30, 2026
Politik

Pemerintah Kebut Rehab 4.992 Sekolah Terdampak Bencana Sumatra

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/09/23/6ab389e3eb7b5-mendagri-tito-karnavian-kiri-dan-mendikdasmen-abdul-muti-kanan_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Galih Pratama
Galih Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pemerintah mempercepat proses rehabilitasi terhadap 4.992 sekolah yang terdampak bencana di wilayah Sumatra. Percepatan ini menjadi perhatian utama karena menyangkut keberlangsungan kegiatan belajar mengajar bagi ratusan ribu siswa yang terdampak bencana hidrometeorologi maupun bencana geologis di sejumlah provinsi di Pulau Sumatra.

Ribuan Sekolah Terdampak di Berbagai Provinsi

Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah, sebanyak 4.992 sekolah mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan yang beragam, mulai dari rusak ringan, rusak sedang, hingga rusak berat. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di sejumlah provinsi di Sumatra, termasuk Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, serta wilayah kepulauan Bangka Belitung. Kerusakan mencakup bangunan ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, laboratorium, hingga fasilitas sanitasi dan sarana pendukung lainnya.

Selain kerusakan fisik bangunan, bencana juga berdampak pada hilangnya sejumlah dokumen administrasi sekolah, rusaknya perabot belajar, serta terputusnya akses jalan menuju sejumlah sekolah yang berada di daerah terpencil. Kondisi ini membuat sebagian siswa terpaksa belajar di tenda darurat, ruang sementara, atau bahkan menumpang di sekolah lain yang kondisinya masih layak.

Koordinasi Lintas Kementerian dan Pemerintah Daerah

Percepatan rehabilitasi dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, terutama Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, bersama pemerintah daerah. Koordinasi tersebut mencakup pendataan ulang kerusakan, verifikasi anggaran, serta penentuan skala prioritas berdasarkan tingkat kerusakan dan jumlah siswa yang terdampak.

Pemerintah daerah diminta segera menyusun rencana anggaran biaya perbaikan dan mengajukannya melalui mekanisme yang berlaku, baik melalui dana alokasi khusus, dana darurat bencana, maupun sumber pendanaan lain yang tersedia. Pemerintah pusat menekankan bahwa proses rehabilitasi tidak boleh tertunda terlalu lama karena berkaitan langsung dengan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Selain aspek fisik, pemerintah juga menyiapkan skema pemulihan psikososial bagi siswa dan guru yang terdampak bencana. Pendampingan psikologis dinilai penting karena banyak siswa mengalami trauma pascabencana yang dapat mengganggu proses belajar dan perkembangan emosional mereka.

Target Penyelesaian dan Tantangan di Lapangan

Pemerintah menargetkan rehabilitasi seluruh sekolah terdampak dapat diselesaikan secara bertahap sesuai tingkat kerusakan. Sekolah dengan kategori rusak berat menjadi prioritas utama, disusul sekolah dengan kerusakan sedang dan ringan. Namun, sejumlah tantangan di lapangan masih harus dihadapi, seperti kondisi geografis yang sulit dijangkau, cuaca ekstrem yang menghambat pekerjaan konstruksi, serta keterbatasan tenaga kerja dan material bangunan di daerah terisolasi.

Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan kembali sekolah dilakukan dengan standar bangunan tahan bencana. Hal ini penting agar sekolah-sekolah yang dibangun ulang tidak kembali rusak ketika terjadi bencana serupa di masa mendatang. Penerapan standar konstruksi yang lebih kuat, termasuk penataan drainase, penguatan struktur atap, serta penempatan lokasi bangunan yang lebih aman, menjadi bagian dari upaya mitigasi jangka panjang.

Dampak bagi Dunia Pendidikan

Rehabilitasi sekolah yang cepat dan tepat sasaran diharapkan dapat memulihkan kegiatan belajar mengajar secara normal. Sebelumnya, sejumlah sekolah terpaksa menerapkan sistem belajar bergilang, belajar daring terbatas, atau bahkan meliburkan siswa untuk sementara waktu karena ruang kelas tidak lagi layak digunakan.

Pemerintah menegaskan bahwa pendidikan merupakan layanan dasar yang harus tetap berjalan meskipun berada dalam situasi pascabencana. Karena itu, percepatan rehabilitasi tidak hanya menjadi persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut pemulihan layanan publik dan masa depan generasi muda di wilayah terdampak.

Masyarakat, termasuk komite sekolah dan orang tua siswa, diharapkan turut mengawasi jalannya proses rehabilitasi agar pelaksanaannya transparan, akuntabel, dan sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Dengan pengawasan bersama, pemerintah optimistis target rehabilitasi 4.992 sekolah terdampak bencana di Sumatra dapat terwujud sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Pratama

Menulis tentang kesehatan lingkungan, polusi, dan gaya hidup hijau.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter