19, 2026
Nasional

Nezar Patria Bongkar Tantangan Humas di Era AI: Bukan Lagi Soal Akses, tapi Kedalaman Informasi

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/18/6ad3afb3e1ccc-wamenkomdigi-nezar-patria-konvensi-humas-indonesia_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Galih Pratama
Galih Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Nezar Patria Bongkar Tantangan Humas di Era AI: Bukan Lagi Soal Akses, tapi Kedalaman Informasi

Menjelang perayaan Hari Humas Nasional yang ke-57, Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengungkap tantangan yang dihadapi profesi humas di era digital khususnya dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi terkait akses informasi, melainkan bagaimana memastikan kedalaman dan kualitas informasi yang disampaikan kepada masyarakat.

Dalam sambutannya pada Konvensi Humas Indonesia 2024, Nezar Patria menekankan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara informasi dikonsumsi dan disebarkan. "Dulu tantangan humas adalah bagaimana memberikan akses informasi kepada publik. Sekarang, tantangannya adalah bagaimana memastikan informasi yang kita sampaikan memiliki kedalaman dan kualitas yang dibutuhkan masyarakat," ujar Nezar.

Peran Kritis Humas di Masa Disrupsi Digital

Nezar Patria menjelaskan bahwa era AI telah membawa dampak signifikan pada ekosistem informasi. Dengan adanya generasi konten otomatis dan kemampuan AI untuk menghasilkan informasi dalam volume besar, peran humas semakin krusial dalam memfilter dan memvalidasi kebenaran data. "Kita tidak lagi berjuang untuk memberikan akses, tetapi untuk memastikan bahwa informasi yang diakses adalah informasi yang benar, berkualitas, dan bermanfaat," tambahnya.

Wamenkominfo ini menyoroti bahwa di tengah maraknya disinformasi dan misinformasi, profesi humas dituntut untuk menjadi penjaga integritas informasi. Humas tidak hanya sekadar perantara antara organisasi dan publik, tetapi juga menjadi penentu arah kebijakan komunikasi yang etis dan bertanggung jawab.

Kesiapan Profesi Humas Menghadapi AI

Dalam konvensi yang dihadiri oleh ratusan praktisi humas dari berbagai sektor ini, Nezar juga menyoroti pentingnya adaptasi profesi humas terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, humas harus mampu memanfaatkan AI sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi, bukan sebagai ancaman.

"AI bisa menjadi asisten bagi humas dalam menganalisis data, memantau media, bahkan menghasilkan draft konten. Namun, kreativitas, empati, dan kecerdasan emosional tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak bisa digantikan oleh mesin," ujarnya.

Nezar menambahkan bahwa pemerintah melalui Kemenkominfo terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas humas melalui berbagai program pelatihan dan pendidikan digital. Program-program ini bertujuan untuk membekali praktisi humas dengan keterampilan analisis data, komunikasi digital, dan pemahaman tentang etika di era AI.

Etika dan Tanggung Jawab dalam Komunikasi Digital

Salah satu poin penting yang disampaikan Nezar adalah pentingnya membangun etika komunikasi yang kuat di era digital. Menurutnya, kemudahan dalam menyebarkan informasi melalui platform digital menuntuk kehati-hatian dan integritas yang lebih tinggi dari praktisi humas.

"Setiap informasi yang kita keluarkan akan memiliki dampak yang jauh lebih luas dan cepat di era digital. Oleh karena itu, tanggung jawab kita sebagai humas semakin besar. Kita tidak boleh terjebak dalam kecepatan menyebarkan informasi pada mengorbankan kebenaran dan kelayakan konten," tegas Nezar.

Ia mencontohkan bahwa dalam situasi krisis, humas dituntus untuk memberikan informasi yang akurat dan terukur, bukan reaktif yang berpotensi menimbulkan kepanikan atau kesalahpahaman. "Komunikasi krisis di era AI lebih rumit karena informasi bisa berubah dan menyebar dengan cepat. Oleh karena itu, persiapan dan strategi komunikasi yang matang menjadi kunci," jelasnya.

Masa Depan Humas Indonesia: Antara Tantangan dan Peluang

Meski mengakui tantangan yang besar, Nezar Patria tetap optimis tentang masa depan profesi humas di Indonesia. Menurutnya, tantangan yang ada sebenarnya membuka peluang bagi humas untuk berkembang dan menunjukkan nilai tambah yang lebih signifikan.

p>"Humas di masa depan tidak hanya sekadar penyebar informasi, tetapi menjadi arsitek komunikasi yang memahami teknologi, data, dan perilaku publik. Mereka yang mampu menggabungkan keahlian komunikasi tradisional dengan pemahaman teknologi akan menjadi humas yang unggul," pungkasnya.

Dengan semakin kompleksnya tantangan komunikasi di era digital, peran humas semakin krusial dalam membangun kepercayaan publik dan menjaga stabilitas informasi. Di tengah maraknya AI dan teknologi digital, keahlian, integritas, dan etika menjadi fondasi utama yang harus dipegang teguh oleh setiap praktisi humas.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Pratama

Menulis tentang kesehatan lingkungan, polusi, dan gaya hidup hijau.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter