29, 2026
Nasional

Kronologi Demo Sumpah Pemuda di Yogyakarta Berujung Ricuh

Dian Gunawan
Dian Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kronologi Demo Sumpah Pemuda di Yogyakarta Berujung Ricuh

Unjuk rasa yang digelar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda di Yogyakarta pada Rabu (28/10) berakhir ricuh. Aksi yang dimulai dengan damai berubah berantakan setelah adanya tindakan yang dianggap provokatif dari sekelompok demonstran. Kericakan tersebut melibatkan ratusan peserta aksi dan aparat keamanan, menyebabkan beberapa laporan luka-luka dan kerusakan properti di sekitar lokasi demonstrasi.

Awal Aksi Damai

Demonstrasi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB di depan Gedung Agung Yogyakarta. Ratusan peserta, terdiri dari berbagai organisasi pemuda dan mahasiswa, berkumpul untuk mengenang jasa para pahlawan dan menegaskan semangat persatuan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda 1928. Mereka membawa sejumlah spanduk dan poster yang berisi pesan tentang persatuan bangsa dan kritik terhadap beberapa kebijikan pemerintah.

Ketua panitia pelaksana, Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa aksi ini dilaksanakan untuk mengingat kembali pentingnya persatuan dan kesatuan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini. "Kita ingin menegaskan kembali bahwa persatuan adalah kekuatan utama bangsa Indonesia. Semangat Sumpah Pemuda harus terus hidup di kalangan generasi muda," ujar Fauzi dalam sambutannya.

Tegangan Meningkat

Sekitar pukul 11.00 WIB, suasana mulai memanas ketika sekelompok kecil peserta aksi memutuskan untuk bergerak menuju Jl. Malioboro, jalur utama yang menghubungkan beberapa titik penting di Yogyakarta. Aparat keamanan yang sudah siaga sebelumnya mencoba menghentikan aksi tersebut karena tidak mendapat izin untuk melalui jalur tersebut.

Menurut keterangan Kepala Polresta Yogyakarta, Kombes Pol Budi Santoso, pihaknya telah memberikan arahan agar aksi tetap berlangsung di area terbuka yang telah disediakan. "Kita sudah memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi secara damai. Namun ketika mereka memaksa untuk menuju ke Jl. Malioboro yang padat, kita harus mengambil langkah pencegahan," terang Budi Santoso.

Kericakan Terjadi

Tegangan akhirnya pecah ketika seorang demonstran melempar batu ke arah barisan aparat. Tindakan ini memicu reaksi dari aparat keamanan yang kemudian melakukan penangkapan terhadap orang tersebut. Keadaan semakin tidak terkendali ketika kelompok lainnya mencoba membebaskan teman mereka yang ditangkap.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan adanya bentrokan antara demonstran dan aparat. Dalam video tersebut terlihat aparat menggunakan alat pengendali massa sementara sebagian demonstran melempar batu dan memecah jendela beberapa gedung sekitar lokasi. Beberapa kendaraan dinas yang parkir di depan Gedung Agung juga mengalami kerusakan akibat aksi tersebut.

Korban dan Tindakan Lanjutan

Setelah kericakan mereda, diketahui ada lima orang demonstran dan tiga anggota aparat keamanan yang mengalami luka-luka. Para korban luka langsung dibawa ke RSUD Dr. Sardjito untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara itu, delapan orang demonstran diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan kekecewaannya atas terjadinya kericakan dalam acara yang seharusnya memupuk persatuan. "Saya minta agar semua pihak dapat menahan diri dan tidak terprovokasi. Sumpah Pemuda adalah simbol persatuan, bukan alat untuk konflik," ujar Sultan dalam keterangannya singkat.

Pihak kepolisian masih menyelidiki penyebab pasti terjadinya kerusuhan dan akan menindak tegas para pelaku yang diduga telah melakukan tindakan anarkis. "Kami akan menindak tegas siapa pun yang melakukan tindakan melanggar hukum, baik dari pihak demonstran maupun aparat yang berlebihan," tegas Kombes Pol Budi Santoso.

Reaksi Berbagai Pihak

Terjadinya kericakan dalam aisi peringatan Sumpah Pemuda mendapat berbagai reaksi dari masyarakat. Beberapa organisasi pemuda menyesalkan terjadinya bentrokan yang mengikis semangat persatuan. Sementara itu, sebagian warga Yogyakarta meminta agar pemerintah dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi aspirasi masyarakat agar tidak terulang lagi insiden serupa.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Bambang Shergiarto, mengatakan bahwa insiden ini menunjukkan masih adanya kesalahpahaman dalam menyampaikan aspirasi. "Protes adalah hak konstitusional, tetapi harus dilakukan dengan cara yang tidak merusak persatuan dan ketertiban umum," jelas Bambang.

Sejumlah tokoh masyarakat dan pemimpin agama di Yogyakarta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Mereka menekankan bahwa peringatan Sumpah Pemuda harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, bukan sebagai celah untuk memecah belah bangsa.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Gunawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter