03, 2026
Teknologi

Menbud Fadli Zon: Pemanfaatan AI Tetap Mengedepankan Pendekatan Human-Centered

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/04/27/69ef47f42eb8b-ilustrasi-ai_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Menbud Fadli Zon: Pemanfaatan AI Tetap Mengedepankan Pendekatan Human-Centered

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Menbudristek) Fadli Zon menegaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia harus tetap mengedepankan pendekatan human-centered. Pernyataan ini disampaikan dalam acara diskusi yang membahas tantangan dan peluang AI dalam dunia pendidikan dan kebudayaan, beberapa waktu terakhir.

Fadli menjelaskan bahwa meskipun AI memiliki potensi besar untuk mengubah cara belajar dan mengajar, pengembangannya tidak boleh mengabaikan elemen manusia. Menurutnya, AI seharusnya menjadi alat pendukung yang memperkuat kapasitas manusia, bukan pengganti yang dapat mengikis nilai-nilai humanisme dalam pendidikan.

Pendekatan Human-Centered dalam AI

Pendekatan human-centered dalam AI menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap pengembangan teknologi. Artinya, setiap sistem AI yang dikembangkan harus mempertimbangkan aspek etika, privasi, dan martabat manusia. Fadli menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai-nilai luhur.

"AI dapat membantu proses belajar mengajar menjadi lebih efisien, namun tidak boleh menggantikan interaksi manusia yang fundamental dalam proses pendidikan," ujar Fadli dalam sambutannya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan kerangka kebijakan yang komprehensif untuk mengatur pemanfaatan AI di sektor pendidikan. Kebijakan ini akan memastikan bahwa pengembangan AI tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi semata, tetapi juga sejalan dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.

Tantangan Penerapan AI di Pendidikan

Menurut Fadli, penerapan AI di bidang pendidikan menghadapi beberapa tantangan signifikan. Pertama, kesenjangan digital antara daerah yang berbeda masih menjadi hambatan utama. Banyak sekolah di daerah terpencil yang belum memiliki akses infrastruktur teknologi yang memadai untuk mendukung implementasi AI.

Kedua, kompetensi guru dalam mengintegrasikan AI dalam proses pembelajaran masih perlu ditingkatkan. Fadli mengakui bahwa banyak guru yang masih merasa asing dengan teknologi AI sehingga memerlukan program pelatihan yang intensif dan berkelanjutan.

Ketiga, isu keamanan data dan privasi siswa menjadi perhatian serius. Dalam menggunakan AI, terutama yang melibatkan analisis data siswa, pihak sekolah dan pemerintah harus memastikan bahwa data pribadi siswa dilindungi dengan baik dan tidak disalahgunakan.

Potpositif AI dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Fadli melihat potensi besar AI dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Salah satu contoh adalah penggunaan AI dalam pembelajaran personalisasi, di mana setiap siswa dapat mendapatkan materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhannya.

"AI dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan belajar setiap siswa, sehingga guru dapat memberikan perhatian yang lebih fokus pada mereka yang memerlukan bantuan ekstra," jelasnya.

Selain itu, AI juga dapat digunakan untuk mengembangkan konten pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, terutama dalam mempertahankan minat siswa terhadap mata pelajaran yang dianggap sulit. Fadli mencontohkan bahwa dalam pembelajaran sejarah atau seni budaya, AI dapat membantu menghadirkan konten yang lebih visual dan imersif.

Langkah Strategis Pemerintah

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan AI di bidang pendidikan, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah menetapkan beberapa langkah strategis. Pertama, mempercepat pembangunan infrastruktur digital di seluruh Indonesia melalui program Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD).

Kedua, mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan literasi AI dan kecerdasan digital sejak jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda yang siap menghadapi era digital.

Ketiga, memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan dalam pengembangan dan implementasi AI. Fadli berharap dengan sinergi ini, Indonesia dapat menghasilkan solusi AI yang relevan dengan konteks lokal.

Kesimpulan

Fadli Zon menegaskan bahwa pemanfaatan AI di Indonesia harus selalu diimbangi dengan pertimbangan aspek etika, budaya, dan martabat manusia. Dengan pendekatan human-centered, AI diharapkan dapat menjadi katalisator bagi peningkatan kualitas pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan memiliki karakter bangsa yang kuat.

"Teknologi adalah alat, tetapi manusia yang menentukan arahnya. Mari kita manfaatkan AI untuk menciptakan masa depan pendidikan yang lebih inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan," tutupnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter