05, 2026
Olahraga

'Musuh Ronaldo Egonya Sendiri'

Konflik Cristiano Ronaldo di Timnas Portugal disorot tajam legenda Prancis Bixente Lizarazu. Dia menilai CR7 punya ego besar yang mencoreng dirinya sendiri.]]>

Kirana Kusuma
Kirana Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

'Musuh Ronaldo Egonya Sendiri'

EGO Cristiano Ronaldo kembali menjadi sorotan setelah insiden kontroversial dalam laga lanjutan Liga Arab Saudi antara Al Nassr dan Al Hilal. Pemain asal Portugal itu terlibat perselisihan dengan pemain lawan dan wasit pada menit-menit akhir pertandingan, sebuah momen yang dinilai banyak pengamat sebagai cerminan dari sifat egois yang telah lama melekat pada dirinya. Insiden itu bukan yang pertama, dan hampir pasti bukan yang terakhir, selama Ronaldo masih memilih untuk bermain di level kompetitif.

Dalam pertandingan yang berakhir dengan skor imbang tersebut, Ronaldo terlihat beberapa kali memprotes keputusan wasit dengan gestur berlebihan. Ia juga sempat adu mulut dengan bek Al Hilal, yang berujung pada pemberian kartu kuning bagi kedua pemain. Sejumlah rekaman ulang memperlihatkan bagaimana Ronaldo mengangkat tangan, menghentakkan kaki, dan berteriak ke arah bangku cadangan lawan. Pemandangan itu bukan hal baru bagi siapa pun yang mengikuti kariernya selama dua dekade terakhir.

Pola Perilaku yang Berulang

Sepanjang karier profesionalnya, Ronaldo memang dikenal sebagai pribadi yang kompetitif. Namun, garis antara kompetitivitas dan egoisme sering kali kabur. Di Manchester United, ia pernah beberapa kali meninggalkan stadion sebelum pertandingan usai ketika merasa tidak puas dengan keputusan manajer. Di Real Madrid, ia tercatat beberapa kali bersitegang dengan rekan setimnya sendiri di lapangan. Di Juventus, ia dikabarkan sempat berselisih dengan pelatih terkait taktik dan posisi bermain.

Yang membedakan Ronaldo dari pemain besar lain bukanlah keinginan untuk menang, melainkan cara ia mengekspresikan keinginan tersebut. Lionel Messi, rival abadi yang sering dibandingkan dengannya, cenderung menahan diri di tengah tekanan. Ronaldo justru sebaliknya. Ia hampir selalu ingin menjadi pusat perhatian, bahkan ketika performanya tidak sedang berada di puncak.

Pelatih Al Nassr, dalam konferensi pers usai pertandingan, berusaha meredam situasi. Ia menyebut Ronaldo sebagai pemain yang selalu haus kemenangan dan menilai insiden tersebut sebagai bagian dari dinamika pertandingan. Namun, pernyataan itu tidak sepenuhnya menutup kritik yang datang dari berbagai pihak, termasuk mantan pemain dan komentator yang menilai Ronaldo sudah seharusnya memberikan contoh lebih baik kepada pemain muda.

Bayang-Bayang Karier yang Menua

Di usia yang sudah melewati kepala tiga, Ronaldo menghadapi kenyataan yang tidak bisa dibendung: performanya menurun. Kecepatan dan kelincahan yang dulu menjadi senjata utamanya kini tidak lagi sama. Ia masih bisa mencetak gol, bahkan cukup banyak di Liga Arab Saudi, tetapi pengaruh keseluruhannya terhadap permainan tidak lagi seperti saat ia memenangkan Ballon d'Or lima kali.

Yang tersisa justru sisi egonya. Ketika kemampuan fisik menurun, ego sering kali menjadi kompensasi. Ronaldo terus menuntut bola, terus meminta peran utama, dan terus menunjukkan kekecewaan ketika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Perilaku ini, menurut beberapa pengamat, justru merugikan timnya sendiri. Al Nassr kerap terlihat bermain kurang seimbang karena terlalu banyak bergantung pada Ronaldo, sementara pemain lain tidak mendapat ruang untuk berkembang.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa hubungan Ronaldo dengan beberapa rekan setimnya tidak selalu harmonis. Ada yang merasa ia terlalu mendominasi ruang ganti, ada pula yang menganggapnya tidak mau menerima kritik. Klaim-klaim ini sulit diverifikasi, tetapi yang jelas, dinamika internal Al Nassr sering menjadi bahan pembicaraan media, dan nama Ronaldo hampir selalu ada di dalamnya.

Ketika Ego Menjadi Musuh Terbesar

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: sampai kapan Ronaldo akan terus membiarkan egonya mengendalikan dirinya? Ia telah mencapai hampir semua hal yang bisa dicapai seorang pesepak bola. Trofi, rekor, gelar individu, kekayaan, popularitas global—semuanya sudah ia raih. Namun, ia seolah tidak pernah puas. Ada semacam kebutuhan konstan untuk membuktikan bahwa dirinya masih yang terbaik, bahkan ketika realitas lapangan berbicara sebaliknya.

Ego memang bisa menjadi bahan bakar. Tanpa ego besar, Ronaldo mungkin tidak akan pernah mencapai level yang ia capai sekarang. Ego mendorongnya berlatih lebih keras, menjaga kondisi tubuh, dan menolak menyerah ketika orang lain sudah angkat tangan. Tetapi ego yang sama juga menjadi sumber masalah. Ia membuat Ronaldo sulit bekerja sama, sulit menerima peran yang lebih kecil, dan sulit mengakui bahwa usia telah mengubah segalanya.

Bagi Al Nassr, situasi ini menjadi dilema. Ronaldo tetap menjadi magnet komersial dan pemain dengan produktivitas gol yang tidak bisa diabaikan. Namun, ia juga membawa beban tersendiri bagi keseimbangan tim dan suasana ruang ganti. Selama Ronaldo belum mampu mengendalikan egonya, ia akan terus menjadi pemberitaan bukan hanya karena gol-golnya, tetapi juga karena tingkah lakunya.

Pada akhirnya, musuh terbesar Ronaldo bukanlah Messi, bukan pemain lawan, dan bukan pula wasit yang sering ia protes. Musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri. Jika ia tidak mampu menyesuaikan diri dengan realitas baru, warisannya sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah bisa ternoda oleh sederet insiden yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sepak bola akan selalu mengingat gol-golnya, tetapi juga akan mengingat bagaimana ia bersikap ketika segalanya tidak berjalan sesuai keinginannya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Kusuma

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter