30, 2026
Nasional

Misteri 8 Orang Hilang di Selat Sunda, BRIN Ungkap Kemungkinan Arah Hanyut

BRIN memetakan pergerakan 8 orang yang hilang yang 5 di antaranya berprofesi jurnalis foto di Selat Sunda pasca-erupsi Anak Krakatau.]]>

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Misteri 8 Orang Hilang di Selat Sunda, BRIN Ungkap Kemungkinan Arah Hanyut

Misteri 8 Orang Hilang di Selat Sunda, BRIN Ungkap Kemungkinan Arah Hanyut

Delapan orang dinyatakan hilang di perairan Selat Sunda sejak beberapa hari terakhir. Tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan analisis untuk mengetahui kemungkinan arah hanyut korban yang masih dalam pencarian. Informasi ini menjadi sorotan publik mengingat kondisi perairan Selat Sunda yang dikenal memiliki arus kuat dan berbahaya.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi BRIN, Dr. Surya Hendrawan, menjelaskan bahwa berdasarkan model arus yang mereka kembangkan, delapan korban yang hilang tersebut berpotensi hanyut ke arah barat daya menuju perairan Samudra Hindia. "Kita telah melakukan simulasi menggunakan model arus oseanografi berbasis data satelit. Hasilnya menunjukkan bahwa jika korban memasuki perairan Selat Sunda, kemungkinan besar mereka akan terbawa arus ke arah barat daya," ujar Dr. Surya dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan BRIN.

Kondisi Perairan Selat Sunda yang Berbahaya

Selat Sunda merupakan salah satu jalur pelayaran internasional yang cukup rawan. Perairan ini memiliki arus yang relatif kuat, terutama pada musim barat (November-April) ketika angin barat daya bertiup kencang. "Arus di Selat Sunda bisa mencapai 2-3 knot, bahkan di beberapa titik bisa lebih cepat. Kecepatan ini cukup untuk membawa perahu atau kapal kecil dengan cepat menjauh dari titik kejadian," jelas Dr. Surya.

Selain itu, kondisi geografis Selat Sunda juga menyebabkan terjadinya fenomena eddy atau pusaran arus yang tidak menentu. "Pusaran arus ini bisa menyebabkan objek yang hanyut bergerak secara tidak teratur, sehingga sulit diprediksi dengan pasti arahnya," tambahnya.

Tanggapan Pihak Berwenang

Tim SAR yang terdiri dari TNI AL, Polri, Basarnas, dan unsur masyarakat terus melakukan pencarian di area yang diprediksi sebagai kemungkinan arah hanyut korban. Kapal patroli dan pesawat udara terlibat dalam operasi pencarian yang berlangsung 24 jam sehari.

Kepala Basarnas Bambang Soesilo menyatakan bahwa pihaknya masih optimis dapat menemukan korban hidup. "Kita terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi perairan. Selain itu, kita juga meminta nelayan di sekitar area tersebut untuk melaporkan jika menemukan sesuatu mencurigakan," ujarnya.

Berdasarkan data yang diperoleh, delapan orang yang hilang tersebut merupakan awalnya berada di atas perahu nelayan yang diduga terbalik akibat ombak tinggi saat cuaca buruk melanda. "Korban terakhir kali terlihat di koordinat sekitar 6.5 derajat lintang selatan dan 105 derajat buah timur. Dari titik inilah kita memulai pencarian," jelas Bambang.

Dampak Cuaca dan Musim

Menurut BMKG, kondisi cuaca di Selat Sunda saat ini masih dalam kategori tidak stabil. Angin kencap dan tinggi ombak masih menjadi ancaman bagi aktivitas pelayaran. "Kami mengimbau kepada para nelayan untuk tidak melaut saat kondisi cuaca buruk. Selain itu, mereka juga harus memastikan peralatan keselamatan lengkap sebelum berlayar," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Analisis BRIN menunjukkan bahwa musim barat yang sedang berlangsung saat ini memperparah kondisi perairan Selat Sunda. "Musim barat biasanya disertai dengan angin dan gelombang yang lebih tinggi. Ini tentu akan mempersempit area pencarian dan meningkatkan risiko bagi korban yang masih tersisa di perairan," tambah Dr. Surya.

Tantangan dalam Pencarian

Pencarian delapan orang hilang di Selat Sunda menghadapi berbagai tantangan. Pertama, luasnya area pencarian yang mencakup perairan Selat Sunda dan sekitarnya. Kedua, kondisi cuaca yang tidak menentu seringkali mengganggu operasi SAR. Ketiga, arus yang cepat dan tidak menentu membuat posisi korban sulit diprediksi.

"Kita menggunakan berbagai metode dalam pencarian, mulai dari visual observation, penggunaan radar, hingga sistem deteksi bawah air. Namun, tantangan terbesar tetap luasnya area dan kondisi perairan yang tidak menentu," jelas seorang anggota tim SAR yang tidak mau disebutkan namanya.

Sementara itu, keluarga korban masih menanti kabar harapan. Mereka terus berkoordinasi dengan pihak SAR dan memberikan dukungan moril bagi tim yang sedang berusaha mencari anggota keluarga mereka. "Kami masih optimis mereka akan ditemukan. Kami berdoa agar mereka selamat ditemukan," ucap salah seorang keluarga korban dengan suara penuh haru.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter