Menikmati Jeda Internasional, I Made Andhika Wijaya Digembleng sang Ayah di Pantai Sanur
Pesepak bola nasional Indonesia, I Made Andhika Wijaya, memanfaatkan masa jeda kompetisi internasional untuk tetap menjaga kebugaran sekaligus memperdalam pemahaman taktik sepak bola bersama sang ayah. Latihan tersebut dilakoni pemain kelahiran Denpasar itu di kawasan Pantai Sanur, Bali, yang memang menjadi arena latihan sejak ia masih anak-anak.
Andhika merupakan pemain yang kini memperkuat salah satu klub Liga 1 dan pernah menjadi bagian tim nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai full back yang memiliki kemampuan bertahan sekaligus menyerang. Meski sedang berada di luar agenda pertandingan internasional, ia memilih untuk tidak menganggur dan justru kembali ke akar pembinaannya.
Sanur, Laboratorium Latihan Sejak Kecil
Pantai Sanur bukan sekadar tempat berlibur bagi Andhika. Sejak usia dini, ia mengaku sering diajak sang ayah untuk berlatih di hamparan pasir di kawasan pantai tersebut. Latihan meliputi fisik, dribel, hingga pengambilan keputusan dalam situasi satu lawan satu. Pasir yang tidak rata menjadi medan alami untuk melatih keseimbangan, kekuatan kaki, dan kelincahan tubuh.
Sang ayah berperan sebagai pelatih pribadi yang disiplin. Menurut pemain yang akrab disapa Andhika itu, ayahnya tidak hanya berbicara soal teknik, tetapi juga soal kedisiplinan, gizi, dan mentalitas. Kebiasaan itu terus terbawa hingga dirinya menjalani karier profesional.
Masa jeda kompetisi membuat Andhika memiliki waktu lebih panjang bersama keluarga. Ia memanfaatkan waktu itu untuk menjalani program latihan mandiri yang dirancang bersama pihak tim. Latihan di pantai digabungkan dengan sesi di pusat kebugaran dan sesi taktik ringan bersama pelatih pribadi.
Disiplin Mandiri Selama Jeda
Menjeda penampilan di panggung internasional bukan berarti beristirahat total. Bagi pemain profesional, jeda justru menjadi kesempatan untuk memperbaiki kelemahan dan menambah kekuatan. Andhika menyadari bahwa persaingan di posisinya cukup ketat, baik di level klub maupun tim nasional.
Ia menyebut latihan di Pantai Sanur dilakukan hampir setiap pagi dengan durasi sekitar satu hingga dua jam. Materi latihan mencakup lari interval, latihan sprint di pasir, latihan reaksi, hingga permainan kecil bersama pemain lokal. Selain menjaga kebugaran fisik, aktivitas itu juga menjadi sarana menjaga sentuhan bola.
Dari sisi gizi, sang ayah turut mengawasi pola makan. Menu harian disusun agar tetap sesuai kebutuhan atlet, dengan karbohidrat cukup, protein memadai, serta asupan air yang terjaga. Ibadah dan istirahat juga tetap diperhatikan karena pemulihan merupakan bagian penting dari latihan.
Peran Orang Tua dan Lingkungan Bali
Kisah Andhika menjadi gambaran bagaimana peran keluarga berpengaruh besar terhadap karier atlet. Lingkungan Bali yang memiliki banyak lapangan dan pantai dinilai memberi ruang tumbuh bagi pemain muda. Sejumlah nama pesepak bola nasional memang lahir dari Pulau Dewata dan menempuh pembinaan di sekolah-sekolah sepak bola lokal.
Pengamat olahraga menilai figur orang tua yang mendampingi sejak kecil bisa membentuk karakter pemain. Tanpa pendampingan yang konsisten, bakat besar sering kali hilang di tengah jalan. Dalam kasus Andhika, kedekatan dengan sang ayah menjadi fondasi yang menopang perjalanan kariernya dari kompetisi lokal hingga memperkuat timnas.
Meski begitu, perjalanan Andhika belum selesai. Ajang internasional berikutnya menanti dan posisinya di skuad belum menjadi jaminan. Kompetisi di klub menjadi tolok ukur utama apakah ia masih layak dipercaya pelatih tim nasional. Jeda saat ini pun dimaknainya sebagai persiapan menuju kompetisi yang akan berlangsung.
Target dan Persiapan Berikutnya
Andhika menyebut targetnya sederhana namun jelas, yaitu kembali ke kondisi terbaik dan membantu tim meraih hasil maksimal. Ia tidak menetapkan target pribadi yang berlebihan, tetapi menekankan pentingnya konsistensi performa di setiap pertandingan.
Dari sisi tim nasional, ia berharap dapat kembali mendapat panggilan bila performanya stabil. Persaingan di sektor pertahanan memang tidak mudah, karena sejumlah pemain muda terus muncul dengan kualitas menjanjikan. Namun, pengalaman bermain di level internasional menjadi nilai tambah bagi pemain yang sudah lama menekuni posisi bek sayap itu.
Sementara itu, sesi latihan di Pantai Sanur dipastikan akan terus berlanjut selama masa jeda belum berakhir. Sang ayah tetap mendampingi, memberi instruksi, sekaligus mengingatkan pentingnya disiplin dan rendah hati. Bagi Andhika, pantai itu bukan sekadar tempat latihan, melainkan pengingat akan awal mula perjalanannya menjadi pesepak bola profesional.
Dengan pendekatan latihan yang menyeluruh, mulai dari fisik, teknik, taktik, hingga mental, Andhika berharap bisa kembali tampil tajam saat kompetisi bergulir. Masa jeda internasional tidak ia habiskan untuk bersantai, melainkan untuk mengasah kemampuan demi menjaga tempatnya di persepakbolaan nasional.
Komentar (0)