01, 2026
Nasional

Mendikdasmen: Ada Kaitan Kehadiran Anak ke Sekolah dengan MBG

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menjelaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan kehadiran siswa.]]>

Teguh Syahputra
Teguh Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Mendikdasmen: Ada Kaitan Kehadiran Anak ke Sekolah dengan MBG

Mendikdasmen: Kehadiran Anak ke Sekolah Berhubungan dengan MBG

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan adanya kaitan antara kehadiran anak ke sekolah dengan Masalah Balita Gaptek (MBG). Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah) pada sebuah kegiatan rutin yang digelar kemarin.

Dalam sambutannya, Mendikbudristek menjelaskan bahwa MBG merupakan fenomena yang semakin memprihatinkan di kalangan balita dan anak-anak usia sekolah. Menurutnya, anak-anak yang jarang menghadiri kegiatan belajar mengajar di sekolah cenderung lebih rentan terhadap dampak negatif dari MBG.

Pengertian MBG dan Dampaknya

MBG atau Masalah Balita Gaptek merujuk pada kondisi di mana anak-anak mengalami keterlambatan dalam pengembangan kognitif, motorik, dan bahasa akibat terlalu lama terpapar dengan perangkat elektronik. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada balita, tetapi juga pada anak-anak usia sekolah yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game atau menonton video di ponsel pintar atau tablet.

Menurut data yang dirilis oleh Kemendikbudristek, angka MBG di Indonesia meningkat signifikan sejak pandemi Covid-19. Dari survei yang dilakukan pada 2022, ditemukan bahwa sekitar 35% anak-anak usia PAUD dan 28% anak SD mengalami gejala MBG. Angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2019 yang hanya sekitar 18% untuk PAUD dan 12% untuk SD.

Faktor Penyebab Keterlambatan Kehadiran ke Sekolah

Salah satu faktor utama yang menyebabkan anak-anak terlambat hadir ke sekolah adalah pengaruh media digital. Orang tua seringkali memberikan ponsel atau tablet kepada anak sebagai alat untuk menenangkan atau mengalihkan perhatian anak. Akibatnya, anak menjadi terbiasa dengan stimulus digital yang instan dan kurang memiliki interaksi sosial langsung.

Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi pembeda. Anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah cenderung memiliki akses terbatas terhadap perangkat elektronik, namun justro lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah tanpa pengawasan yang memadai. Sebaliknya, anak-anak dari keluarga berpenghasilan tinggi memiliki akses mudah terhadap gawai namun kurang mendapatkan interaksi dengan teman sebaya karena terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.

Dampak MBG terhadap Perkembangan Anak

Dampak MBG sangat signifikan terhadap perkembangan anak. Anak yang mengalami MBG cenderung mengalami kesulitan dalam berbicara, mengenal warna, bentuk, dan angka. Mereka juga cenderung lebih sulit untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan mengalami penurunan dalam kemampuan motorik halus dan kasar.

Kepala Sekolah SDN 1 Jakarta, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa guru-guru di sekolahan semakin kesulitan untuk mengajarkan anak-anak yang memiliki gejala MBG. "Kami sering menemukan anak-anak yang sulit untuk duduk tenang, fokus, dan mengikuti instruksi. Mereka juga cenderung mudah marah dan frustrasi ketika dihadapkan pada tugas yang memerlukan usaha," ujar Budi.

Untuk mengatasi masalah ini, Kemendikbudristek telah berencana untuk mengimplementasikan beberapa program. Pertama, penguatan kurikulum PAUD dan SD yang lebih menekankan pada aktivitas bermain dan interaksi sosial. Kedua, pelatihan bagi orang tua tentang pentingnya mengatur waktu layar dan memberikan stimulus yang tepat bagi anak.

Selain itu, pemerintah juga akan bekerja sama dengan pihak swasta dan komunitas untuk menyediakan ruang bermain interaktif di berbagai wilayah. Program ini bertujuan untuk memberikan anak-anak kesempatan untuk bermain bersama dan mengembangkan kemampuan sosial mereka.

Kesimpulan

Kaitan antara kehadiran anak ke sekolah dengan MBG menunjukkan perlunya peran aktif dari berbagai pihak dalam memastikan anak-anak tumbuh dan berkembang optimal. Orang tua, sekolah, dan pemerintah perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak yang sehat dan seimbang. Tanpa intervensi yang tepat, masalah MBG dapat berdampak jangka panjang terhadap masa depan generasi muda Indonesia.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Syahputra

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter