudidaya, dan pelaku usaha kecil di daerah sentra produksi.

KKP menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog dengan asosiasi usaha, industri pengolahan, dan pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi dan inovasi diharapkan tidak berhenti pada forum pertemuan, tetapi berlanjut menjadi kerja bersama yang terukur dalam peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan posisi produk perikanan Indonesia di pasar global.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Kusuma

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter