27, 2026
Politik

Netanyahu Bisa Tumbang, Ini 4 Lawannya Berebut Kursi PM Israel Besok

PM Israel Netanyahu menghadapi tantangan dalam pemilu Israel, dengan rival berusaha mengakhiri dominasi politiknya di tengah konflik yang berkepanjangan.]]>

Nadia Kusuma
Nadia Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Netanyahu Bisa Tumbang, Ini 4 Lawannya Berebut Kursi PM Israel Besok

Netanyahu Bisa Tumbang, Ini 4 Lawannya Berebut Kursi PM Israel Besok

Israel berdiri di ambang perubahan politik signifikan setelah hasil pemilu menunjukkan kebuntuan antara koalisi sayap kanan yang dipimpin Benjamin Netanyahu dan oposisi berkoalisi sayap tengah-kiri. Dalam situasi yang langka ini, empat kandidat potensial bersaing untuk menggantikan Netanyahu sebagai Perdana Menteri Israel, menandai kemungkinan berakhirnya era 14 tahun kekuasaannya.

Koalisi Netanyahu Gagal Raih Mayoritas

Hasil pemilu menunjukkan bahwa koalisi sayap kanan dan ultra-ortokok yang dipimpin Netanyahu berhasil memenangkan 61 dari 120 kursi di parlemen. Namun, angka ini dianggap tidak cukup untuk memastikan kekuasaannya mengingat sejumlah anggota parlemen dari koalisinya menghadapi masalah hukum dan potensi desersi. Sementara itu, koalisi oposisi yang terdiri dari partai-partai tengah dan kiri memperoleh 59 kursi, dengan satu kursi masih dalam perhitungan ulang.

Situasi ini menciptakan kekosongan kekuasaan yang langka di Israel, di mana tidak ada satu pun blok politik yang berhasil mengamankan mayoritas mutlak untuk membentuk pemerintahan. Kondisi ini membuka pintu bagi empat figur politik utama untuk bersaing menggantikan Netanyahu.

1. Yair Lapid - Pemimpin Oposisi

Yair Lapid, pemimpin partai Yesh Atid dan Menteri Keuangan saat ini, menjadi kandidat utama dari oposisi. Lapid, mantan jurnalis yang menjadi politikus populer, berhasil memimpin koalisi tengah-kiri meraih hasil memuaskan dalam pemilu. Dengan gaya komunikasi yang moderat dan fokus pada isu ekonomi, Lapid diyakini memiliki peluang terbaik untuk membentuk pemerintahan koalisi luas.

Lapid telah menunjukkan kemampuannya untuk membangun koalisi selama masa pemerintahan transisi sebelumnya. Ia dikenal sebagai pragmatis yang siapa untuk bekerja dengan berbagai spektrum politik, meskipun tetap menentang kebijakan ekstrem sayap kanan Netanyahu. Jika berhasil, Lapid akan menjadi Perdana Menteri Yahudi non-religious pertama sejak Ehud Olmert.

2. Naftali Bennett - Potensi Raja Pembuat Kompromi

Naftali Bennett, pemimpin partai Yamina dan mantan Menteri Pertahanan, mengejutkan banyak orang dengan posisinya yang kini menjadi penentu dalam pembentukan pemerintahan. Meskipun awalnya mendukung Netanyahu, Bennett kini mempertimbangkan untuk bergabung dengan koalisi oposisi sebagai jalan tengah untuk menggulingkan Netanyahu.

Bennett, mantan komandan unit elit Israel dan pengusaha teknologi, dikenal sebagai figur sayap kanan namun pragmatis. Ia telah menunjukkan kesediaan untuk membuat kompromi demi stabilitas negara, yang membuatnya menjadi kandidat potensial untuk memimpin pemerintahan persatuan nasional. Jika Bennett bergabung dengan Lapid, mereka akan memiliki 60 kursi - hanya satu kursi kurang dari mayoritas mutlak.

3. Gantz - Pemimpin Biru Putih

Benny Gantz, pemimpin partai Blue and White dan mantan Kepala Staf Umum Angkatan Pertahanan Israel, menjadi kandidal ketiga dalam perburukan kekuasaan. Meskipun partainya hanya memperoleh delapan kursi, pengaruh Gantz dalam politik Israel tetap signifikan terutama di kalangan militer dan elit bisnis.

Gantz awalnya menolak bekerja sama dengan Netanyahu tetapi kemudian bergabung dalam pemerintahan persatuan selama konflik Israel-Palestina tahun 2021. Kini, ia kembali menjadi penentu dengan posisi di antara Lapid dan Bennett. Gantz mungkin memainkan peran krusial dalam memutuskan apakah akan mendukung pemerintahan sayap tengah atau tetap berada di luar koalisi.

4. Mansour Abbas - Pemimpin Arab-Israel

Mansour Abbas, pemimpin partai United Arab List, menjadi kandidal keempat yang tidak terduga namun penting dalam persaingan ini. Dengan empat kursi, partai Arab-Israel menjadi penentu dalam persaingan sempit ini.

Abbas telah menunjukkan kemampuannya untuk menekan kebijakan yang mendukung komunitas Arab Israel sambil tetap bekerja sama dengan pemerintahan kanan. Ia telah menghindari langkah radikal dan memilih pendekatan pragmatis untuk mendapatkan keuntungan bagi konstituennya. Jika ia memutuskan untuk mendukung koalisi Lapid-Bennett, hal itu akan menjadi sejarah karena pertama kalinya partai Arab mendukung pemerintahan non-kanan sejak 1992.

Tantangan di Depan

Siapapun yang menjadi Perdana Menteri berikutnya akan menghadapi tantangan besar dalam membangun koalisi yang stabil di parisi yang terfragmentasi. Isu utama yang harus dihadapi termasuk konflik Israel-Palestina, hubungan dengan Iran, masalah ekonomi pasca-pandemi, dan integrasi komunitas ultra-Ortodoks dalam masyarakat Israel.

Bagi Netanyahu, kekalahan akan menandai akhir dari karir politik yang panas dan kontroversial, sementara bagi Israel, perubahan kepemimpinan ini bisa membawa arah baru bagi kebijakan domestik dan luar negeri. Dengan empat kandidal utama dalam perburukan ketat, masa depan politik Israel masih dalam garis tipis.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Kusuma

Fokus pada kesehatan anak, imunisasi, dan tumbuh kembang.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter