30, 2026
Nasional

Misteri Penemuan Tapir di Kebun Sawit Mesuji

Hesti Kusuma
Hesti Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Misteri Penemuan Tapir di Kebun Sawit Mesuji

Penemukan seekor tapir di tengah kebun sawit milik PT Raja Garuda Mas Mesuji di Kabupaten Mesuji, Lampung, pada Rabu (15/3) menjadi peristiwa yang mengejutkan. Hewan langka yang dilindungi undang-undang ini ditemukan dalam kondisi lemas dan terluka oleh para petugas kebun yang sedang melaksanakan patroli.

Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung, Irwan Nuryadi, penemuan ini merupakan yang pertama kalinya di wilayah tersebut. "Tapir spesies Tapirus indicus ini ditemukan oleh petugas kebun yang sedang melakukan rutinitas pengecekan di area perkebunan. Saat itu, hewan tersebut tampak kesakitan dan berada di dekat parit," ujarnya kepada wartawan, Kamis (16/3).

Tim BKSDA Lampung langsung turun ke lokasi untuk mengevakuasi hewan tersebut. Setelah diperiksa, tapir jantan berumur sekitar 10 tahun ini mengalami luka robek di bagian tubuhnya. "Kondisi fisiknya lemah, kemungkinan karena kekurangan gizi dan stres. Luka robeknya diduga akibat terkenal pagar atau benda tajam lainnya saat mencoba melolong dari kebun," jelas Nuryadi.

Evakuasi dan Perawatan

Setelah dievakuasi, tapir tersebut langsung dibawa ke Rumah Sakit Hewan (RSH) Taman Safari Indonesia Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Proses evakuasi memakan waktu sekitar 12 jam menggunakan mobil khusus yang dilengkapi dengan sistem pendingin untuk menjaga suhu tubuh hewan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Lampung, Haryono, mengatakan pihaknya masih menyelidiki bagaimana tapir bisa masuk ke area perkebunan yang dikelilingi oleh pagar tembok setinggi dua meter tersebut. "Kami menduga ada ruang yang terbuka atau mungkin hewan ini berhasil melompati pagar. Tapir merupakan hewan yang pandai bersembunyi dan memiliki kemampuan berenang," katanya.

Kondisi Habitat Tapir di Lampung

Tapir merupakan hewan herbivora yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Di Pulau Sumatera, populasi tapir terancam punah akibat hilangnya habitat dan perburuan liar.

Menurut data World Wildlife Fund (WWF), populasi tapir Sumatera saat ini hanya tersisa sekitar 2.500 ekor di alam liar. Hewan ini tersebar di beberapa kawasan konservasi seperti Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Way Kambas.

Irwan Nuryadi menambahkan bahwa penemukan tapir di area perkebunan menunjukkan bahwa habitat asli hewan tersebut semakin menyempit. "Ini adalah indikasi bahwa ekosistem di sekitar area perkebutan terus terdegradasi. Tapir terpaksa keluar dari habitatnya mencari ruang hidup baru," jelasnya.

Koordinasi Pihak Terkait

Pihak PT Raja Garuda Mas Mesuji yang menaungi kebun tempat penemuan tapir telah menyatakan akan bekerja sama penuh dengan pemerintah dan BKSDA Lampung dalam penyelidikan dan upaya pelestarian hewan langka ini. "Kami meminta maaf atas kejadian ini dan akan meningkatkan pengamanan di area perkebunan untuk mencegah hal sering terjadi," kata Juru Bicara PT RGM Mesuji, Ahmad Fauzi.

Sementara itu, Koordinator Program WWF Indonesia untuk Lampung, Rudi Putra, mengapresiasi langkah cepat BKSDA Lampung dan Taman Safari Indonesia dalam menangani kasus ini. "Kami mendukung penuh upaya pemulihan tapir ini dan berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih menjaga kelestarian hewan langka," ujarnya.

Tapir yang berhasil diselamatkan ini diperkirakan butuh waktu minimal tiga bulan perawatan di Taman Safari Indonesia sebelum bisa dilepas kembali ke habitat alamnya. "Kami akan menyiapkan area rehabilitasi yang sesuai sebelum memutuskan untuk memulangkan tapir ini," kata drh. Iwan Setiawan.

Penemuan tapir di kebun sawit Mesuji ini kembali menyoroti pentingnya konservasi habitat hewan langka di Indonesia. Pemerintah dan perusahaan perkebunan diimbau untuk lebih memperhatikan aspek lingkungan dalam setiap kegiatan operasional demi menjaga kelestarian ekosistem di Tanah Air.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Kusuma

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter